Thursday, January 21, 2016

Pendapat para sarjana Barat tentang masuknya Islam di Indonesia




Sarisejarah.com - Pendapat para sarjana Barat tentang masuknya Islam di Indonesia

Islamisasi di Indonesia berlangsung dalam waktu yang lama, bahkan sampai saat ini disebut-sebut islamisasi masih berlangsung. Islam telah memberikan sumbangsih bagi terbentuknya nasionalisme di Indonesia melalui jaringan yang terbentuk pada masa lampau. Adapun masuknya agama Islam ke Indonesia disampaikan oleh para ahli dalam berbagai macam teori, diantaranya teori gujarat (india), teori persia, dan teori arab-mesir.
Dalam pemaparan kali ini akan diulas tentang pendapat para sarjana barat tentang masuknya islam di Indonesia sebagai berikut:
Sarjana-sarjana Barat—kebanyakan dari Negeri Belanda—mengatakan bahwa Islam yang masuk ke Kepulauan Indonesia berasal dari Gujarat sekitar abad ke-13 M atau abad ke-7 H. Pendapat ini mengasumsikan bahwa Gujarat terletak di India bagian barat, berdekatan dengan Laut Arab. Letaknya sangat strategis berada di jalur perdagangan antara timur dan barat. Pedagang Arab yang bermahzab Syafi’i telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal tahun Hijriyah (abad ke-7 M). Orang yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan para pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia Timur. Pendapat J. Pijnapel kemudian didukung oleh C. Snouck Hurgronye, dan J.P. Moquetta (1912). 
Snouck Hurgronye
Tentu anda masih ingat dengan Dr Snouck Hurgronye, ia adalah seorang ahli islamologi dari negeri Belanda. Ia dikirim ke Indonesia oleh negeri Belanda untuk mempelajari adat istiadat masyarakat Aceh hingga Aceh akhirnya dapat ditaklukkan oleh Belanda. Nah, argumentasinya didasarkan pada batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada 17 Dzulhijjah 831 H atau 1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulana Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan batu nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta kemudian berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat.

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah