Cak Nun dan lengsernya Soeharto, "ORA JADI PRESIDEN, ORA PATHEKEN!"

shares |

Sarisejarah.com - Cak Nun dan lengsernya Soeharto, "ORA JADI PRESIDEN, ORA PATHEKEN!"

Masa Orde Baru runtuh pada 21 Mei 1998. Dimulai dengan serangkaian demonstrasi akibat kebijakan kenaikan harga BBM saat itu, serta melambungnya harga akibat krisis moneter, menyebabkan masyarakat tidak puas terhadap kinerja pemerintah.

Tokoh tokoh bangsa dari kalangan akademis dan budayawan turun ke jalan memimpin demonstrasi. kampus di sekitar Jakarta pun banyak yang terlibat dalam aksi demonstrasi.

Demonstrasi yang seringkali berujung kericuhan menyisakan kisah pilu dengan tewasnya empat mahasiswa trisakti yang kemudian dikenal sebagai pahlawan reformasi. Keadaan yang semakin genting, menyebabkan pemerintah bereaksi dengan mengadakan reshuffle kabinet. Namun usaha tersebut tidak berhasil merebut simpati masyarakat.
Puncak demonstrasi adalah dengan didudukinya gedung MPR oleh gelombang massa yang melakukan unjuk rasa.
Situasi yang semakin genting tersebut menyebabkan presiden Soeharto lengser keprabon.

Lengsernya Presiden Soeharto dari jabatannya menyimpan sebuah kisah menarik.

Sedikit pihak yang mengetahui, bagaimana seorang Soeharto secara tiba-tiba sempat terucap kalimat “ora jadi presiden, ora patheken” disela sela pidato penggunduran dirinya sebagai seorang Presiden.


Adalah tokoh semacam Cak Nun (Emha Ainun Najib) yang kata dan kalimatnya menginspirasi seorang “The Smiling General” itu. Dalam situasi yang begitu genting, pada tanggal 19 Mei 1998, Cak Nun bersama beberapa tokoh nasional lainnya seperti ; Cak Nur, Gus Dur, K.H. Ali Yafi, Prof Malik Fajar, Yusril Ihza Mahendra, K.H. Cholil Badowi, Achmad Bagja, K.H Ma’ruf Amin, melakukan pertemuan dengan presiden untuk merundingkan bagaimana proses turunya Soeharto agar tetap konstitusional, arif dan tidak menimbulkan gejolak ditengah situasi dan kondisi masyarakat yang begitu rentan terhadap kerusuhan. Hingga akhirnya, pada 21 Mei 1998, senyum kharismatik sang presiden berubah dengan mimik yang kecewa. Kharisma yang begitu memikat dalam waktu yang sedemikian singkat berubah menjadi wajah tegang, tanpa senyum. “….. Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945, dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan Pimpinan Fraksi-Fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan Pernyataan ini, pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998” Sontak, teriakan histeris mahasiswa dan massa demonstran menggema, seolah menang dalam pertempuran dan larut dalam haru kemenangan. Kepalan tangan berpadu teriak eforia kemenangan. Soeharto berhenti! hidup reformasi! Hari itu, sebuah rezim akhirnya tumbang - Orde Baru, mesti rela terganti dengan orde reformasi

Related Posts

0 Komentar: