Sunday, April 24, 2016

Kisah Hubungan Seks terlarang pada masa lalu di Pulau Dewata Bali


Sarisejarah.com - Kisah Hubungan Seks terlarang pada masa lalu di Pulau Dewata Bali
Hubungan sumbang (Inses, Inggris: incest) adalah hubungan saling mencintai yang bersifat seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga (kekerabatan) yang dekat, biasanya antara ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara kandung atau saudara tiri. Pengertian istilah ini lebih bersifat sosio antropologis daripada biologis (bandingkan dengan kerabat-dalam untuk pengertian biologis) meskipun sebagian penjelasannya bersifat biologis. (sumber wikipedia)

Pernikahan sedarah atau incest antara sepupu, kemenakan, ipar, apalagi saudara sekandung adalah sebuah aib.
Di Pulau Dewata, Bali, pelaku incest akan dikenakan sanksi adat. Namun, hubungan seks sedarah ini pernah menjadi sejarah kelam raja-raja di Bali.
Bukti sejarah menyebutkan, tahun 1827 I Gusti Gde Karang Parang naik tahta menggantikan ayahnya I Gusti Gde Karang sebagai raja di Buleleng yang tewas dikeroyok di Pengambengan. 

Pewaris tahta kerajaan di Buleleng ini membangun istana di sebelah barat Puri Singaraja. Kepemimpinan I Gusti Karang Paang dikenal sangat egois dan tidak boleh dikritik.
"Setiap protes akan berakhir dengan hukuman mati. Dalam Babad (kisah sejarah masa lalu) Karangasem dan Babad Buleleng dilukiskan, sosok raja ini tidak hanya sombong dan angkuh, tetapi juga memiliki perilaku buruk. Dia dengan terang-terangan memperlakukan adiknya sebagai istri, tetapi tidak satupun ada yang berani mempersoalkan karena takut kena hukuman mati," ujar budayawan Bali, I N. Suwarna.

Pada suatu hari, beberapa Arya merancang pemberontakan untuk menggulingkan Raja. Saat itu, di istana sedang digelar tontonan wayang kulit. Kesempatan itu digunakan para pemberontak untuk menjalankan aksinya, membunuh Sang Raja.

Namun, rencana itu meleset, karena Raja tak kunjung keluar dari kamarnya. Para pemberontak menyerang ke dalam keraton, tetapi Raja sudah tak ada di dalam.

Menurut salah seorang abdinya bernama Ketut Karang, raja bersama pengikutnya sudah lari dari istana. Para pemberontak merasa dirinya sudah berhasil menguasai istana. 
Terbunuh karena bersetubuh dengan adik

Namun, kenyataan berkata lain. Keesokan harinya Raja duduk di singasana bersama para menterinya.
Melihat kenyataan itu, giliran para pemberontak yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri ke Desa Tukad Mungga, Kapal, Kepakisan hingga ke Lombok.

Tapi, sebuah peristiwa besar terjadi. Konon akibat ulah Sang Raja mengawini dan berhubungan seks dengan adiknya, kerajaan di ujung utara Pulau Bali ini mengalami bencana seperti kemarau, wabah penyakit, dan gagal panen.
Akibatnya, rakyat Buleleng pun memberontak dan Raja bersama keluarganya memilih lari ke Karangasem. 

Mendengar ada buronan menuju daerahnya, Raja Karangasem berinisiatif untuk membinasakan Raja Gusti Karang Paang secara diam-diam. Tapi, sangat sulit membunuhnya karena Raja ini dikenal sakti dan kebal terhadap berbagai senjata tajam.
Pada suatu kesempatan makan siang, Raja I Gusti Karang Paang melepas ikat pinggang yang merupakan kunci ilmu kesaktiannya. Saat itulah prajurit menerobos masuk dan membunuhnya hingga tewas.

Raja Lombok bercinta dengan kakaknya

Kisah pernikahan sedarah pada zaman kerajaan tidak hanya terjadi di Buleleng, tetapi juga di Lombok. Negeri bawahan Kerajaan Karangasem ini, juga mencatat sejarah kelam para priyayinya yang melakukan inces. 

Raja Singhasari Lombok III, I Gusti Anglurah Gde Karangasem menjalin hubungan cinta sedarah dengan kakak kandungnya I Gusti Ayu Agung.
Berbeda dengan Raja Buleleng yang egois, Raja Singhasari memiliki karakter kepemimpinan yang lemah sehingga membuatnya tergantung pada kakak perempuannya yang memiliki sifat tegas dan sangat jantan. 

Uniknya, kisah pernikahan sedarah ini kemudian diikuti adik-adiknya seperti I Gusti Nyoman Karang dengan I Gusti Luh Putu, dan I Gusti Made Karang dengan I Gusti Luh Karang.
"Kejadian ini juga dianggap aib oleh masyarakat sehingga diyakini menjadi sumber petaka. Kenyataan tersebut terbukti. Tak berselang lama kerajaan Singhasari Lombok ini hancur akibat perang saudara dengan Kerajaan Mataram," katanya.
Inilah yang kemudian menjadi keyakinan masyarakat di Bali bahwa perkawinan sedarah atau inces merupakan hal tabu yang akan mendatangkan bencana. Jika terbukti hal ini terjadi, akan digelar upacara penyucian desa agar terhindar dari kutukan yang mendatangkan bencana. (ase)

Penjelasan Hubungan Sedarah Secara Biologis dan Sosial

Hubungan sumbang diketahui berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan karena meningkatnya koefisien kerabat-dalam pada anak-anaknya. Akumulasi gen-gen pembawa 'sifat lemah' dari kedua tetua pada satu individu (anak) terekspresikan karena genotipe-nya berada dalam kondisi homozigot.

Secara sosial, hubungan sumbang dapat disebabkan, antara lain, oleh ruangan dalam rumah yang tidak memungkinkan orangtua, anak, atau sesama saudara pisah kamar. Hubungan sumbang antara orang tua dan anak dapat pula terjadi karena kondisi psikososial yang kurang sehat pada individu yang terlibat. Beberapa budaya juga mentoleransi hubungan sumbang untuk kepentingan-kepentingan tertentu, seperti politik atau kemurnian ras.

Akibat hal-hal tadi, hubungan sumbang tidak dikehendaki pada hampir semua masyarakat dunia. Semua agama besar dunia melarang hubungan sumbang. Di dalam aturan agama Islam (fiqih), misalnya, dikenal konsep mahram yang mengatur hubungan sosial di antara individu-individu yang masih sekerabat. Bagi seseorang tidak diperkenankan menjalin hubungan percintaan atau perkawinan dengan orang tua, kakek atau nenek, saudara kandung, saudara tiri (bukan saudara angkat), saudara dari orang tua, kemenakan, serta cucu. Di dalam Alkitab Kristen (Imamat 18) tertulis larangan hubungan sedarah antara kekerabatan tertentu.

hubungan sedarah

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah