Prasasit Lempeng Emas di Situs Padang Candi Riau

shares |

Situs Padang Candi terletak di Dusun IV Betung / Botuang, Desa Sangau, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Lokasi secara astronomis situs berada pada koordinat 00° 39.578’ LS dan 101° 28.978’ BT. Situs ini berada di areal permukiman penduduk dan lahan pertanian yang ditanami palawija dan karet. Dekat situs mengalir Sungai / Batang Salo yang masih merupakan DAS Batang Kuantan. Beberapa tempat di wilayah Dusun IV Betung, Desa Sangau, dicurigai merupakan areal yang mengandung tinggalan arkeologis hal itu diindikasikan oleh banyaknya bata maupun pecahan bata dan batuan sedimen yang menunjukkan adanya bekas pengerjaan, serta temuan artefaktual lain oleh warga masyarakat baik di permukaan tanah maupun di bawah permukaan tanah sewaktu mereka menggarap lahannya.

Beberapa penelitian telah dilakukan di situs ini, baik oleh Balai Arkeologi Medan maupun Pemerintah Daerah Provinsi Riau bekerjasama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, berhasil mengungkapkan temuan –temuan yang cukup penting dari situs ini. Temuan-temuan tersebut antara lain susunan struktur bata yang mengindikasikan sebuah sisa bangunan yang cukup besar, pecahan –pecahan tembikar dan keramik asing , serta lempengan prasasti emas. Dari hasil analisa bentuk, meski hanya sekitar 25% saja dari seluruh temuan pecahan yang dapat diketahui bentuk asalnya. Pecahan tembikar yang ditemukan di situs ini terdiri dari tutup; kendi ; periuk dan tembikar jenis fine paste ware merupakan tembikar non local umumnya ditemukan dalam bentuk kendi.

Temuan yang cukup signifikan pada situs ini adalah temuan berupa prasasti lempengan emas. Prasasti ini berjumlah 2 buah ini ditemukan olah penduduk setempat ketika membangun fondasi rumah dalam bentuk gulungan. Prasasti pertama, berukuran panjang 8 cm , lebar 3 cm , tebal 1 mm bertulisan aksara Jawa Kuna dan berbahasa Sanskerta. Berdasarkan hasil pembacaan oleh epigraf Dr. Rita M.S., prasasti tersebut berisikan mantra-mantra agama Buddha (Soedewo , Ery ; 2009).

 
Gambar 6. Prasasti emas pertama
  Sumber : Taim ( 2011, p.1)

Lembar prasasti kedua yang ditemukan tidak jauh dari lembar pertama, tidak begitu dapat di baca karena kondisi huruf/aksaranya sudah tidak begitu jelas. Prasasti yang kedua ini ditemukan dalam kondisi tergulung ( sama seperti prasasti pertama) dan di tengah gulungan tersebut terdapat batu mulia (mirah?) yang sudah terbelah ( Eka Asih P. Taim, dkk:2010).

berdasar kajian paleografis ditarikhkan dari abad ke-9 hingga ke-10 M. Prasasti ini memuat 3 baris mantra Buddha formula ye te mantra yang berbunyi:
ye darmmā hetu pranawāh hetu teshā
tathāgato hyawaddatteshān ca yo
nirodha prabawādi mahāçramanah
Artinya: Keadaan sebab kejadian itu sudah diterangkan oleh Tathagatho (Buddha). Tuan maha tapa itu telah menerangkan juga apa yang harus diperbuat orang supaya dapat menghilangkan sebab-sebab itu.
Berdasarkan temuan prasasti ini, reruntuhan bangunan bata di Situs Padang Candi adalah sisa-sisa kompleks suatu percandian yang berlatar belakang agama Buddha. Untuk telaah lebih lanjut silahkan baca: “Prasasti Padang Candi: Tinjauan Epigrafis Temuan Data Tertulis dari Situs Padang Candi, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau” dalam Berkala Arkeologi “Sangkhakala” Vol. 16 No: 1 / 2013

sumber: link

Related Posts

0 Komentar: