Tuesday, November 24, 2015

Mengenal Sri Paduka Paku Alam IX


Sarisejarah.com - Mengenal Sri Paduka Paku Alam IX

Sri Paduka Paku Alam IX merupakan wakil gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, beliau beberapa hari yang lalu wafat dalam usia 77 tahun pada 21 November 2015.

Kepergian Sri Paduka meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia, khususnya warga Yogyakarta. Untuk mengenang Sri Paduka Paku Alam IX, berikut ulasan singkat tentang Sri paduka Paku Alam IX yang kami kutip dari Wikipedia:

[caption id="" align="alignnone" width="735"] Sri Paduka Paku Alam IX[/caption]

nama lahir BRMH Ambarkusumo lahir di Pakualaman, 7 Mei 1938 – meninggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 21 November 2015 pada umur 77 tahun) adalah adipati pertama dari Pakualaman yang ditahtakan setelah Indonesia merdeka. Ibundanya bernama KBRAy Purnamaningrum. Pada 26 Mei 1999 KPH Ambarkusumo dinobatkan sebagai KGPAA Paku Alam IX menggantikan mendiang ayahnya Paku Alam VIII.

Dari pernikahannya pada tahun 1966, ia dikaruniai 3 orang putra. Pada tahun 2003 ia diangkat menjadi wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2003-2008, mendampingi Hamengkubuwana X sebagai gubernur. Didampingi Patih Yuswa Asma Buwono.

 

Riwayat hidup

Banyak yang mengatakan bahwa KPH/Pangeran Ambarkusumo yang dinobatkan menjadi Paku Alam IX, bukanlah sosok yang tepat untuk mewarisi tahta Pakualam dan masyarakat Yogyakarta pada umumnya masih banyak yang belum mengenal sosoknya. Selain Sultan Hamengkubuwono, Pakualam juga memiliki peranan yang penting di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sri Paku Alam IX atau yang sebelumnya dikenal dengan nama B. R. M. H. Ambarkusumo ini merupakan putra tertua dari K.G.P.A.A. Paku Alam VIII dan ibundanya K.R.Ay. Purnamaningrum. Ia menikah dengan teman SMA-nya, Koesoemarini, yang merupakan alumni dari Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada pada tahun 1966.

Mereka kemudian dikaruniai 3 orang putra, yakni:

Wijoseno Hariyo Bimo, lahir tahun 1962, seorang ekonom.
Hariyo Seno, lahir tahun 1972, dan
Hariyo Danardono, lahir tahun 1974, seorang mahasiswa.

Putra pertama mereka, Wijoseno Hariyo Bimo menikah dengan Atika Purnomowati, seorang ekonom pula dan dikaruniai dua orang putra. Mereka sekeluarga tinggal di dalam lingkungan istana Pakualaman di Yogyakarta (Suryo S. Negoro).

Kamis (10/5/2012) di Bangsal Kencono Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. KGPAA Pakualam IX mendampingi Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat HB X, mengeluarkan Sabda Tama mengenai KEISTIMEWAAN DIY. Sabda yang dikeluarkan untuk pertamakali sepanjang sejarah Sultan HB X menjadi Raja yang menjelaskan kedudukan DIY sebagai bagian Nusantara yang istimewa dan otonom. []

 

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah