Sadako, Mitologi Hantu Jepang, dan Hari Perdamaian

shares |



Mendengar nama Sadako, yang seketika terbesit di pikiran adalah sosok hantu perempuan berrambut panjang dan berjalan merangkak. Ya, Sadako kadung dikenal sebagai sosok hantu dari Jepang. Sadako, dalam literatur-literatur pop Jepang sering digambarkan sebagai sosok mengerikan yang ditakuti lantaran kerap mengganggu.

Namun, tahukah Anda di balik cerita tentang Sadako yang digambarkan seagai sosok hantu yang menyeramkan, ternyata menyimpan sejarah yang tidak bisa dikatakan remeh. Sadako, adalah salah satu simbol perdamaian. Yang mengingatkan kembali betapa kejamnya perang.

Adalah Sadako Sasaki, seorang gadis kecil tak berdosa yang harus ikut merasakan pedihnya perang. Pada tanggal 6 Agustus 1945, ketika usianya menginjak dua tahun, anak yang cantik itu harus menerima kenyataan mendapati sekitar tempat tinggalnya, di dekat jembatan Misasa, Hiroshima, Jepang hancur oleh bom atom.

Sejak peristiwa itu, Sadako kecil tumbuh dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya setiap hari. Radiasi dari bom yang jatuh di sekitar tempat tinggalnya itu membuat tubuh mungilnya yang masih ringkih terdampak oleh efek bahayanya.

Sekian tahun setelah ledakan bom di Hiroshima, tepatnya pada November 1954, Sadako mengalami sakit luar biasa yang disertai dengan membengkaknya leher dan bagian belakang telinganya. Selang dua bulan setelah itu, gejala penyakit serius kembali muncul pada tubuh Sadako. Pada kedua kakinya, muncul bercak-bercak ungu. Sadako didiagnosa menderita penyakit leukimia. Darah yang mengalir pada diri Sadako kecil telah diserang oleh sel kangker.

Beberapa tahun setelah peristiwa pengeboman di Jepang, kasus leukimia meningkat dengan pesat. Terutama pada anak-anak. Hingga pada awal 1950-an semakin jelas bahwa banyaknya kasus leukimia merupakan efek radiasi bom yang jatuh di tempat tinggalnya.

Pada Februari 1955, Sadako mulai dirawat di sebuah rumah sakit di Jepang. Dokter yang merawatnya saat itu, memvonis bahwa Sadako hanya akan mampu bertahan hidup selama satu tahun lagi.

Kala itu Sadako bukan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa lagi. Usia Sadako sudah menjelag remaja. Ia tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Selain menanggung rasa sakit pada fisiknya, jiwanya juga terguncang mendengar vonis itu.

Suatu ketika, saat Sadako masih dirawat di rumah sakit, salah seorang sahabatnya yang bernama Chizuko Hamamoto datang menjenguknya. Chizuko memotong secarik kertas emas agar berbentuk persegi dan melipatnya menjadi burung bangau kertas. Chizuko menceritakan kepada Sadako sebuah cerita kuno di Jepang tentang burung bangau kertas. Bahwa siapa saja yang berhasil membuat seribu bangau kertas,  maka setiap permohonannyaakan dikabulkan.

Sadako yang mengerti usianya sudah tidak lama lagi, ternyata masih menyimpan harapan agar bisa hidup lebih lama lagi. Dia berusaha keras melipat kertas menjadikannya bangau kertas sebanyak seribu.

Kendatipun memiliki banyak waktu luang di rumah sakit, namun kertas bukan hal yang mudah didapatkan Sadako. Ia kekurangan kertas. Meski begitu ia tidak menyerah. Ia masih terus melipat menggunakan kertas obat dan kertas apa saja yang ditemuinya. Bahkan ia rela mengunjungi pasien di kamar lain demi mendapat kertas. Ia memohon izin untuk meminta kertas bingkisan dari pembesuk.

Kondisi Sadako semakin memburuk. Namun ia terus melipat. Pada pertengahan Oktober, kakinya membengkak dan berubah warna menjadi ungu.

Menjelang akhir hayatnya, Sadako tidak mau makan hingga membuat keluarganya memaksanya untuk makan. Sadako menyerah dan meminta makanan berupa nasi campur teh. Keluaranya menuruti.

Setelah makan makanan itu. Sadako mengomentari makanan yang baru saja ia santap. Ia berkata 'rasanya enak!'.

Komentar yang diucapkan Sadako itu rupanya adalah kalimat terakhirnya. Di sekeliling keluarganya, Sadako meninggal dunia pada 25 Oktober 1955 dalam usia 12 tahun.

Saat Sadako meregang nyawa, ia hanya sanggup melipat sebanyak 644 bangau kertas. Teman-temanya yang bersedih atas meninggalnya Sadako melanjutkan upaya Sadako dengan melipat bangau kertas hingga genap seribu. Bangau-bangau kertas itu selanjatnya turut dikuburkan bersama jasad Sadako.

Pasca kematiannya, tetamn-teman di sekolahnya dan sahabat Sadako menerbitkan kumpulan surat untuk menggalang dana demi pembangunan suatu monumen untuk mengenangnya dan seluruh anak yang meninggal dunia karena dampak bom atom.

Tahun 1958, sebuah patung berdiri. Patung itu adalah patung Sadako yang memegang burung bangau emas. Patung itu dipajang di Taman Monumen Perdamaian Hiroshima, yang juga disebut Genbaku Dome.

Pada bagaian bawah patung, terdapat tulisan berbunyi Kore wa bokura no sakebi desu. Kore wa watashitachi no inori desu. Sekai ni heiwa o kizuku tame no. Yang dalam bahasa Indonesia berarti Ini adalah seruan kami. Ini adalah doa kami. Untuk membangun kedamaian di dunia.

Patung Sadako juga terdapat di Taman Perdamaian Seattle. Sadako menjadi simbol dampak perang nuklir. Sadako juga merupakan pahlawan wanita bagi para gadis di Jepang. Kisahnya dituturkan di beberapa sekolah di Jepang saat peringatan serangan bom atom di Hiroshima. Sebagai dedikasi untuknya, rakyat Jepang memperingati tanggal 6 Agustus sebagai Hari Perdamaian.




Related Posts

0 Komentar: