Thursday, April 6, 2017

Legenda Situ Sangiang versi majalah Krido



Rakyat Kerajaan Sangiang heboh. Istana kerajaan yang terletak di Jawa Barat itu mendadak hilang beserta raja dan para pengawalnya. Berubah menjadi danau atau situ yang luas. Para penduduk berkumpul di pinggir situ. Beberapa menangis histeris memanggil-manggil Raja Sangiang yang mereka cintai, Sunan Talaga Manggung. Beberapa lagi berdebat, apa yang sebenarnya terjadi.
“Celaka, Dewa pasti sedang murka dan mengutuk kerajaan kita,” teriak seorang laki-laki.
“Nggak mungkin, Sunan Talaga Manggung itu raja yang adil dan bijaksana, kita semua mencintainya. Nggak mungkin Dewa murka padanya,” sanggah seorang perempuan muda sambil terus menangis.
“Lalu kenapa istana berubah menjadi situ seperti ini? Kemana perginya raja dan seluruh penghuni istana?” Orang-orang ramai bertanya-tanya. Wajah-wajah mereka ketakutan. Telah terjadi peristiwa jahat yang menimpa raja tercinta mereka. Namun peristiwa apakah itu tak ada seorang pun yang tahu.
Tiba-tiba muncul seorang pangeran gagah menunggang kuda yang tegap. Di belakangnya barisan kuda para pengawal. Orang-orang mengenali pangeran itu sebagai Patih Kerajaan Sangiang bernama Patih Palembang Gunung. Sang patih ini menantu dari Sunan Talaga Manggung. Dia menikah dengan putri raja yang bernama Ratu Simbar Kencana.
“Wahai rakyat Sangiang, tenanglah, kembalilah ke rumah kalian masing-masing. Aku dan para pengawal akan menyelidiki apa yang terjadi. Kemana dan kenapa raja menghilang.” Patih Palembang Gunung berpidato dengan lantang dari atas kudanya. Rakyat pun mulai tenang dan kembali ke rumah mereka masing-masing.
Hari berlalu, istana Kerajaan Sangiang beserta rajanya tak juga kembali. Akhirnya Patih Palembang Gunung naik tahta menjadi Raja Kerajaan Sangiang, sampai Raden Panglurah yang sedang bertapa di Gunung Bitung turun gunung. Raden Panglurah ini putra pertama Sunan Talaga Manggung, putra mahkota Kerajaan Sangiang. Pangeran yang gemar menuntut ilmu dan menyepi untuk memperdalam ilmunya.
Sementara itu, lagi-lagi rakyat Kerajaan Sangiang gempar.  
“Ada orang gila … awas ada orang gila!” Anak-anak bersorak mengiringi sosok laki-laki kumal yang mengoceh sendiri tak henti. Bau tak sedap tercium dari badannya.
“Jangan tangkap aku! Ampun Dewa … ampun Sunan,” teriak si laki-laki gila sambil menggigiti kuku-kuku tangannya.
 “Itu bukannya Centang Parang, ya? Pengawal pribadi yang sangat dipercayai Raja?” bisik seorang laki-laki pada kawannya.
“Hah, masa sih? Gak ikut hilang ya dia teh sama raja?” sangkal temannya tak percaya.
 “Aku Centang Parang, hanya aku yang bisa mengambil tumbak sakti kepunyaan Sunan,” bisiknya bangga penuh rahasia. “Ampun Sunan, aku gak mau membunuhmu tapi Patih memaksaku, huhuhu ….” Centang Parang lalu menangis. Orang-orang kaget mendengarnya. Kemudia mereka berusaha mengorek keterangan dari Centang Parang, mungkin dia tahu kenapa istana dan raja berubah menjadi danau.
“Tanya saja pada Patih Palembang Gunung! Dia tahu kenapa raja dan istananya menghilang,” kata Centang Parang ketus. Dia terus berteriak dan menggigiti anggota badannya. Sungguh malang nasib orang kepercayaan raja ini, karena berkhianat dia menjadi gila. Tak lama dia pun meninggal dalam keadaan mengenaskan.
Bisik-bisik berhembus kalau Patih Palembang Gunung yang menjadi dalang dari menghilangnya Sunan Talaga Manggung. Ratu Simbar Kencana pun mendengarnya. Putri Raja Sangiang ini pun lalu menyelidiki suaminya. Alangkah terpukulnya Ratu Simbar Kencana ketika kebenaran itu terkuak.
Ternyata sebelum menghilang, Sunan Talaga Manggung terluka, pinggang sebelah kirinya terkena tumbak. Centang Parang yang melakukannya atas suruhan Patih Palembang Gunung. Sang Patih sangat bernafsu menjadi Raja Kerajaan Sangiang. Dia lalu menyusun rencana jahat terhadap Sunan Sangiang. Ratu Simbar Kencana yang marah menghukum suaminya atas perbuatan jahatnya.
Ratu Simbar Kencana kemudian bertahta memerintah Kerajaan Sangiang sampai kakaknya pulang. Namun, Raden Panglurah menolak untuk menjadi raja. Raden Panglurah sangat sedih ketika mengetahui ayahanda tercintanya menghilang beserta istana kerajaannya.
“Aku hanya minta beberapa pengawal untuk menemaniku ke Situ Sangiang,” pinta Raden Panglurah pada adiknya. "Aku akan mencari ayahanda di sana."
Berhari-hari Raden Panglurah dan para pengawalnya mencari Sunan Talaga Manggung di sekitar Situ Sangiang bahkan sampai menyelam ke dalamnya. Malang tak dapat ditolak, Raden Panglurah dan beberapa pengawalnya yang menyelam tak lagi muncul ke permukaan situ. Raden Panglurah menghilang tanpa jejak seperti ayah yang sangat dicintainya.
Tak berapa lama Situ Sangiang dipenuhi ikan-ikan lele. Penduduk Sangiang meyakininya sebagai jelmaan dari Raden Panglurah dan para pengawalnya. Makanya tak ada seorang pun yang berani mengambil ikan-ikan itu. Sampai sekarang. Bila musim kemarau, air Situ Sangiang meluap, namun sebaliknya, bila musim hujan, airnya surut. Sungguh aneh dan ajaib!

Catatan:
Situ Sangiang terletak di kota Talaga, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Pada 24 Desember 1980, Situ Sangiang meluap dan menyebabkan banjir bandang yang menewaskan 200an jiwa. []
Sumber artikel : link

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah