Thursday, May 19, 2016

15 Nasihat Lukman Al Hakim kepada Anaknya yang masih relevan hingga saat ini


Sarisejarah.com - 15 Nasihat Lukman Al Hakim kepada Anaknya yang masih relevan hingga saat ini

Lukman Al Hakim adalah seorang yang arif dan bijaksana melalui nasihat-nasihatnya kepada putranya. Allah SWT mengabadikannya dengan menyebutnya dalam Al Qur'an.

15 pesan Lukman Hakim kepada Anaknya :
  1. Wahai anakku, juallah duniamu demi kehidupan akhiratmu, niscaya engkau akan memperoleh keduanya dengan beruntung.
  2. Wahai anakku, janganlah mencampuri urusan dunia terlalu dalam sehingga membuat rusak urusan akhiratmu, tetapi janganlah meninggalkan sama sekali, sehingga engkau menjadi beban orang lain.
  3. Wahai anakku, sebagaimana engkau tidur, demikianlah engkau mati dan sebagaimana engkau bangun, demikianlah engkau dibangkitkan kelak. Beramallah engkau dengan amal salih, niscaya engkau tidur dan bangun seperti pengantin baru, dan janganlah beramal dengan amalan buruk, sebab engkau akan tidur dan bangun dengan kekuatan, seperti orang yang dikejar-kejar penguasa untuk dibunuh.
  4. Wahai anakku, apabila terdapat pada diri seseorang lima hal yaitu : a) agama, b) harta, c) sifat malu, d) baik budi dan e) dermawan. Maka ia seorang yang bersih lagi takwa, menjadi kekasih Allah dan lepas dari gangguan setan.
  5. Wahai anakku, menjadi orang bisu tetapi berakal itu lebih baik daripada engkau menjadi orang yang banyak bicara tetapi bodoh. Tiap-tiap sesuatu itu jadi petunjuknya. Akal petunjuk ialah berpikir dan petunjuk berpikir itu adalah diam. Barang siapa berkata-kata dalam hal yang tidak baik maka ia benar-benartelah melakukan hal yang sia-sia, barang siapa berpikir tanpa mengambil pelajaran maka ia benar-benar lalai dan barang siapa melakukan sesuatu tanpa berpikir maka ia benar-benar merugi.
  6. Wahai anakku, jangan sampai ayam itu menjadi lebih arif daripadamu, ia bangun dengan berkokok di waktu sahur, sedangkan engkau masih tidur nyenyak.
  7. Wahai anakku, barang siapa berpendapat bahwa kejelekan itu dapat memadamkan kejelekan, kalau itu benar maka nyalakanlah dua api. Kemudian lihatlah, apakah api yang satu dapat memadamkan api lainnya? Yang benar kebaikan itulah yang dapat memadamkan kejelekan, seperti halnya air yang memadamkan api.
  8. Wahai anakku, sabar ketika menghadapai hal-hal yang tidak disukai termasuk bagusnya keyakinan.
  9. Wahai anakku, janglah engkau makan ketika engkau masih kenyang, memberikannya untuk anjing, niscaya lebih baik bagimu dari pada engkau memakannya. Wahai anakku, makanlah makanan yang paling baik. Tidurlah ditempat yang paling empuk.(Maksudnya adalah, banyak-banyaklah berpuasa dan biasakan salat malam, sehingga engkau bisa makan enak dan bisa tidur nyenyak).
  10. Wahai anakku, apabila engkau hendak memutuskan sesuatu parkara, janganlah engkau putuskan terlebih dahulu sebelum engkau musyawarah dengan orang yang berpengalaman. Wahai anakku, bermusyawarah dengan orang berpengalaman dalam banyak hal, sebab ia akan memberikan pendapatnya yang harganya tak ternilai, sedangkan engkau dapat mengambilnya dengan cuma-cuma tanpa membayar.
  11. Wahai anakku, temanilah ulama, ahli ilmu, dekatilah mereka, sebab Allah menghidupkan harti dengan cahaya hikmah, seperti menghidupkan tanah dengan air hujan. Wahai anakku, wajib engkau berilmu, sebab apabila engkau fakir ilmu, maka ilmu itu menjadi hartamu dan apabila engkau kaya, maka ilmu itu menjadi hiasanmu. Wahai anakku, jadilah engkau seorang ahli ilmu, penuntut ilmu, pendengar ilmu, atau sebagai orang yang mau mendekati ilmu.
  12. Wahai anakku, wajib bagi setiap manusia itu pandai-pandai bergaul dengan tiga orang, yaitu : a) raja yang zalim, b) orang sakit, c) perempuan.
  13. Wahai anakku, cukuplah dengan sifat qana’ah sebagai kemuliaan dan dengan jiwa yang bersih sebagai kenikmatan.
  14. Wahai anakku, kasihanilah orang-orang fakir karena tidak banyak bersabar. Kasihanilah orang-orang kaya karena tidak banyak bersyukur dan kasihanilah semua orang karena mereka sering lalai.
  15. Wahai anakku, jadikanlah cita-citamu itu sesuai dengan bakatmu dan janganlah engkau jadikan cita-citamu itu sesuai dengan apa yang membuat kamu cukup (padahal bertentangan dengan bakatmu).
 Itulah pesan Lukman Al Hakim kepada putra-putranya. semoga nasihat tersebut juga dapat memberikan pelajaran bagi kita semua, semoga bermanfaat. []

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah