Friday, August 12, 2016

Kisah mengharukan dibalik kebijakan Senering tahun 1959


Sarisejarah.com - Kisah mengharukan dibalik kebijakan Senering tahun 1959
Sanering adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat menurun.
Senering pernah dilakukan pada masa orde lama pada masa pemerintahan presiden Soekarno sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1950 dan tahun 1959. Senering yang pertama terjadi pada tanggal 30 Maret 1950, waktu itu pada masa Pemerintahan Presiden Sukarno, melalui menkeu Syafrudin Prawiranegara (Masyumi, Kabinet Hatta RIS) pada 30 Maret 1950 melakukan devaluasi dengan pengguntingan nilai uang. Syafrudin Prawiranegara menggunting uang kertas bernilai Rp5,00 ke atas, sehingga nilainya berkurang separuh. Tindakan ini dikenal sebagai "Gunting Syafruddin".
Adapun senering yang kedua terjadi pada tanggal 24 Agustus 1959,  saat itu pada masa Pemerintahan Presiden Sukarno melalui Menteri Keuangan yang dirangkap oleh Menteri Pertama Djuanda menurunkan nilai mata uang Rp10.000 yang bergambar gajah dan Rp5.000 yang bergambar macan, diturunkan nilainya hanya jadi Rp100 dan Rp50.

Kisah mengharukan dibalik kebijakan Senering tahun 1959  
Terdapat sebuah kisah menyentuh hati dibalik kebijakan senering tahun 1959 yang menimpa keluarga Bapak Mohammad Hatta, yang tak lain adalah wakil presiden RI. Yaitu, keinginan sang istri untuk membeli sebuah mesin jahit. Sebagaimana diketahui Bung Hatta merupakan sosok yang bersahaja, sederhana dan anti korupsi. Beliau seperti pantang menggunakan fasilitas negara, apalagi memanfaatkannya untuk memperkaya diri. Bahkan untuk membeli sebuah mesin jahit pun tidak bisa dilakukan begitu saja. Istri beliau - Rahmi Hatta- harus menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta.
Namun rencana membeli terpaksa ditunda, karena tiba-tiba saja pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp 100 menjadi Rp 1. Akibatnya, nilai tabungan yang sudah dikumpulkan Rahmi menurun dan makin tidak cukup untuk membeli mesin jahit.
Bung Hatta
Karena ikut terkena dampak adanya keputusan sanering tersebut, Rahmi kemudian bertanya pada suaminya kenapa tidak segera memberi tahu akan ada sanering. Dengan kalem Bung Hatta menjawab, itu rahasia negara jadi tidak boleh diberitahukan, sekalipun kepada keluarga sendiri.

Sampai-sampai, pernah suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang harus dibayarnya, karena mencekik leher. Menghadapi keadaan itu, Bung Hatta tidak putus asa. Dia semakin rajin menulis untuk menambah penghasilannya. Baginya, biarpun hasilnya sedikit, yang penting diperoleh dengan cara yang halal. Itu sebabnya, mengapa Bung Hatta mengembalikan sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat ke Swedia. Itu dilakukan, karena sepulang dari Swedia Bung Hatta mendapati bahwa uang tersebut masih bersisa, dan dia merasa itu bukan haknya.

Sungguh mengagumkan. Apa yang dilakukan Bung Hatta adalah karena dia ingin menjaga nama baik. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi nama baik bangsa dan negara. Dalam konteks itu pula, maka Bung Hatta pun tidak berusaha bekerja di berbagai perusahaan meski sebenarnya sangat memungkinkan. Dalam pandangannya, jika dia bekerja pada perusahaan, maka citra seorang mantan wakil presiden akan runtuh. Juga, jika dia menjadi seorang konsultan, maka sebenarnya dirinya sedang terjebak ke dalam bias persaingan usaha yang sarat dengan kepentingan.

Pemikiran yang luar biasa itulah yang dijalankan oleh Bung Hatta. Bung Hatta lebih memilih hidup sederhana demi menjaga nama baik bangsa Indonesia. Bung Hatta telah mengorbankan dirinya bagi negeri ini. Bung Hatta begitu hati-hati menggunakan kekuasaan.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semua. Salam
Baca kisah lainnya tentnag bung Hatta yang tak mampu membeli sepatu sampai akhir hidupnya []

1 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah