Asas berdakwah Walisongo menurut KH. Mukhlisun, Magelang

Walisongo dikenal sebagai golongan yang menyebarluaskan dan mendakwahkan agama Islam di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Pada saat itu, agama Islam menyebar hampir di seluruh bagian pulau tersebut. Terdapat beberapa hal menarik terkait dengan metode dakwah yang digunakan oleh walisongo. Lihat nama-nama Walisongo.
Selain menggunakan kesenian dalam mendakwahkan agama sebagaimana dilakukan oleh Sunan Kalijaga, walisongo juga berpegang pada asas dakwah sebagai pedoman dalam usaha mereka.
KH Mukhlisun, pengasuh ponpes Sirojulmukhlisin, Payaman – Magelang Jawa tengah, Indonesia mengungkapkan tentang asas dakwah yang digunakan oleh wali songo lebih kurang 600 tahun yang lalu itu. Tulisan beliau dapat dilihat pada bagian halaman belakang kalender pesantren yang diedarkan oleh para santrinya.
Berikut merupakan beberapa asas dakwah tersebut yang dinukilkan beliau dari wasiat sunan kalijaga dalam kitabnya:
Yen wis tibo titiwancine kali-kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange mangka enggal – enggala tapa lelana njlajah desa milang kori patang sasi aja ngasik balik yen during olih pituduh (hidayah) saka gisti Allah
Artinya lebih kurang :
“Jika sudah tiba zamannya di mana sungai-sungai hilang kedalamannya (banyak orang yang berilmu yang tidak amalkan ilmunya), pasar hilang gaungnya (pasar orang beriman adalah masjid, jika masjid-masjid tiada azan, wanita-wanita hilang malunya (tidak menutup aurat dan sebagainya) maka cepat-cepatlah kalian keluar 4 bulan dari desa ke desa (dari kampung ke kampung), dari pintu ke pintu (dari rumah ke rumah untuk dakwah), janganlah pulang sebelum mendapat hidayah dari Allah SWT”
Dalam menjalankan dakwahnya, Walisongo berpegang pada sepuluh asas, diantaranya:
1. Sugih tanpa banda (kaya tanpa harta)
Artinya : jangan yakin pada harta, kebahagiaan dalam agama, dakwah jangan bergantung dengan harta
2. Ngluruk tanpa bala (menyerbu tanpa banyak orang/ tentera)
Artinya : jangan yakin dengan banyaknya jumlah kita, yakin dengan pertolongan Allah
3. Menang tanpa ngasorake (menang/unggul tanpa merendahkan orang)
Artinya : dakwah jangan menganggap hina musuh-musuh kita, kita pasti unggul tapi jangan merendahkan orang lain (jangan sombong).
4. Mulya tanpa punggawa (mulia tanpa anak buah)
Artinya : kemuliaan hanya dalam iman dan amalan agama bukan dengan banyaknya pengikut.
5. Mletik tanpa sutang (melompat jauh tanpa tanpa galah/ tongkat panjang)
Artinya : niat untuk dakwah ke seluruh alam, Allah yang berangkatkan kita bukan asbab-asbab keduniaan seperti harta dan sebagainya.
6. Mabur tanpa lar (terbang tanpa sayap)
Artinya : kita bergerak jumpa umat, dari orang ke orang, jumpa ke rumah-rumah mereka .
7. Digdaya tanpa aji-aji (sakti tanpa ilmu-ilmu kedigdayaan)
Artinya : kita dakwah, Allah akan bantu (jika kalian bantu agama Allah, maka pasti Allah akan tolong kalian dan Allah akan menangkan kalian).
8. Menang tanpa tanding (menang tanpa berperang)
Artinya : dakwah dengan hikmah, kata-kata yang sopan, akhlak yang mulia dan doa menangis-nangis pada Allah agar umat yang kita jumpai dan umat seluruh alam dapat hidayah, bukan dengan kekerasan.
Nabi saw bersabda yang maknanya lebih kurang : ‘Haram memerangi suatu kaum sebelum kalian berdakwah (berdakwah dengan hikmah) kepada mereka”
9. Kuncara tanpa wara-wara (menyebar/ terkenal tanpa gembar-gembur/ iklan-iklan dan sebagainya)
Artinya : bergerak terus jumpa umat, tidak perlu disiar-siarkan atau diumum-umumkan.
10 Kalimasada senjatane ( senjatanya kalimat iman yaitu syahadat)
Artinya : selalu mendakwahkan kalimat iman, mengajak umat pada iman dan amal salih. 
Demikian artikel tentang asas dakwah walisongo menurut KH Mukhlisun, Magelang, semoga bermanfaat.
Baca juga tentang kisah syekh Maulana Malik Ibrahim/sunan Gresik. []


1 Response to "Asas berdakwah Walisongo menurut KH. Mukhlisun, Magelang"

Anonim mengatakan...

Izinkanlah saya menulis / menebar sejumlah doa, semoga Allaah SWT mengabulkan, antara lain memulihkan kejayaan kaum Muslim, memberi kaum Muslim tempat yang mulia diakhirat (khususnya para anggota “Wali Songo”). Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Asyhaduu anlaa ilaaha illallaah wa asyhaduu anna muhammadarrasuulullaah

A’uudzubillaahiminasysyaithaanirrajiim

Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin,
Arrahmaanirrahiim
Maaliki yaumiddiin,
Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,
Ihdinashirratal mustaqiim,
Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladhaaliin

Aamiin

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, hamdan yuwaafi ni’amahu, wa yukafi mazidahu, ya rabbana lakal hamdu. Kama yanbaghi lii jalaali wajhika, wa ‘azhiimi sulthaanika.

Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaana Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ajma’iin.

Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaana Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ‘adada in’aamillaahi wa ifdhaalih.

Allaahumma innaa nas’aluka salaamatan fiddiini waddun-yaa wal akhirati wa ’aafiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wabarakatan firrizqi wa taubatan qablal mauti, wa rahmatan ‘indal mauti, wa maghfiratan ba’dal maut. Allahuma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil mauti, wannajaata minannaari wal ‘afwa ‘indal hisaab.

Allaahumma inna nas aluka husnul khaatimah wa na’uudzubika min suu ul khaatimah.

Allaahuma inna nas’aluka ridhaka waljannata wana’uudzubika min shakhkhatika wannaar.

Allaahummadfa’ ‘annal balaa-a walwabaa-a walfahsyaa-a wasy-syadaa-ida walmihana maa zhahara minhaa wamaa bathana min baladinaa haadzaa khaash-shataw wamin buldaanil muslimuuna ‘aammah.

Allaahumma ahlkil kafarata walmubtadi-‘ata walmusyrikuun, a’daa-aka a’daa-ad diin.

Allaahumma syatttit syamlahum wa faariq jam-‘ahum, wazalzil aqdaamahum.

Allaahumma adkhilnii mudkhala shidqiw wa-akhrijnii mukhraja shidqiw waj-‘al lii milladunka sulthaanan nashiiraa.

------(doa khusus untuk para anggota “Wali Songo”, semoga Allaah selalu mencurahkan kasih sayang kepada MEREKA).

ALLAAHUMMAGHFIRLAHUM WARHAMHUM WA’AAFIHIM WA’FU ‘ANHUM

ALLAAHUMMA LAA TAHRIMNA AJRAHUM WA LAA TAFTINNAA BA’DAHUM WAGHFIRLANAA WALAHUM

Ya Allaah, terimalah amal saleh kami, ampunilah amal salah kami, mudahkanlah urusan kami, lindungilah kepentingan kami, ridhailah kegiatan kami, angkatlah derajat kami dan hilangkanlah masalah kami.

Ya Allaah, tetapkanlah kami selamanya menjadi Muslim, tetapkanlah kami selamanya dalam agama yang kau ridhai – Islam, tetapkanlah kami selamanya menjadi umat dari manusia yang paling engkau muliakan – Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad Shallahu’alihi wa alihi wa shahbihi wa ummatihi, wa baraka wassallam.

Ya Allaah, percepatlah kebangkitan kaum Muslim. Pulihkanlah kejayaan kaum Muslim, Lindungilah kaum Muslim dari kesesatan terutama kemurtadan. Berilah kaum Muslim tempat mulia di akhirat.

Ya Allaah, jadikanlah Indonesia dan dunia Muslim tetap dimiliki kaum Muslim. Jadikanlah Indonesia dan dunia Muslim baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Jadikanlah dunia non Muslim dimiliki kaum Muslim. Jadikanlah musuh Islam ditaklukan orang Islam.

Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiina imaamaa.

Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaabannaar wa adkhilnal jannata ma’al abraar.

Rabbanaa taqabbal minna innaka antassamii’ul aliimu wa tub’alainaa innaka antattawwaaburrahiim. Washshalallaahu ‘alaa sayyidina wa nabiyyina wa maulaanaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam.

HASBUNALLAAH WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULA WANI’MAN NASHIIR.

Subhana rabbika rabbil ‘izzati, ‘amma yasifuuna wa salamun ‘alal anbiyaa-i wal mursaliin, walhamdulillahirabbil ‘aalamiin.

Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.



Indra Ganie - Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel