Para Pemberontak yang tewas oleh Regu Penembak

shares |

Mereka yang Tewas di Tangan Regu Penembak karena Terlibat Pemberontakan:
.
- Hukuman mati merupakan salah satu hukum yang diberlakukan di Indonesia. Hukuman ini berlaku untuk kasus pembunuhan berencana, terorisme, perdagangan obat-obatan terlarang, hingga kejahatan besar lainnya.

Sepanjang berdirinya Republik Indonesia, sering kali terjadi percobaan pemberontakan yang dilakukan kelompok tertentu. Tak jarang dari hasil jerih payahnya itu berujung pada eksekusi mati. Seperi yang terjadi kepada beberapa tokoh pemberontakan.

1. Kartosoewiryo:
Soekarmadji Maridjan Kartosoewirjo merupakan tokoh pemberontakan Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII). Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat semakin membulatkan tekadnya untuk membentuk Negara Islam Indonesia.

Kartosoewirjo kemudian memproklamirkan negara Islam Indonesia (NII) pada 7 Agustus 1949. Tercatat beberapa daerah menyatakan menjadi bagian dari NII terutama Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh. Pemerintah Indonesia kemudian bereaksi dengan menjalankan operasi untuk menangkap Kartosoewirjo.

Gerilya NII melawan pemerintah berlangsung lama. Perjuangan Kartosoewirjo berakhir ketika aparat keamanan menangkapnya setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962. Pemerintah Indonesia kemudian menghukum mati Kartosoewirjo pada 5september 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta.

2. DN Aidit

Dipa Nusantara (DN) Aidit merupakan salah seorang menteri dalam Kabinet Dwikora, sekaligus Ketua Central Committee (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dihukum mati oleh Jenderal Soeharto. Aidit dan PKI dianggap Pemerintah Orde Baru, bertanggung jawab atas Gerakan 30 September 1965 atau Gestapu.

Namun, Eksekusi mati Aidit yang tanpa proses hukum, hingga kini menimbulkan tanda tanya besar. Penangkapan DN Aidit, dilakukan pada 22 November 1965, pukul 23.00 WIB. Aidit diciduk dari tempat persembunyiannya, di dalam rumah Kasim alias Harjomartono, di Kampung Sambeng, Solo, Jawa Tengah.

Sesuai perintah Soeharto, Mayjen Yasir Hadibroto memerintahkan anak buahnya Mayor ST untuk mencari sumur tua yang kering. Setelah sumur yang diminta dapat, Aidit dibawa sejumlah regu tembak ke tempat itu. Sumur tua itu berada di tengah kebun pisang yang sangat lebat, jauh dari pemukiman penduduk. Saat itu, Aidit sudah tahu bahwa dirinya akan ditembak mati. Namun, dia masih berusaha untuk menggertak.

Bahkan, dengan santai Mayjen Yasir Hadibroto mengatakan, bahwa hari itu Aidit akan dihukum mati, di tempat seperti para Dewan Jenderal dihukum dan mayatnya dibuang ke dalam sumur tua di Lubang Buaya. Demikian akhir perjalanan salah seorang tokoh komunis terbesar di Asia Tenggara ini berakhir dengan tragis. Setelah tumbang berlumuran darah, jenazah Aidit dimasukan ke sumur tua di tengah kebun pisang.

3. Sjam Kamaruzaman

Kamaruzaman Sjam adalah anggota kunci dari Partai Komunis Indonesia yang telah dieksekusi karena bagian daripada kudeta 1965 yang lebih dikenal sebagai peristiwa G30S/PKI.

Di pengadilan Sjam sebagai saksi selama persidangan karena orang lain menuduh atau bertanggung jawab atas Gerakan 30 September, Sjam mengaku ia telah bertindak di bawah perintah Aidit. Ia dijatuhi hukuman mati pada tahun 1968, tetapi terus muncul sebagai saksi dalam berbagai masalah terkait, di mana ia terus mengungkapkan rincian lebih lanjut untuk menunda eksekusi. Dia akhirnya dieksekusi pada bulan September 1986.

Related Posts

0 Komentar: