Wednesday, January 11, 2017

Buddha dalam Sastra Hindu


Buddha dalam Sastra Hindu

Sang Buddha disebutkan dalam beberapa kitab Hindu, termasuk dalam hampir seluruh Purana. Bagaimanapun, tidak semuanya mengacu kepada orang (Buddha) yang sama, mengingat bahwa Buddha tidak hanya satu; beberapa di antaranya mengacu kepada orang lain, dan beberapa penyebutan kata "buddha" hanya berarti "seseorang yang memiliki buddhi." Kebanyakan dari penggunaan kata "buddha" tersebut mengacu kepada pendiri Buddhisme (Siddhartha Gautama).[3] Purana mendeskripsikannya dengan dua peran: menyebarkan ajaran palsu untuk menyesatkan kaum asura (makhluk sesat, penentang dewa) dan semacamnya, dan mengkritik pengorbanan binatang seperti yang sudah ditentukan dalam Weda.[4] Kitab Purana yang menyatakan Buddha termasuk dalam daftar awatara, yaitu:

Hariwangsa (1:41)
Linggapurana (2:71)
Naradapurana (2:72)
Padmapurana (3:252)
Bhagawatapurana (1:3:24) (2:7:37) (11:4:23)
Garudapurana (2:30:37) (3:15:26)
Wisnupurana (3:18)
Dalam kitab Purana, biasanya Buddha disebut sebagai awatara kesembilan di antara sepuluh awatara Wisnu. Seringkali Buddha disebut sebagai seorang yogi atau yogācārya, dan sebagai sanyasin (petapa). Biasanya ayahnya disebut Suddhodhana, sama dengan tradisi Buddhisme, sementara dalam kitab lainnya ayah Sang Buddha disebut Anjana atau Jina. Sang Buddha digambarkan sebagai sosok rupawan (devasundara-rūpa), dengan kulit putih atau merah pucat, dan memakai jubah merah atau merah-coklat.[5]

Dalam berbagai Purana, Sang Buddha dijelaskan sebagai seorang penjelmaan Wisnu yang turun ke dunia untuk menyesatkan kaum asura maupun manusia dari ajaran dharma Weda. Kitab Bhawishyapurana menyatakan sebagai berikut:

Pada masa ini, mengingat saatnya Zaman Kali (kegelapan), Dewa Wisnu menjelma sebagai Gautama, seorang Shakyamuni, dan mengajarkan dharma Buddha selama sepuluh tahun. Kemudian Shuddhodana memerintah selama dua puluh tahun, dan Shakyasimha selama dua puluh tahun. Pada tahap pertama Zaman Kali, jalan Weda dihancurkan dan seluruh pria menjadi umat Buddha. Orang-orang yang mencari perlindungan kepada Wisnu telah menjadi sesat.[6]

Menurut Wendy Doniger, Buddha awatara yang muncul dalam versi berbeda-beda dalam berbagai Purana mungkin menggambarkan usaha kaum Brahmanisme Ortodoks untuk memfitnah kaum Buddhis dengan menyamakan mereka dengan kaum asura (raksasa; makhluk sesat).[7] Helmuth von Glasenapp menghubungkan perkembangan ini dengan niat umat Hindu untuk menyerap Buddhisme dengan cara yang damai, baik untuk mengarahkan kaum Buddhis menuju Waisnawa maupun untuk menceritakan fakta bahwa tindakan bidah semacam itu dapat terjadi di India.[8]

Gautama Buddha sebagai awatara Wisnu[sunting | sunting sumber]

Buddha muncul sebagai salah satu awatara Wisnu yang tercatat dalam Purana. Dalam lukisan sepuluh awatara Wisnu ini, Buddha (di sebelah bawah) dilukiskan dengan banyak lengan.
Karena keragaman tradisi dalam agama Hindu, tidak ada sudut pandang tertentu atau kesepakatan tentang peran Sang Buddha yang resmi. Sudut pandang bahwa Buddha sebagai awatara yang menganjurkan tindakan tanpa kekerasan (ahimsa) masih menjadi kepercayaan populer di antara sejumlah organisasi Waisnawa masa kini, termasuk ISKCON.[9] Pada bagian Dasavatara sotra dalam Gita Govinda, seorang penyair Waisnawa mahsyur, Jayadeva Goswami (1200 M) memasukan Buddha di antara sepuluh awatara utama Wisnu dan menulis sebuah doa tentang Dia sebagai berikut:

Oh Kesawa (Wisnu)! Wahai Tuhan alam semesta! Wahai Dewa Hari, yang telah menjelma sebagai Buddha! Semua kemuliaan milik-Mu! Oh Buddha berhati penuh kasih, Engkau menentang penyembelihan hewan malang yang dilakukan menurut aturan Weda.[10]
Ada sekte Waisnawa di Maharashtra, yang dikenal sebagai Warkari, yang menyembah Dewa Witoba (juga dikenal sebagai Witala, Pandurangga). Meskipun umumnya Witoba dianggap sebagai manifestasi Kresna kecil, ada keyakinan yang mendalam sejak berabad-abad bahwa Withoba adalah suatu manifestasi Buddha. Banyak penyair suci Maharashtra (seperti Eknath, Namdev, Tukaram, dll.) secara eksplisit menyebutnya sebagai Buddha, walaupun banyak kaum neo-Buddhis (Ambedkari) dan sarjana barat yang cenderung menolak pendapat tersebut. Sosok Witoba sebagai awatara Wisnu mungkin telah disamakan dengan Buddha dalam upaya untuk mengasimilasi Buddhisme ke dalam tradisi Hindu. Ajaran Buddha juga telah dimasukkan dalam Waisnawa Warkari dan telah terintegrasi dengan filosofi tradisional Weda secara unik.

Salah satu kitab Hindu yang menyebutkan kehadiran Buddha sebagai penjelmaan Tuhan (Wisnu) adalah Bhagawatapurana. Dalam kitab tersebut diuraikan penjelmaan Tuhan dari zaman ke zaman dan kehadiran Sang Buddha disebut setelah kemunculan Balarama dan Kresna. Seperti yang disebutkan dalam kitab tersebut, Sang Buddha terlahir pada Zaman Kali (zaman kegelapan) untuk menyesatkan musuh para pemuja Tuhan:

tataḥ kalau sampravṛtte sammohāya sura-dviṣām । buddho nāmnāñjana-sutaḥ kīkaṭeṣu bhaviṣyati ॥

—Srimadbhagawatam (1:3:24)
Terjemahan
Maka, pada permulaan Kaliyuga [Dia] akan terlahir sebagai Buddha, putra Anjana, di Kikata (Bihar), untuk menyesatkan siapa saja yang menjadi musuh para pemuja Tuhan.
Stephen Knapp, penulis buku The Secret Teachings of the Vedas menyatakan bahwa sloka tersebut tidak akurat bila disimak secara harfiah, mengingat bahwa Siddhartha Gautama lahir di Taman Lumbini (Nepal), dan ibunya bernama Mahamaya. Sesungguhnya Siddhartha menjadi Buddha di Bodh Gaya, negara bagian Bihar. Ibunya wafat saat ia masih kecil sehingga ia diasuh neneknya, Anjana. Maka dari itu, prediksi dalam sloka dari Bhagawatapurana dapat dibenarkan.[11]

Menurut kepercayaan Hindu populer, pada zaman Kaliyuga, masyarakat menjadi bodoh akan nilai-nilai rohani dan kehidupan. Ada suatu kepercayaan bahwa pada kedatangan Sang Buddha, banyak brahmana di India yang menyalahgunakan upacara Weda demi kepuasan nafsunya sendiri, dan melakukan pengorbanan binatang yang sia-sia dan tiada berguna. Maka dari itu, Buddha muncul sebagai seorang awatara untuk memulihkan keseimbangan.

Gautama Buddha lahir sebagai Pangeran Siddhartha Gautama, putra Raja Suddhodana, sekitar abad ke-6 SM. Suddhodana sangat mengharapkan Siddhartha menjadi Cakrawarti (Maharaja Dunia), namun pikirannya dibayang-bayangi oleh ramalan petapa Kondanna yang mengatakan bahwa Siddhartha akan menjadi Buddha karena melihat empat hal: orang sakit, orang tua, orang mati, dan pertapa. Karena tidak mau anaknya menjadi Buddha, keempat hal tersebut selalu berusaha ditutupi olah Suddhodana. Ia tidak akan membiarkan sesuatu yang bersifat sakit, tua, mati, dan pertapa suci dilihat oleh Siddhartha. Siddhartha sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang Buddha sehingga ramalan pertapa Kondanna menjadi kenyataan. Keinginan Siddhartha untuk mendapat pencerahan (yang mengantarnya menjadi Buddha) terlintas ketika ia melihat empat hal tersebut. Pikirannya terbuka untuk mencari obat penawar sakit, tua, dan mati. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pertapa dan berkeliling mencari pertapa-pertapa terkenal dan mengikuti ajaran mereka, namun semuanya tidak membuat Siddhartha puas. Akhirnya ia menemukan pencerahan ketika bertapa di bawah Pohon bodhi di Bodh Gaya pada malam Purnama Sidhi bulan Waisak.

Oleh umat Hindu, Siddhartha dihormati dan diyakini sebagai salah satu penjelmaan (awatara) Wisnu. Dalam beberapa tradisi Hinduisme, Rama dan Kresna yang merupakan awatara juga dipuja sebagai dewa bahkan sebagai Tuhan, namun Sang Buddha yang juga merupakan awatara tidak dipuja dalam Hindu selayaknya awatara yang lain. Sang Buddha menolak diterapkannya lembaga kasta dan upacara-upacara dalam Weda, serta tidak mengakui kewenangan kitab Weda, sehingga ajaran Dia menjadi agama tersendiri.

Perspektif, opini, dan reaksi[sunting | sunting sumber]
Sejumlah tokoh revolusioner modern Hindu, termasuk Gandhi, telah terinspirasi oleh kehidupan dan ajaran Buddha dan reformasi yang diusahakannya.[12] Buddhisme mendapat perlakuan baik dalam gerakan Hindutva kontemporer, dengan dihormatinya Dalai Lama ke-14 dalam acara-acara Hindu, seperti Konferensi Hindu Dunia Vishva Hindu Parishad kedua di Allahabad pada tahun 1979.[13]

Aktivis Hindu modern yang menonjol, seperti Sarvepalli Radhakrishnan dan Vivekananda, menganggap Buddha sebagai guru kebenaran universal yang sama yang mendasari semua agama dunia.[14][15]

Banyak sarjana Hindu yang beranggapan bahwa agama Buddha dipandang sebagai "Brahmanisme yang direformasi",[16] dan banyak umat Hindu yang percaya bahwa agama Buddha, seperti halnya Waisheshika dan Lokayata, merupakan salah satu sekte dalam Sanatana Dharma. Menurut Sarvepalli Radhakrishnan, Buddha tidak menganggap dirinya sebagai seorang inovator, namun hanya seorang yang memperbaiki jalan Upanishad.[17]

B. R. Ambedkar, yang membangun kembali Buddhisme di India, menolak bahwa Buddha adalah penjelmaan Wisnu. Di antara 22 sumpah yang ia berikan kepada kaum neo-Buddhis, sumpah kelima berbunyi: "Saya tidak dan tak akan percaya bahwa Sang Buddha adalah penjelmaan Wisnu. Saya meyakini itu hanyalah sesat akal belaka dan propaganda palsu."[18]

Tahun 1999, dalam Masyarakat Maha Bodhi (lembaga umat Buddha Asia Selatan) di Sarnath, Jagadguru Sankaracharya, Jayendra Saraswati dari Kanchi matha dan Vipassana Acharya S. N. Goenka, memberikan pengumuman yang menyepakati tiga poin berikut ini setelah melakukan diskusi[19]:

Karena alasan tertentu beberapa sastra yang ditulis di India pada zaman dahulu menganggap Buddha sebagai reinkarnasi Wisnu dan berbagai anggapan keliru mengenai Dia, hal ini sangat tidak menyenangkan. Dalam upaya mengembangkan hubungan yang lebih akrab antara umat Hindu dan Buddha kami memutuskan bahwa apapun yang terjadi pada masa lalu mesti dilupakan dan keyakinan tersebut tidak boleh disebarkan.
Untuk menghapus kekeliruan ini selamanya kami mengumumkan bahwa baik Weda maupun Samana merupakan tradisi kuno di India (Wisnu termasuk tradisi Weda sedangkan Buddha termasuk tradisi Samana). Usaha yang dilakukan suatu tradisi untuk menunjukkan bahwa ia lebih mulia dibandingkan tradisi lainnya hanya memupuk kebencian dan sakit hati antara keduanya. Maka dari itu hal tersebut tidak boleh dilakukan untuk selanjutnya dan dua tradisi harus saling menghormati dan menghargai.
Siapa pun mampu mencapai derajat tinggi di masyarakat dengan cara melakukan perbuatan baik. Seseorang mendapat derajat yang buruk di masyarakat jika melakukan perbuatan buruk. Maka dari itu siapa pun yang melakukan perbuatan baik dan melenyapkan niat kotor seperti nafsu, amarah, kebodohan, ketamakan, kecemburuan, dan ego dapat mencapai derajat tinggi di masyarakat dan menikmati kedamaian dan kebahagiaan.
Kontradiksi dengan agama Hindu[sunting | sunting sumber]

Lukisan Parinirvana Sang Buddha, dihadiri oleh Dewa Sakra dan Brahma.
Meskipun ada pandangan dalam Hinduisme yang menganggap Buddha sebagai seorang awatara, kadangkala ajarannya bertolak belakang dengan agama Hindu dan dianggap sebagai suatu bentuk ateisme karena mengajarkan bahwa dunia tidak diciptakan oleh Tuhan Sang Pencipta. Meskipun agama Buddha meyakini adanya para dewa, namun para dewa tersebut bukanlah makhluk mahakuasa, tidak menciptakan alam semesta.[20] Meskipun ajaran Buddha menyatakan adanya Brahma, namun Brahma tersebut berbeda dengan Brahma dalam agama Hindu yang menciptakan alam semesta. Brahma dalam agama Buddha tidak hanya satu; mereka hanyalah suatu golongan dewa, seperti yang dijelaskan dalam Brahmajala Sutta. Ajaran Buddha juga mengakui adanya Sakra, atau pemimpin para dewa, sama seperti Indra (alias Sakra) dalam ajaran Hindu, namun karakteristik dan mitos keduanya berbeda.

Salah satu dari Mahayana Sutra, yaitu Lankavatara Sutra, berisi dialog antara Sang Buddha dengan Mahamati. Dalam dialog tersebut, Sang Buddha menyatakan bahwa konsep Tuhan yang berdaulat, atau Atman adalah imajinasi belaka atau perwujudan dari pikiran dan bisa menjadi halangan menuju kesempurnaan karena ini membuat kita menjadi terikat dengan konsep Tuhan Maha Pencipta. Kutipan dari sutra tersebut sebagai berikut:

Semua konsep seperti penyebab, suksesi, atom, unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh tertinggi, Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari pemikiran manusia.

Tidak, Mahamati, doktrin Tathágata dari rahim ke-Tathágata-an tidaklah sama dengan filosofi Atman.[21]
Ajaran Buddha tidak mengakui adanya Tuhan Sang Pencipta, sedangkan ajaran Hindu meyakini bahwa Tuhan menciptakan alam semesta. Selain itu, agama Hindu menganggap Buddha sebagai inkarnasi Tuhan. Pengikut filsafat Buddha tidak mengakui adanya makhluk, duniawi maupun surgawi, yang setara maupun lebih hebat daripada Siddhartha Gautama, yang dikenal sebagai Sang Buddha. Hal ini bertentangan dengan pandangan Hindu yang menganggap Buddha adalah penjelmaan dari Tuhan Yang Mahakuasa.

Tradisi Hindu menganggap ajaran Buddha sebagai salah satu ajaran nastika, tidak hanya karena menolak adanya Tuhan Sang Pencipta, namun juga tidak mau mengakui kewenangan kitab Weda.[22] Seperti yang tercatat dalam Cankki Sutta (Majjhima Nikaya), Sang Buddha berkata kepada sekelompok brahmana:

O Vasettha, para pendeta yang memahami sastra (Weda) tersebut seperti barisan orang buta yang terikat bersama-sama di mana orang yang pertama tidak melihat apapun, yang di tengah tidak melihat apapun, dan yang terakhir tidak melihat apapun.
Walpola Rahula, seorang rahib Buddhis menulis, "Selalu menjadi pertanyaan tentang tahu dan melihat, bukan meyakini. Ajaran Sang Buddha bersifat ehipassika, mengajak Anda untuk datang dan melihat, bukan datang dan percaya... Selalu melihat dengan pengetahuan atau kebijaksanaan, bukan meyakini dengan iman.[]

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah