Tradisi Rampogan macan

shares |

sarisejarah.com - “RAMPOGAN MACAN” : Tradisi Pembantaian Harimau dari Jawa kuno
artikel ini bersumber dari grup facebook "the lost history of Nusantara", silahkan bergabung ke grup tersebut.
Dahulu kala, ada sebuah tradisi jawa kuno yang saat ini sudah punah. Tradisi itu bernama “RAMPOGAN MACAN”. Nama tradisi ini kemungkinan berasal dari kata Rampog yang berarti “rayahan” atau “rebutan” dimana ratusan orang berebut untuk membunuh harimau, leopard dan sejenisnya menggunakan tombak serta senjata tajam lainnya. Awal pertama kali diadakannya Rampogan ini tidak jelas sejak kapan, ada yang memperkirakan sudah sejak zaman kuno hindu budha. Namun peninggalan sejarah dalam bentuk tulisan mencatat bahwa acara ini sering diselenggarakan pada abad 18 – 19. Pada awalnya sering dilakukan di Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta. Di Kesunanan Surakarta nampaknya sudah mulai ada sejak jaman Amangkurat II. Acara di laksanakan di alun – alun utara yang biasanya diadakan untuk menyambut tamu agung. Tamu agung ini biasanya adalah para pembesar kerajaan dan dari koloni Belanda.
Tercatat bahwa Paku Buwono X sangat gemar mengadakan acara Rampogan Macan ini. Macan dan hewan – hewan liar lainnya memang sengaja dipelihara dalam kandang – kandang di sudut alun – alun. Hewan liar ini adalah hasil buruan atau tangkapan dan nantinya akan dipagelarkan dalam acara Rampogan. Terdapat beberapa versi dalam tradisi rampogan macan ini. Pada awalnya yang sering diadu dalam Rampogan Macan ini adalah Macan dengan Banteng.
Foto Sejarah Nusantara.
Acara biasanya mulai dilaksanakan pada pagi hari dan puncak acara berupa pertarungan antara Macan dan Banteng pada siang hari. Awal acara pada pagi harinya adalah para pembesar datang dan berkumpul dan para prajurit bersiap – siap di tengah alun – alun dengan membentuk formasi mengelilingi arena pertarungan. Para prajurit lengkap dengan baju perangnya dan tombak panjang berbaris dalam 4 - 5 lapis barisan secara rapat. Para pembesar menyaksikan dari sebuah panggung yang dinamakan pagelaran. Sedangkan rakyat jelata dari berbagai lapisan dan etnis menonton berdesakan diluar arena dan seringkali sampai menaiki pohon – pohon agar dapat leluasa menyaksikan pertarungan.
Setelah semuanya siap maka kandang macan akan ditaruh di tengah arena dan seorang abdi dalem yang pemberani. Terkadang setelah kandang dibuka tidak serta merta sang macan akan segera mengamuk memasuki arena. Tak jarang sang macan malah bermalasan – malasan atau terheran – heran karena cahaya yang menyilaukan dan banyaknya manusia. Oleh karena itu biasanya prajurit akan menakut – nakutinya dengan api, tusukan tombak dan berbagai cara agar macan mengamuk. Begitu pula dengan banteng yang digiring ke alun – alun, agar ia mau mengamuk biasanya diberi dengan air campuran cabe rawit agar badannya kepanasan dan mengamuk.
Banteng yang gerakkannya kurang gesit dibanding macan ini biasanya malah lebih sering memenangkan pertarungan karena badannya yang lebih besar dan tanduk banteng biasanya dikerik lebih dahulu sehingga menjadi sangat runcing. Tak jarang pula sang macan dapat memenangkan pertarungan walau dengan luka – luka yang dideritanya. Walau begitu nasib sang macan akan sama saja pada akhirnya. Macan yang masih hidup akan di bunuh beramai – ramai dengan cara ditombak oleh prajurit yang ada. Macan yang berlari kesana kemari akan terus ditombak dari segala penjuru sampai akhirnya kelelahan dan kehabisan darah lantas mati. Namun tidak jarang sang macan dapat menembus barikade prajurit lantas lari keluar dari arena. Walau nampak menegangkan namun inilah momen yang sering dinanti-nantikan oleh masyarakat dalam tradisi rampogan macan ini. Momen-momen pemicu adrenalin ini diwarnai oleh macan yang lari secara liar tak tentu arah sedangkan para penonton yang ketakutan akan berlarian dalam situasi chaos kesegala penjuru sedangkan para prajurit akan terus mengejar sampai harimau yang kabur dapat dibunuh.
Foto Sejarah Nusantara.
Tercatat bahwa di Jawa Timur pada akhir abad ke 19, rampogan macan sering dilakukan di alun - alun kadipaten (kabupaten) yang diselenggarakan oleh para bupati. Rampogan Macan pada masa itu di daerah Jawa Timur nampaknya lebih mirip seperti pembantaian macan ketimbang pertarungan antara macan dan banteng. Tercatat kota Kediri dan Blitar yang paling sering mengadakan acara ini walau di kabupaten lain juga pernah mengadakannya. Disini walau sebagaian besar acara adalah sama seperti yang diadakan di Alun – alun Kraton namun bukan prajurit yang berhadapan dengan sang macan namun para pemberani dari berbagai kalangan baik priyayi maupun pembesar seperti lurah, demang, bekel dan lain – lain. Yang duduk dipanggung adalah Bupati dan Residen (pihak belanda). Acara biasanya dilakukan pada Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal atau orang Jawa menyebutnya Bakda. Disini macan biasanya bukan merupakan peliharaan sang Bupati namun lebih merupakan tangkapan para penduduk yang sering mengganggu atau memang sengaja dipersiapkan untuk acara ini. Biasanya pada bulan puasa para penduduk beramai - ramai menjebak harimau bila tidak memiliki tangkapan sebelumnya.
Kandang - kandang macan disini lebih rumit dalam hal pembuatannya dan cara membukanya mengingat macan yang ada di dalamnya adalah macan liar yang seringkali dalam kondisi stress dan gampang mengamuk. Kandang biasanya terbuat dari pohon aren dan ketika diletakkan di tengah alun – alun memiliki semacam tali yang bila ditarik akan langsung membuat kandang itu terbuka berantakan. Namun sebelumnya terdapat pengunci yang dibuka oleh seorang kepala desa yang disebut Gandek. Ia beraksi selayaknya abdi dalem di acara Rampogan ala Kraton.
Tradisi ini akhirnya berakhir pada sekitar tahun 1905 saat pemerintah belanda melarang acara rampogan macan untuk alasan yang belum diketahui. Selain itu populasi harimau Jawa yang semakin menyusut tajam membuat masyarakat sulit untuk mendapat tangkapan yang akan digunakan pada tradisi ini. Harimau Jawa pun akhirnya dinyatakan secara resmi punah pada 1996 dengan habitat terakhir di Taman Nasional Meru Betiri di Jember. Selain tradisi Rampogan Macan, perburuan besar - besaran terhadap harimau jawa oleh masyarakat dimana tidak adanya aturan yang melindungi perburuan serta makin terdesaknya habitat hidup harimau jawa juga merupakan salah satu faktor punahnya hewan buas endemic pulau jawa ini.

Related Posts

0 Komentar: