Latar Belakang munculnay G30 S PKI dan Akibat G30S PKI ditinjau dari berbagai teori

shares |

Sarisejarah.com - Latar Belakang munculnay G30 S PKI  dan Akibat G30S PKI ditinjau dari berbagai teori
Latar Belakang

G 30 S PKI adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September sampai 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha kudeta yang dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ribuan petani merampas tanah yang bukan hak mereka yang menyebabkan bentrokan-bentrokan besar terjadi antara polisi dan para pemilik tanah. Pada permulaan 1965, para buruh mulai menyita perusahaan-perusahaan karet dan minyak milik Amerika Serikat.



Munculnya Peristiwa G 30 S PK 

Peristiwa G30S yaitu peristiwa bersejarah di Indonesia yang paling sering disinggung untuk diluruskan sejarah. Alasannya dari peristiwa ini ada keterkaitan dengan permasalahan kenaikan Soeharto menjadi Presiden yang menggantikan Soekarno. Dan, setelah ia turun jabatan tuntutan-tuntutan yang meluruskan sejarah G30S bermunculan. Salah satunya yaitu muncul dari para korban politik sang Jenderal Besar semasa berkuasa. Ada tiga alasan yang bisa melatarbelakangi tuntutan tersebut. Pertama, mereka ingin membenarkan  apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa G30S. Kedua, mereka ingin membersihkan nama baik mereka dari stigma-stigma pemberian Orde Baru. Ketiga, orang-orang merasa sakit hati terhadap Soeharto, kemudian ingin membuka kedok siapa Soeharto, karena mereka mengutamakan balas dendam kepada Soeharto..

Muncul berbagai versi usulan untuk meluruskan peristiwa G30S ini. Dan juga permasalahan ini tidak terlepas dari yang ditulis oleh para ahli-ahlis sejarah. Peristiwa G30S bisa saja merupakan peristiwa sejarah yang paling banyak memiliki versi sejarah dibanding lainnya. Sedikitnya terdapat lima versi yang meluruskan apa yang sebenarnya terjadi dalam gerakan ini. 

Versi pertama adalah versi pemerintah Orde Baru. Versi ini adalah versi tunggal yang (harus) diakui dan ajarkan di sekolah sekolah. Menurut versi Orde Baru Peristiwa G30S adalah sebuah kudeta yang dilancarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap Pancasila.

Versi kedua adalah hasil dari Ben Anderson dan Ruth McVey (sejarawan Cornell University). Hasil penelitian mereka yaitu tepatnya dalam sebuah kertas kerja berjudul Prelimenary Analysis of the October 1, 1965; Coup in Indonesia (Cornell Paper). Ben Anderson, dkk., berkesimpulan bahwa peristiwa ini adalah  puncak konflik internal Angkatan Darat.

Versi ketiga yaitu dari Prof. Wertheim, seorang sejarawan Belanda, mendukung tesis dalam Cornell Paper yang juga menambahkan keterlibatan Sjam Kamaruzjaman sebagai agen rangkap/ganda (double agent) yang bekerja untuk PKI dan AD.

Versi keempat adalah versi yang ditulis John Hughes dan Antonie C Dake. Menurut mereka Soekarno adalah otak di balik gerakan ini. G30S adalah skenario yang dipersiapkannya untuk melenyapkan oposisi sebagian perwira tinggi AD. Tetapi pada akhirnya kesimpulan versi ini mendapatkan pertentangan keras dari keluarga Soekarno. 

Versi kelima berasal dari pandangan Peter Dale Scott yang berkesimpulan bahwa didalam permasalahan ini adanya keterlibatan pihak asing yang dituding kepada agen intelejen Amerika Serikat yaitu CIA yang merancang sebuah konspirasi dengan tujuan untuk menggulingkan kekuasaan Presiden Soekarno. CIA dianggap bekerja sama dengan sebuah klik Angkatan Darat untuk memprovokasi PKI.

Selain meninggalnya korban dari para perwira tinggi Angkatan Darat yang diculik, terjadi pula pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam G30S maupun simpatisan PKI. Jumlah manusia yang terbunuh pun diperkirakan mencapai ratusan ribu hingga jutaan jiwa. Setelah Soeharto berkuasa penuh atas kendali pemerintahan, Pemerintah Soeharto melakukan pembuangan terhadap tahanan-tahanan politik (tapol) ke Pulau Buru. Akibatnya juga dirasakan pula oleh keturunan mereka yang harus mengalami ketidakpastian hidup akibat menyandang cap sebagai anak eks-komunis atau tapol. Ketiga kejadian tersebut oleh Asvi Warman Adam disebut sebagai trilogi karya utama rezim Soeharto.

Yang jelas, di masa mendatang, versi pertama tampaknya harus ditinjau kembali, paling tidak dilengkapi dengan berbagai versi lainnya.

Secara garis besar, bahwa tragedi 1965 ini merupakan peristiwa yang menjadi titik awal lahirnya “Indonesia Baru”, yang berbeda dengan karakter bangsa Indonesia ketika didirikan. Semua akan dijelaskan dalam tulisan ini selanjutnya.

Peristiwa 1965 adalah puncak dari segala konspirasi yang telah dipersiapkan untuk menjatuhkan kekuatan politik bangsa ini. Akhir dari kisah Revolusi yang telah dikibarkan oleh Presiden Sukarno. Peristiwa gerkan ini tidak terlepas dari konteks Perang Dingin. Perang Dingin telah memecah dunia menjadi dua polar blok besar, yaitu blok blok barat (dipimpin Amerika Serikat ), dan blok timur (oleh Uni Soviet). Amerika Serikat dengan berideologi kapitalisme, sedangkan Uni Soviet yang berideolgi komunisme.

Peristiwa

Isu Dewan Jenderal
Pada saat-saat genting sekitar bulan September 1965 muncul isu adanya Dewan Jenderal, yang mengungkapkan bahwa para petinggi Angkatan Darat tidak puas terhadap Soekarno dan berniat untuk menggulingkannya. Menanggapi isu ini, Soekarno memerintahkan pasukan Cakrabirawa untuk menangkap dan membawa mereka untuk diadili. Namun secara tak terduga, dalam operasi penangkapan tersebut para jenderal tersebut terbunuh.

Isu Dokumen Gilchrist
Dokumen Gilchrist diambil dari nama duta besar Inggris untuk Indonesia, Andrew Gilchrist. Beredar hampir bersamaan waktunya dengan isu Dewan Jenderal. Dokumen ini oleh beberapa pihak dianggap pemalsuan. Di bawah pengawasan Jenderal Agayant dari KGB Rusia, dokumen ini menyebutkan adanya "Teman Tentara Lokal Kita" yang mengesankan bahwa perwira-perwira Angkatan Darat telah dibeli oleh pihak Barat. Kedutaan Amerika Serikat juga dituduh memberi daftar nama anggota PKI kepada tentara untuk "ditindaklanjuti".

Isu Keterlibatan Soeharto
Menurut isu yang beredar, Soeharto saat itu menjabat sebagai Pangkostrad (Panglima Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat) tidak membawahi pasukan. 

Kesimpulan

Peristiwa G 30 S PKI adalah peristiwa berdarah bunuh membunuh yang tidak jelas kepastiannya, dalam peristiwa ini 6 jendral tewas dan PKI dituduh sebagai pembunuhnya. Kronologinya akan dibahas pada poin-poin di bawah. 

Menurut isu beredar, ada kabar bahwa para jenderal tidak puas dengan pemerintahan Soekarno, kabar ini disebut Isu Dewan Jenderal, menurut isu beredar, kemudian digerakan pasukan Cakrabirawa untuk menangkap dan mengadili mereka, namun dalam proses penangkapan, secara tak terduga mereka terbunuh pada tanggal 30 September 1965.

Menurut isu, setelah ke enam jenderal terbunuh, tersebarlah tuduhan bahwa PKI yang membunuh para jenderal tersebut.

Menurut isu, untuk menyikapi tuduhan atas PKI tersebut, diberantaslah PKI yang dianggap ingin mengudeta pemerintahan. Banyak anggota-anggota PKI yang terbunuh, juga banyak orang-orang kita yang terbunuh oleh PKI, semua itu terjadi pasca terbunuhnya jenderal pada 30 September 1965.

Sampai akhirnya, lima bulan setelah itu, keluarlah Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Sukarno memberi Suharto kekuasaan tak terbatas melalui Surat Perintah sebelas Maret. Semua pihak, terutama Soekarno berharap semoga aksi bunuh membunuh pasca kejadian 30 September 1965, itu segera selesai.

Sesudah kejadian tersebut, 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September. Hari berikutnya, 1 Oktober, ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Isu mengenai peristiwa G 30 S PKI, dari mulai tuduhan-tuduhan kudeta sampai kematian para jenderal tidak begitu jelas.
Sumber kutipan http://mgmpipslamtim.blogspot.co.id/2015/02/latar-belakang-dan-akibat-g30s-pki.html

Related Posts

0 Komentar: