Friday, October 14, 2016

Peran Penting Pesantren dan Dakwah Islam di Zaman Belanda


Peran Penting Pesantren dan Dakwah Islam di  Zaman Belanda



Berikut ini akan dipaparkan beberapa peran penting pesantren-pesantren pada zaman penjajahan Belanda dalam perjuangan kemerdekaan. Selain itu, juga dalam upaya pengkaderan para santrinya, sehingga meski dijajah ratusan tahun lamanya, pesantren masih saja tetap eksis, bahkan hingga sekarang ini masih terus berkembang.

Pada zaman Belanda, yang hampir semua segi kehidupan dijajah, dicurigai oleh Belanda, namun pesantren justru masih eksis di masjid-masjid. Bahkan, pesantren-pesantren tersebu malahan mengalamai perkembangan yang bagus.

Pemimpin Islam pada zaman itu memperkirakan jika Belanda hengkang dari Indonesia, maka agama tersebut akan surut, ditinggal oleh para pengikutnya. Tetapi apa yang terjadi? Nyatanya agama masih bertahan bahkan setelah peristiwa Gestapu/PKI, mereka (pesantren-pesantren) tersebut masih berkembang hingga saat ini.

Melihat fakta ini, apa kunci di balik keeksisan pesantren ini? Jawabannya adalah adanya KADER.
Pesantren-pesantren itu telah mempersiapkan kader-kader yang militan. Mereka menciptakan kader yang tahan banting, berpendirian kuat, kepribadian kokoh. Maka saat terjadi perubahan, gonjang-ganjing, para kader itu akan bertebaran dan pada saatnya mereka berkembang.

Penjajahan Belanda berlangsung selama 3,5 abad. Umat Islam pada zaman Belanda yang menjajah mereka selama 350 tahun dalam segala segi kehidupannya, politik, ekonomi, militer, hokum, social, dan lain sebagainya, Islam masih bertahan. Jumlah penduduk muslim di Indonesia lebih kurang masih 95% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Apa rahasianya? Sekali lagi, KADER.

Kemudian, pengkaderan pada saat itu hanyalah ada di pesantren. Jadi alangkah besarnya jasa pesantren untuk pengkaderan agama di zaman Belanda. Belanda keluar dari Indonesia tahun 1945, meski nyatanya setelah itu mereka dating lagi ke Indonesia dengan membonceng NICA, namun yang perlu dicatat adalah orang Islam di Indonesia masih 95%.

Pada zaman revolusi, yang berjuang di medan laga, mayoritas mutlak adalah para kiyai dan pengikutnya, santri-santrinya. Ada yang memperkirakan 75-80 % dan untuk ini diakui oleh musuh-musuh yaitu Belanda, Amerika, dan sebagainya.


Catatan: diceritakan dan dituturkan kembali secara lisan (Oral History)

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah