Tuesday, November 3, 2015

Sejarah Islam ; Kondisi Politik Masyarakat Arab Sebelum Islam


Sarisejarah.com - Sejarah Islam ; Kondisi Politik Masyarakat Arab Sebelum Islam

Pada masyarakat Arab pra-Islam dapat dibagi menjadi bua bagian berdasarkan atas batas territorial:

  1. Penduduk kota (al-hadharah) yang tinggal di kota perniagaan Jazirah Arabia, seperti Makkah dan Kota Makkah merupakan kota penghubung perniagaan Utara dan Selatan. Para pedagang dengan kabilah-kabilah yang berani membeli barang dagangan dari India dan Cina di Yaman dan menjualnya ke Syiria di Utara.

  2. Penduduk pedalaman yang mengembara dari satu tempat ke tempat Cara mereka hidup adalah nomaden, berpindah dari suatu daerah ke daerah lain, mereka tidak mempunyai perkampungan yang tetap dan mata pencaharian yang tepat bagi mereka adalah memelihara ternak, domba dan unta.


 

Sebelum datangnya Islam, ada tiga kekuatan politik besar yang mempenga- ruhi politik Arab; yaitu kekaisaran Nasrani Byzantium, kekaisaran Persia yang memeluk agama Zoroaster, serta Dinasti Himyar yang berkuasa di Arab bagian selatan.

Kekaisaran Byzantium dan Kekaisaran Romawi Timur dengan ibu kota Kon- stantinopel merupakan bekas Imperium Romawi masa klasik. Pada permulaan abad ke-7, wilayah imperium ini telah meliputi Asia kecil, Siria, Mesir dan seba- gian daerah Italia, serta sejumlah kecil wilayah di pesisir Afrika Utara juga berada di bawah kekuasaannya.

Sedangkan kekaisaran Persia berada di bawah kekuasaan dinasti Sasanid (Sa- saniyah). Ibu kota Persia adalah al-Madana’in, terletak sekitar dua puluh mil di sebelah tenggara kota Baghdad yang sekarang. Wilayah kekuasaannya terbentang

 

 

dari Irak dan Mesopotamia hingga pedalaman timur Iran serta Afganistan.

Kondisi politik jazirah Arab terpengaruhi oleh dua hal, yaitu pertama, interak- si dunia Arab dengan kekaisaran Byzantium dan Persia. Kedua, persaingan antara agama Yahudi, Nasrani dan Zoroaster.

Bangsa Arab terdiri beberapa suku. Mereka memiliki rasa cinta berlebihan terhadap sukunya. Tidak jarang, peperangan terjadi antar suku. Seperti perang Fujjar, perang saudara yang terkenal karena terjadi beberapa kali. Pertama perang antara suku Kinanah dan Hawazan, kemudian Quraisy dan Hawazan serta Kina- nah dan Hawazan lagi. Peperangan Fujjar terjadi 15 tahun sebelum Rasul diutus.

 

Selain itu, di Jazirah Arab terdapat Beberapa kerajaan yang pernah ada, antara

lain:

  1. Kerajaan Kindah (480-529 SM)


Dia adalah satu-satunya kerajaan yang berdiri di tengah-tengah Jazirah Arab di antara hukum yang diatur berdasarkan kabilah. Namun, kerajaan ini be- rumur sangat pendek. Raja pertama kerajaan ini bernama Hajar Akil al-Mirar. Dia tunduk di bawah kerajaan Himyar di Yaman. Cucunya yang bernama Harits bin ‘Amr berhasil meluaskan pengaruhnya ke Hirah. Namun, kerajaan mereka hancur dan kembalilah kerajaannya pada kehidupan kabilah. Penyair yang bernama Im- rul Qais salah seorang pengarang syair-syair masa jahiliah menisbatkan dirinya pada raja-raja Kindah. Dia telah berusaha untuk membangun kembali kerajaan leluhurnya, namun gagal.

 

  1. Kerajaan Ma’in dan Kerajaan Qatban (1200 SM-700 SM)


Kedua kerajaan ini hidup di satu zaman. Keduanya adalah kerajaan paling

awal di Yaman. Namun, sejarah tentang kedua kerajaan itu sangatlah sedikit.

 

  1. Kerajaan Saba’ (955 SM-115 SM)


Kerajaan Saba’ ini berdiri setelah runtuhnya kerajaan Ma’in dan Qatban. Ker- ajaan Saba’ juga meliputi Hadharmaut. Ibu kotanya adalah Ma’rab. Kerajaan ini menjadi terkenal disebabkan dua hal.

Pertama, adanya Ratu Bilqis. Kisah tentang ratu ini dengan Nabi Sulaiman disebutkan dalam surah an-Naml. Kedua, Bendungan Ma’rab yang besar. Bend- ungan ini menjadikan Yaman menjadi sebuah negeri yang makmur dan sejahtera. Namun, kemudian bendungan ini hancur. Maka, terjadilah sebuah bencana air bah yang dahsyat. Akhirnya, penduduk setempat banyak yang pindah ke wilayah utara. Peristiwa ini sekaligus menjadi tanda kehancuran Saba’ dan berdirinya ker- ajaan Himyar.

4. Kerajaan Himyar

Kerajaan ini berdiri setelah runtuhnya kerajaan Saba’ dan menjadikan Zhafar sebagai ibukotanya. Raja-rajanya memberikan gelar kepadanya Tababi’ah. Saba’ dan Himyar meninggalkan peninggalan-peninggalan yang menunjukkan keagun- gan kemajuan yang dicapai dua kerajaan ini.

Kerajaan ini kemudian semakin mundur di akhir-akhir pemerntahannya. Se- hingga, Yaman diduduki oleh orang-orang Romawi dan disusul kemudian oleh Persia.

 

Pendudukan Romawi di Yaman

Dzunuwas raja Himyar yang memeluk agama Yahudi memberi pilihan kepada orang-orang Masehi Najran antara memeluk agama Yahudi atau mereka harus mati. Temyata mereka lebih baik memiliki mati daripada dipaksa harus memeluk agama Yahudi. Maka, dia segera menggali parit dan mereka dibakar di dalam parit itu.

Sebagian mereka melarikan diri dan meminta bantuan kepada penguasa Ha- basyah yang menganut agama Kristen (an-Najasyi) yang kemudian meminta ban- tuan pada kaisar Romawi-pelindung agama Kristen. Kaisar kemudian mengirim- kan kapal perang dan senjata. Maka, Najasyi mampu menaklukkan kota Yaman berkat komandannya yang bernama Arbath.

Pada saat itu salah seorang pembantu dekatnya yang bernama Abrahah melakukan pemberontakan dan akhirnya membunuhnya. Maka, jadilah Abrahah penguasa di Yaman. Peristiwa ini terjadi pada saat hidupnya Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Rasulullah.

  1. Pendudukan Orang-Orang Persia atas Yaman


Salah seorang anak raja Himyar yang bernama Saif bin Dzi Yazan melarikan diri ke Persia. Dia meminta bantuan kepada orang-orang Persia untuk mcnge- luarkan orang-orang Habasyah dari negerinya. Maka, mereka pun bergerak dan mampu mengalahkan orang-orang Romawi.

Kisra Persia memerintahkan agar mengangkat Saif sebagai raja untuk seluruh Yaman. Setelah Saif terbunuh, Kisra mengirim Wahruz menjadi penguasa di Ya- man dan tunduk di bawah pemerintahan Persia. Setelah Wahruz meninggal dia digantikan oleh anak-anak dan cucu-cucunya.

Tatkala Rasulullah diangkat sebagai Rasul, penguasa Yaman asal Persia saat itu adalah Badzan-salah seorang keturunan Wahruz. Rasulullah mengajak Badzan untuk memeluk Islam. la menyambut ajakan itu dan masuk agama Islam.

 

  1. Kerajaan Hirah,


Sejarah kerajaan Hirah ini mulai sejak abad 111 M. dan terus berdiri sampai lahirnya Islam. Kerajaan ini telah berjasa juga terhadap kebudayaan Arab, karena warga negaranya, banyak mengadakan perjalanan-perjalanan diseluruh jazirah Arab terutama untuk berniaga, dalam pada itu mereka juga menyiarkan kepan- daian menulis dan membaca. Karena itu mereka dapat dianggap sebagai pennyiar ilmu pengetahuan di jazirah Arab.

 

 

  1. Kerajaan Ghassan,


Nama Ghassan itu berasal dari mata air di Syam yang disebut Ghassan. Kaum Ghassan memerintah di bagian selatan dari negeri Syam dan di bagian utara dari jazirah Arab. Mereka telah mempunyai kebuayaan yang tinggi, dan menganut agama Masehi yang diterimanya dari bangsa Romawi dan merekalah yang mema- sukkan agama Masehi itu ke jazirah Arab.

 

 

 

  1. Hijaz,


Hijaz berbeda dengan negeri-negeri arab yang lain. Negeri Hijaz belum per- nah dijajah, diduduki dan dipengaruhi negara-negara asing. Hal itu dikarenakan letak geografis dan negeri miskin, sehingga tidak menarik negara-negara lain un- tuk menjajahnya.

Kota terpenting di daerah ini adalah Makkah, tempat ka›bah berada. Pada awalnya, Makkah dan Ka'bah dikuasai oleh Nabi Ismail, kemudian putra sulung- nya Nabit, dan dilanjutkan oleh penguasa-penguasan kabilah Jurhum. Kemudian suku Jurhum diganti oleh suku Khuza’ah, yang datang dari Yaman setelah runtuh- nya bendungan Ma'rib, dan berkusa di Makkah selama 300 th.

Dalam abad ke-5 M, Suku Quraisy merebut kekuasaan Makkah dan Ka’bah dari Khuza’ah. Makkah mengalami kemajuan di bawah kekuasaan Suku Qurai- sy. Untuk mengurus Makkah dan mengamankan para penziarah yang datang ke kota Makkah, suku Quraisy mendirikan semacam pemerintahan. Selain itu, suku Quraisy mangatur urusan yang berkenaan dengan Ka’abah. Ada sepuluh (10) jabatan tinggi yang dibagikan kepada kabilah dari suku Quraisy yaitu :

  1. Hijabah (penjara kunci ka’bah)

  2. Siqayah (penjara air mata Zamzam)



  1. Diyat (Kekuasaan hakim sipil dan criminal)

  2. Sifarah (kuasa usaha Negara atau duta)

  3. Liwa (jabatan ketentaraan)

  4. Rifadah (pengurus pajak bagi fakir miskin)

  5. Nadwah (jabatan ketua dewan)

  6. Khaimman (pengurus balai musyawarah)

  7. Khazinah (jabatan administrasi keuangan)

  8. Azlim (penjaga panah peramal) untuk mengetahui pendapat para dewa-dewa.


 

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah