Jerit Hati Soekarno tentang Romusha

shares |

Sarisejarah.com- Jerit Hati Soekarno tentang Romusha


Masa pendudukan Jepang membawa luka yang mendalam di hati masyarakat Indonesia. Salah satu isu yang santer diperbincangkan tentang kekejaman Jepang adalah tentang praktik kerja paksa yang disebut Romusha. Ironisnya, salah satu tokoh penggerak kerja paksa ini adalah Soekarno dimana beliau adalah satu dari sekian banyak tokoh bangsa yang dibebaskan sebagai tahanan Belanda oleh Jepang.

Ir. Soekarno dan kawan-kawan kemudian diminta untuk menggerakan pribumi supaya bersedia membantu Jepang. Ir. Soekarno bersama Drs. Moh Hatta, KH Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara ditunjuk sebagai pemimpin PUTERA (pusat tenaga Rakyat) bentukan Jepang.

Berikut merupakan pengakuan Soekarno tentang praktik kerja paksa zaman jepang. 

Romusha adalah catatan hitam seorang Sukarno. Ribuan bahkan ratusan ribu nyawa rakyat Indonesia yang begitu mencintai Bung Karno, mati dengan cara mengenaskan akibat sistem kerja paksa yang kejam zaman pendudukan Jepang. Ironis, karena justru Bung Karno yang ditugasi Jepang mendata dan “merayu” rakyatnya memasuki ranah kerja paksa yang mengerikan itu.

Bung Karno, dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, mengakui itu semua dengan hati remuk. Bung Karno tahu para romusha yang dikirim ke Burma, hampir 99 persen mati. Ada yang mati kelaparan, mati disiksa, mati dipenggal kepalanya, mati di dalam gerbong kereta tertutup yang berisi ribuan romusha. Mereka dipaksa bekerja hingga tinggal kulit pembalut tulang.

Inilah pernyataan Bung Karno tentang romusha: “Sesungguhnya akulah –Sukarno– yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Degn para wartawan, juru potret, Gunseikan –Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”


Bung Karno menjawab, ada dua jalan untuk bekerja (menuju Indonesia merdeka). Pertama dengan tindakan revolusioner, yang menurut Bung Karno, kita belum siap. Jalan yang kedua adalah dengan bekerja-sama dengan Jepang sambil mengkonsolidasikan kekuatan dan menantikan sampai tiba saatnya ia (Jepang) jatuh. Saya mengikuti jalan kedua. Begitu kata Bung Karno.

Tidak puas dengan jawaban Bung Karno, mahasiswa lain menimpali, “Tapi kenapa Bung Karno sampai hati memberikan rakyat kita kepada mereka?”

Jawab Bung Karno, “Dalam setiap perang ada korban. Tugas dari seorang Panglima adalah untuk memenangkan perang, sekalipun akan mengalami kekalahan dalam beberapa pertempuran di jalan. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan. Kita berada dalam suatu perjuangan untuk hidup….”

sumber: https://web.facebook.com/groups/260516470988572/


Related Posts

0 Komentar: