Thursday, April 28, 2016

Sejarah kekaisaran Rusia


Sarisejarah.com - Sejarah kekaisaran Rusia
Kekaisaran Rusia (bahasa Rusia: Россійская Имперія (lama), Российская Империя (modern); Rossiyskaya Imperiya) adalah kekaisaran yang pernah ada sejak tahun 1721-1917. Kekaisaran ini adalah penerus Ketsaran Rusia dan pendahulu Uni Soviet.

Kekaisaran Rusia adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada dalam sejarah dunia dengan luas daratan yang hanya bisa dilampaui oleh Imperium Britania dan Kekaisaran Mongolia. Pada tahun 1866, wilayah Kekaisaran Rusia membentang dari Eropa Timur ke Asia hingga Amerika Utara. Pada awal abad ke-19, Rusia adalah kerajaan terbesar di dunia yang membentang dari Samudra Arktik di utara ke Laut Hitam di selatan dan dari Laut Baltik di barat hingga Samudra Pasifik di timur. Dengan penduduk sebanyak 176,4 juta jiwa, kerajaan ini memiliki penduduk terbesar ketiga di dunia pada masanya setelah Dinasti Qing di Cina dan Imperium Britania.
Keluarga Tsar Nicholas II, kaisar Rusia


Kekaisaran Rusia diperintah oleh seorang kaisar dan menjadi salah satu kerajaan terakhir di Eropa yang meninggalkan sistem monarki absolut.

Pendirian Kekaisaran

Meskipun kekaisaran secara resmi didirikankan oleh Peter I menyusul Perjanjian Nystad (1721), beberapa sejarawan berpendapat bahwa Kekaisaran Rusia sudah dimulai ketika Ivan III menaklukkan Novgorod atau ketika Ivan IV menaklukkan Kazan.

Peter I (1672-1725) memperkenalkan sistem pemerintahan otokrasi di Rusia dan memainkan peran utama dalam memperkenalkan negaranya ke sistem pemerintahan yang dianut negara-negara Eropa umumnya. Namun, wilayah Rusia yang sangat luas ini hanya memiliki populasi sekitar 14 juta jiwa. Sistem pertanian Rusia saat itu masih tertinggal jauh di belakang sistem pertanian di Eropa Barat, padahal dalam kenyataannya hampir seluruh penduduk Rusia saat itu adalah petani. Hanya sebagian kecil warganya yang hidup di kota-kota.

Upaya militer pertama Peter I diarahkan untuk mengimbangi kekuatan Kesultanan Utsmaniyah di barat daya. Perhatiannya kemudian beralih ke utara. Peter masih tidak memiliki pelabuhan di pesisir utara Rusia yang bebas es, hanya pelabuhan Archangel di Laut Putih, tapi pelabuhan ini membeku selama sembilan bulan dalam setahun. Akses ke Baltik juga diblokir oleh Swedia. Ambisi Peter I untuk "membuka jendela ke laut" menuntunnya untuk membuat aliansi rahasia dengan kaum Saxony (pada tahun 1699), Polandia-Lithuania, dan Denmark untuk melawan Swedia, mengakibatkan terjadinya perang yang dikenal dengan sebutan Perang Besar Utara. Perang berakhir pada 1721 ketika Swedia menyerah dan mengadakan perjanjian damai dengan Rusia. Peter I mengakuisisi empat provinsi di sebelah selatan dan timur Teluk Finlandia. Disana ia membangun ibukota baru Rusia, St. Petersburg, untuk menggantikan Moskwa, yang sudah lama menjadi pusat budaya Rusia.

Peter I meninggal pada 1725. Setelah pemerintahan singkat oleh istrinya, Catherine I, pemerintahan kemudian diteruskan ke oleh Permaisuri Anna. Ia adalah seorang putri Jerman yang menikah dengan Peter III. Dia berkontribusi pada kebangkitan kaum bangsawan Rusia yang dimulai setelah kematian Peter I. Layanan sosial negara dihapuskan, dan ia mengistruksikan agar para bangsawan memainkan peran penting dalam pemerintahan di provinsi-provinsi Rusia.
Perkembangan
Paruh Pertama Abad ke 19

Meskipun Kekaisaran Rusia akan memainkan peran diminasi politiknya pada abad berikutnya, berkat kekalahannya dari Napoleon, Perancis menghalangi kemajuan ekonomi Rusia secara signifikan. Seperti pertumbuhan ekonomi Eropa Barat yang meningkat pesat selama Revolusi Industri yang telah dimulai pada paruh kedua abad ke-18, Rusia dalam kenyataannya masih jauh tertinggal. Status ini menyebabkan inefisiensi dari pemerintahnya, keterbelakangan masyarakatnya, dan ketertinggalan ekonomi. Setelah kekalahan Rusia terhadap Napoleon, Alexander I telah siap untuk membahas reformasi konstitusional, tetapi meskipun telah dilaksanakan, reformasi tidak membawa dampak dan perubahan yang berarti bagi Rusia.

Alexander I digantikan oleh adiknya, Nicholas I (1825-1855), yang pada awal pemerintahannya dihadapkan dengan berbagai pemberontakan akibat banyaknya kalangan yang menuntut reformasi kekaisaran. Tetapi pemberontakan-pemberontakan tersebut dengan mudah dipatahkan.

Setelah tentara Rusia membebaskan sekutunya, Georgia, dari pendudukan Persia pada tahun 1802, mereka juga terlibat konfrontasi dengan Persia akibat berebut pengaruh atas Azerbaijan dan terlibat dalam Perang Kaukasia melawan sebuah pemerintahan Muslim bernama Keimaman Kaukasia. Tsar juga harus berurusan dengan dua pemberontakan di dalam negeri: Pemberontakan November tahun 1830 dan Pemberontakan Januari tahun 1863.
Paruh Kedua Abad ke 19

Nicholas I meninggal secara misterius. Satu tahun sebelumnya, Rusia telah terlibat dalam Perang Krimea. Sejak memainkan peran utama regional paska kekalahannya ketika Perang Napoleon, Rusia telah dianggap sebagai salah satu negara dengan kekuatan militer yang tak terkalahkan.

Ketika Alexander II naik tahta pada tahun 1855, keinginan untuk reformasi tersebar luas di kalangan rakyat. Sejumlah gerakan sosial-kemanusiaan berkembang. Pada tahun 1859, ada lebih dari 23 juta budak hidup di bawah kondisi yang lebih buruk dibandingkan dengan para petani dari Eropa Barat pada abad ke-16. Alexander II memutuskan sendiri untuk menghapuskan perbudakan, daripada menunggu bahaya adanya tindakan-tindakan revolusioner yang dapat menganggu stabilitas dalam negeri Rusia.

Alexander II menginvasi Manchuria Luar dari Kekaisaran Cina antara 1858-1860 dan menjual wilayah Alaska yang kaya minyak ke Amerika Serikat pada tahun 1867. Pada tahun 1870-an Rusia dan Kesultanan Utsmaniyah kembali berkonfrontasi di kawasan Balkan. Dari tahun 1875-1877, krisis Balkan secara intensif menjadi pemberontakan melawan kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah oleh berbagai bangsa Slavia, yang dikuasai oleh Turki Utsmaniyah sejak abad ke-16. Adanya pandangan nasionalisme Slavia menjadi faktor domestik utama dalam dukungan Rusia untuk membebaskan Balkan dari pemerintahan Muslim Utsmaniyah (Ottoman), dan hal ini berdampak pada kemerdekaan Bulgaria dan Serbia. Pada awal tahun 1877, Rusia melakukan intervensi atas nama pasukan relawan Serbia dan Rusia ketika berperang melawan Utsmaniyah. Dalam satu tahun, pasukan Rusia sudah mendekati Istanbul, dan Utsmaniyah menyerah. Diplomat nasionalis Rusia dan para jenderal membujuk Alexander II untuk memaksa Utsmaniyah menandatangani Perjanjian San Stefano pada Maret 1878. Ketika Inggris mengancam akan menyatakan perang akibat merasa keberatan dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Perjanjian San Stefano, Rusia memilih mundur.

Setelah pembunuhan Alexander II oleh Narodnaya Volya, salah seorang anggota organisasi teroris "Nihilist", pada tahun 1881, tahta diberikan kepada anaknya, yaitu Alexander III (1881-1894), seorang reaksioner yang berusaha menghidupkan kembali maksim "Otokrasi, Ortodoks, dan Karakter Kebangsaan Nasional" yang dicanangkan oleh Nicholas I. Sebagai seorang Slavophile, Alexander III percaya bahwa Rusia bisa diselamatkan dari kekacauan hanya dengan menutup diri dari pengaruh subversif Eropa Barat.
Awal Abad ke 20

Pada tahun 1894, Alexander III digantikan oleh putranya, Nicholas II, yang berkomitmen untuk mempertahankan sistem otokrasi di Rusia. Revolusi Industri Rusia mulai menunjukkan pengaruh yang signifikan. Namun, Partai Sosialis-Revolusioner justru menuntut dilakukannya distribusi tanah untuk para petani. Kelompok radikal lain adalah Partai Tenaga Kerja Sosial-Demokrat, salah satu partai Marxisme di Rusia. Sosial-Demokrat berbeda dari Sosialis-Revolusioner, bahwa mereka percaya revolusi harus berawal dari para pekerja dan buruh di perkotaan, bukan oleh kaum tani.

Kekalahan dalam Perang Rusia-Jepang (1904-1905) adalah pukulan besar bagi rezim Nicholas II dan semakin meningkatkan potensi kerusuhan dan pemberontakan di dalam negeri. Pada Januari 1905, sebuah insiden yang dikenal sebagai "Minggu Berdarah" terjadi ketika Pastor Gapon memimpin kerumunan massa di Istana Musim Dingin, St. Petersburg, untuk mengirimkan sebuah petisi kepada Tsar. Ketika massa mencapai istana, militer menembaki kerumunan, dan menewaskan ratusan orang. Publik Rusia begitu marah atas pembantaian tersebut. Hal ini menandai awal dari Revolusi Rusia tahun 1905. Soviet (dewan pekerja) muncul di kota-kota untuk mengarahkan aktivitas revolusioner. Rusia lumpuh, dan pemerintahan kekaisaran tak berdaya mengahadapi gejolak-gejolak yang terjadi di seluruh negeri.

Pada tahun 1904, Nicholas II dan istrinya, Tsarina Alexandra, akhirnya memiliki seorang putra, Tsarevich Alexei Nikolaevich. Namun, Alexei mewarisi penyakit genetik yang berasal dari keluarga ibunya, Alexandra (yang merupakan cucu Ratu Victoria dari Inggris), yaitu hemofilia, penyakit yang telah menjangkit banyak bangsawan kerajaan-kerajaan Eropa.

Nicholas II dan Rusia memasuki Perang Dunia I dengan semangat membela sesama kaum Ortodoks Slavia di Eropa Timur dan Balkan. Pada bulan Agustus 1914, tentara Rusia menyerbu Provinsi Prusia Timur milik Jerman dan menduduki sebagian besar Austria. Namun, kontrol Jerman atas Laut Baltik dan kontrol koalisi Jerman-Utsmaniyah atas Laut Hitam mengakibatkan Rusia terputus dari sebagian besar pasokan bantuan asing dan pasar perdagangan yang potensial.

Pada 3 Maret 1917, pemogokan massal terjadi pada sebuah pabrik di ibukota St. Petersburg, dalam seminggu hampir semua pekerja di kota melakukan pemogokan serupa, dan kerusuhan jalanan pecah.

Pada akhir Revolusi Februari yaitu tanggal 2 Maret (Kalender Julian) atau 15 Maret (Kalender Gregorian) 1917, Nicholas II memilih untuk turun tahta. Nicholas II menyusun rencana untuk menobatkan Adipati Agung Michael sebagai tsar berikutnya atas seluruh Rusia. Adipati Agung Michael menolak untuk naik tahta sampai ia diizinkan untuk memilih melalui Majelis Konstituante untuk kelanjutan Rusia sebagai sebuah negara monarki atau republik.

Pada bulan Agustus 1917, Alexander Kerensky, yang menjabat sebagai perdana menteri Pemerintahan Sementara Rusia, mengevakuasi Nicholas II beserta istri dan anak-anaknya ke kota Tobolsk di Pegunungan Ural, diduga untuk melindungi mereka dari dampak meningkatnya revolusi. Di sana mereka tinggal di bekas kediaman gubernur dalam kenyamanan yang cukup. Pada bulan Oktober tahun 1917 kaum Bolshevik berhasil merebut kekuasaan dari pemerintahan sementara pimpinan Kerensky.

Pada 1 Maret 1918, tsar beserta keluarganya dipindahkan ke sebuah ransum tentara, dengan kondisi kehidupan yang jauh dari kemewahan. Pada 30 April 1918 mereka selanjutnya dipindahkan ke kota pengasingan terakhir mereka, Yekaterinburg, dimana mereka ditahan di sebuah rumah milik seorang insinyur militer bernama Nikolay Nikolayevich Ipatiev. Tsar Nicholas II beserta seluruh keluarganya kemudian dieksekusi oleh kaum Bolshevik di rumah ini, dan menandai berakhirnya kekuasaan penuh Dinasti Romanov atas Rusia.
Sistem Pemerintahan

Sejak pendirian kekaisaran sampai Revolusi 1905, Kekaisaran Rusia merupakan sebuah monarki absolut, di bawah sistem otokrasi tsar. Setelah Revolusi 1905, Rusia mengembangkan sistem pemerintahan baru yang sulit untuk didefinisikan secara resmi.

Hukum dasar Rusia menggambarkan kekuatan tsar sebagai penguasa "otokratis dan tidak terbatas." Setelah Oktober 1905, kekaisaran masih mempertahankan gelar "Tsar dan Otokrat dari Seluruh Bangsa Rusia", namun hukum-hukum dasar kekaisaran dirombak.

Sementara tsar mempertahankan hak-hak prerogatif lamanya, termasuk hak veto mutlak atas semua undang-undang. Tsar menyetujui pembentukan parlemen. Namun, pembaruan dan perombakan hukum tersebut tidak menjadikan Rusia sebagai sebuah monarki konstitusional yang sebenarnya. "Otokrasi terbatas" dalam praktiknya sebenarnya merupakan "otokrasi semi-terbatas." Dalam "Almanach de Gotha" tahun 1910, Rusia digambarkan sebagai "monarki konstitusional di bawah kekuasaan tsar yang otokratis". []






0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah