Tuesday, November 3, 2015

Sejarah Islam ; Kondisi Sosial Masyarakat Makkah Sebelum Islam


Sarisejarah.com - Sejarah Islam ; Kondisi Sosial Masyarakat Makkah Sebelum Islam

Bangsa Arab memiliki karakter yang positif seperti pemberani, ketahanan fisik, kekuatan daya ingat, hormat akan harga diri dan martabat, penganut ke- bebasan, loyal terhadap pimpinan, pola hidup sederhana, ramah, ahli syair dan

[caption id="attachment_1374" align="aligncenter" width="300"]sejarah islam sejarah islam[/caption]

 

sebagainya. Tapi karakter baik mereka terkikis oleh kejahiliyahan mereka.

Mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti minum khamr (arak) sampai mabuk, berzina, berjudi, merampok dan sebagainya. Mereka menempat- kan perempuan pada kedudukan yang sangat rendah. Perempuan dipandang ibarat binatang piaraan dan tidak memiliki kehormatan dan kekuatan untuk membela diri. Laki-laki memiliki kebebasan untuk menikah dan menceraikan semaunya.

Tradisi yang terburuk di masyarakat Arab adalah mengubur anak-anak perem- puan mereka secara hidup-hidup. Mereka merasa terhina dan malu memiliki anak perempuan dan marah bila istrinya melahirkan anak perempuan. Mereka menya- kini bahwa anak perempuan akan membawa kemiskinan dan kesengsaraan.

Selain itu, sistem perbudakan berlaku di masyarakat Arab. Para majikan me- miliki kebebasan mempelakukan budanyaknya. Mereka punya kebebasan me- nyiksa budaknya, bahkan memperlakukan budaknya seperti binatang dan barang dagang yang bisa dijual atau dibunuh. Posisi budak tidak memiliki kebebasan hidup yang layak dan manusiawi.

 

Adapun kondisi ekonomi masyarakat mekah pra islam adalah sebagai berikut:

Bangsa Arab memiliki mata pencaharian bidang perdagangan, pertanian, dan peternakan. Peternakan menjadi sumber kehidupan bagi Arab Badui. Mereka ber- pindah-pindah menggiring ternaknya ke daerah yang sedang musim hujan atau ke pandang rumput. Mereka mengosumsi daging dan susu dari ternaknya. Serta membuat pakaian dan kemanya dari bulu domba. Jika telah terpenuhi kebutu- hannya, mereka menjualnya kepada orang lain. Orang kaya dikalangan mereka terlihat dari banyaknya hewan yang dimiliki.

Selain Arab Badui, sebagian masyarakat perkotaan yang menjadikan peter- nakan sebagai sumber penghidupan. Ada yang menjadi pengembala ternak milik sendiri, ada juga yang mengembala ternak orang lain. Seperti Nabi Muhammad Saw, ketika tinggal di suku Bani Sa’ad, beliau seorang pengembala kambing. Be- gitu juga Umar bin Khaththab, Ibnu Mas’ud dan lain.

Adapun Masyarakat perkotaan yang tinggal di daerah subur, seperti Yaman, Thaif, Madinah, Najd, Khaibar atau yang lainnya, mereka menggantungkan sum- ber kehidupan pada pertanian. Selain pertanian, mayoritas mereka memilih perni- agaan sebagai mata pencaharian, khusunya, penduduk Makkah. Mereka memiliki pusat perniagaan istimewa. Penduduk Makkah memiliki kedudukan tersend- iri dalam pandangan orang-orang Arab, yaitu mereka penduduk negeri Haram (Makkah). Orang-orang Arab lain tidak akan mengganggu mereka, juga tidak akan mengganggu perniagaan mereka. Allah Swt. telah menganugrahkan hal itu kepada mereka.

Artinya : dan Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?

 

Suku Quraisy merupakan pendudukan Makkah yang memegang peranan dalam perniagaan di Jazirah Arab. Mereka mendapat pengalaman perniagaan dari orang-orang Yaman yang pindah ke Makkah. Orang-orang Yaman terkenal ke- ahlianya di bidang perniagaan. Selain itu, kota Makkah memiliki Ka’bah seb- agai tempat orang-orang di jazirah Arab melaksanakan haji. Mereka datang untuk melaksanakan haji setiap tahun.

Kebiasaan Orang-orang Quraisy mengadakan perjalanan perdagangannya ke daerah-daerah lain. Allah Swt. mengabadikan perjalanan dagang mereka sebagai perjalanan dagang yang sangat terkenal, yaitu perjalanan musim dingin menuju Yaman, dan sebaliknya perjalanan dagang musim panas ke Syam.

Orang-orang Arab memiliki pusat-pusat perdagangan yang terkenal seperti Ukazh, Mijannah, dan Zul Majaz. Fungsi pusat perdagangan bukan hanya se- bagai tempat transaksi perdagangan, tetapi juga menjadi pusat pertemuan para sastrawan, penyair, dan orator. Mereka saling menguji kemampuan. Hal ini men- gambarkan bahwa konsep pasar tidak sekadar sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat peradaban, kekayaan bahasa dan transaksi-transaksi global. Bahasa Arab orang-orang Quraisy pada saat itu menjadi bahasa yang paling mu- dah diucapkan, paling enak didengar serta paling kaya perbendaharaan kata dan maknanya.

Dalam bidang ekonomi, riba sudah menjadi tradisi dan lazim dipraktikkan di jazirah Arab. Bahkan Makkah sebagai pusat sudah terpengaruhi sistem riba. Hal ini bisa terjadi karena terpengaruh dengan sistem perdagangan yang dilakukan oleh bangsa lain.

Adapun alat transportasi utama saat itu adalah Unta, yang dianggap sebagai perahu padang pasir. Unta merupakan kendaraan yang menakjubkan. Unta memi- liki kekuatan yang tangguh, mampu menahan haus dan mampu menempuh per- jalanan yang sangat jauh. Unta-onta ini pergi membawa barang dagangan dari satu negeri ke negeri lainnya untuk diperjualbelikan.

[]

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah