Indonesianis; mereka yang mencintai Indonesia

shares |

sarisejarah.com - Indonesianis; mereka yang mencintai Indonesia
Indonesia merupakan negeri yang kaya akan budaya, adat istiadat, hingga peristiwa masa lampau yang menarik perhatian para ilmuan dunia. Banyak sekali ilmuan dunia di berbagai bidang yang berkonsentrasi untuk melakukan pengamatan, penelitian dengan mengangkat objek kajian Indonesia.
Dengan demikian, pengertian Indonesianis adalah ilmuan politik asing yan melakukan penelitian tentang kajian politik Indonesia. Sebagai contoh, penulis yang memfokuskan pada kajian negara adalah Ben Anderson dengan state qua statenya, Karl Jacson dengan sebutan bureaucratic politynya, AS Hikam beserta Herbert Feith yang menjelaskan dengan istilah rezim otoriter birokratik dan State Corporatism. Sedangkan penulis yang menggunakan perspektif masyarakat adalah Clifford Geertz dengan kategorisasi santri abangan dan priyayi dan Vedi Hadis dalam Islamic population in Indonesia.
Geertz
Sedangkan pada masa setelah itu, perspektif yang digunakan berubah menggunakan sudut pandang structural dan agensi. Tulisan yang menjelaskan dengan perspektif structural adalah Anders Uhlin dan Eric Hierarij dalam Interpretasi Jatuhnya Rezim Orde Baru, Priyambudi dalam Sentralisasi dan Desentralisasi di Indonesia. Selanjutnya penulis yang menggunakan pendekatan agensi adalah Jim Schiller yang berjudul ”Indonesia (Mulai) Tahun 1999: Hidup Tanpa Kepastian” dan tulisan Cornelis Lay “Potensi Konflik Antara DPRD dan Birokrasi di Daerah” dalam Perebuahan Politik Pasca Rezim Orde Baru. Namun tulisan ini akan dibuka dengan penjeleasan Max Line tentang Indonesianis sebagai penjelasan menganai perkembngan analisasa politik di Indonesia dari orang-orang asing.
Dilihat dari masa penelitian yang dihasilkan, Indonesianis dapat dikelompokkan kedalam tiga periodesasi, 1960-an, 1980-an, dan masa kontemporer. Pada masa 1980-an, Para Indonesianis yang meneliti fenomena politik di Indonesia adalah Herber Feith, Lance Castle, Benedict Anderson, serta Harold Crouch. Pada masa ini, penelitian dilakukan melalui pendekatan prilaku partai politik sebagaimana Herber Feith, seorang indonesianis asal Australia yang melihat bahwa ada dua kutub kekuatan dalam pemerintahan parlementer, yakni solidarity maker yang berasal dari kelompok nasionalis PNI yang dipelopori Bung Karno dan administrative maker yang merpresentasikan kelompok M. Hatta, M. Natsir, dsb.

Pada masa 1980-an, Indonesianis yang meneliti fenomena politik di Indonesia adalah Richard Robison, Heather Sutherland, Karl D Jackson, serta R. William Liddle. Pada masa ini, focus penelitian bukan lagi hanya terpaku pada prilaku partai politik namun juga memfokuskan dengan melihat kelas-kelas ekonomi, elit-elit bisnis yang dihubungkan dengan kegiatan politik di Indonesia sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Ricard Robinson dalam bukunya yang berjudul The Rise of Capitalism in Indonesia.
Pada massa kontemporer, muncul nama-nama Indonesianis seperti Max Lane, Gerry van Klinken, dan ilmuan politik asal Indonesia sendiri seperti Vedi Hadis, Jusuf Wanandi, dan lain-lain. Pada masa ini, sudah mulai muncul Indonesianis yang menggunakan analisis struktural-marxis seperti Vedi Hadis. Ia hampir sama dengan Robinson yaitu memfokuskan pada kaitannya antara kegiatan ekonomi dengan politik, namun Vedi lebih menyoroti gerakan kaum buruh yang dia anggap mempunyai peran penting dalam mengkerangkai pentas politik Indonesia. Selain itu, gagasan peneliti pada masa ini juga sudah tidak lagi hanya memfokuskan objek kajiannya pada kelompok elit semata, namun mulai memfokuskan pada keadaan di akar rumput masyarakat seperti pergerakan serikat buruh. []

Related Posts

0 Komentar: