Kisah Hikmah Kaus Kaki Sobek

shares |

Sarisejarah.com - Kisah Hikmah Kaus Kaki Sobek
ilustrasi



Alkisah terdapatlah seorang kaya raya sedang mengalami sakit yang sangat parah. Maka sebagaimana seorang yang kaya, menjelang ajal menjemput, dikumpulkanlah anak-anak tercintanya. Ketika anak-anaknya telah menugguinya menjelang aja, ia pun berwasiat. “Anak-anakku...jika ayah sudah dipanggil Allah Ta’ala, ada permintaan Ayah kepada kalian yang harus kalian jalankan. Tolong dipakaikan kaus kaki kesayangan ayah. Walaupun kaus kaki itu sudah sobek di bagian jempol kaki, tetapi Ayah ingin memakai barang kesayangan semasa hidup dan minta kaus kaki kenangan itu dipakai bila Ayah sudah dikubur nanti.” Anak-anak pun menganggukkan kepala sambil menangis tersedu-sedu menyadari ayahnya sebentar lagi akan pergi untuk selamanya.

Singkat cerita, akhirnya sang ayah yang merupakan miliarder terkenal itu pun meninggal dunia. Saat mengurus jenazah dan saat mengkafani, anak-anaknya minta ke pengurus mayat untuk memakaikan kaus kaki yang sobek itu sesuai wasiat ayahnya. Akan tetapi pengurus jenazah tersebut menolaknya: "Maaf, secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang diperbolehkan untuk dipakaikan kepada mayat.."

Terjadi diskusi panas antara anak-anak yang ingin memakaikan kaus kaki sobek dan engurus jenazah yang kebetulan juga merupakan ustad, yang melarang hal tersebut. Karena juga tidak ada titik temu, dipanggilah penasihat keluarga sekaligus notaris. Beliau menyampaikan: "Sebelum meninggal, Bapak menitipkan surat wasiat, ayo kita buka bersama-sama siapa tahu ada petunjuk.."

Maka dibukalah surat wasiat almarhum milyader itu untuk anak-anaknya yang dititipkan kepada Notaris tersebut. Begini bunyinya:

“Anak-anakku sayang, pasti sekarang kalian sedang bingung, karena dilarang memakaikan kaus kaki sobek kepada mayat Ayah. Lihatlah anak-anakku, padahal harta Ayah banyak, uang berlimpah, mobil mewah ada berpuluh-puluh, tanah dan sawah di mana-mana, rumah mewah juga banyak jumlahnya. Tetapi semua itu tidak ada artinya, ketika Ayah sudah meninggal. Bahkan kaus kaki sobek saja tidak boleh dibawa mati. Begitu tidak berartinya dunia ini, kecuali amal ibadah kita, sedekah kita yang ikhlas. Anak-anakku semuanya, inilah yang ingin Ayah sampaikan, agar kalian tidak tertipu dengan dunia yang sementara ini. Salam sayang dari Ayah yang ingin kalian menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah."
Begitulah, ketika selesai membaca surat tersebut, anak-anak tersebut kemudian menyadari betapa luhur budi pekerti dan akhlak ayahandanya. []

Related Posts

0 Komentar: