Kehidupan Muslim di Amerika Pasca 11 September 2001

shares |

Sarisejarah.com- Kehidupan Muslim di Amerika Pasca 11 September 2001

Dunia tidak akan pernah melupakan tragedi serangan teroris 11 September 2001 yang meruntuhkan menara kembar WTC. Serangan yang diklaim oleh Amerika didalangi oleh Osama bin Laden itu menjadi titik awal show force Amerika di kawasan kaya minyak, Afganistan.

Peristiwa tersebut tentu berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat di Amerika, terutama masyarakat muslim di Amerika. Mereka diyakini dalam kondisi tertekan dan terintimidasi akibat label muslim yang melekat pada diri mereka. Benarkah demikian?

[caption id="" align="alignnone" width="244"] serangan teroris di gedung WTC, 11 September 2001[/caption]

Jawabnya, peristiwa serangan tersebut tidak berdampak signifikan pada kehidupan muslim di Amerika. mereka tetap saja beribadah sebagaimana biasanya, bahkan ada sebuah fenomena yang menarik dan cenderung tidak masuk di akal. Pada masa pemerintah George Bush dan tokoh-tokoh Amerika, masyarakat Amerika berbondong-bondong masuk Islam justru setelah peristiwa pemboman World Trade Center pada 11 September 2001 yang dikenal dengan 9/11 yang sangat memburukkan citra Islam itu. Pasca 9/11 adalah era pertumbuhan Islam paling cepat yang tidak pernah ada presedennya dalam sejarah Amerika. 8 juta orang Muslim yang kini ada di Amerika dan 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah pemboman itu. Pernyataan syahadat masuk Islam terus terjadi di kota-kota Amerika seperti New York, Wahington, Los Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan yang lainnya.

Atas fakta inilah, ditambah gelombang masuk Islam di luar Amerika, seperti di Eropa dan beberapa negara lain, beberapa tokoh Amerika menyatakan kesimpulannya. The Population Reference Bureau USA Today sendiri menyimpulkan: “Moslems are the world fastest growing group.” Hillary Rodham Cinton, istri mantan Presiden Clinton seperti dikutip oleh Los Angeles Times mengatakan, “Islam is the fastest growing religion in America.” Kemudian, Geraldine Baum mengungkapkan: “Islam is the fastest growing religion in the country” (Newsday Religion Writer, Newsday). “Islam is the fastest growing religion in the United States,” kata Ari L. Goldman seperti dikutip New York Times.

Atas daya magnit Islam inilah, pada 19 April 2007, digelar sebuah konferensi di Middlebury College, Middlebury Vt. untuk mengantisipasi masa depan Islam di Amerika dengan tajuk “Is Islam a Trully American religion?” (Apakah Islam adalah Agama Amerika yang sebenarnya?) menampilkan Prof. Jane Smith yang banyak menulis buku-buku tentang Islam di Amerika. Konferensi itu sendiri merupakan seri kuliah tentang Immigrant and Religion in America. Dari konferensi itu, jelas tergambar bagaimana keterbukaan masyarakat Amerika menerima sebuah gelombang baru yang tak terelakkan yaitu Islam yang akan menjadi identitas dominan di negara super power itu (sumber : dakwah syariah.blogspot)

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa agama Islam di Amerika tidak terpengaruh oleh tragedi serangan teroris tersebut. Masyarakat muslim di Amerika tetap saja beribadah seperti biasanya, bahkan gelombang muallaf (orang yang masuk islam) semakin banyak,. Hal ini menunjukkan bahwa ada daya tarik tersendiri dalam agama islam, muslim di Amerika dapat menunjukkan bahwa Islam tidak seperti yang dicirikan dan digambarkan oleh media mainstream yaitu teroris dan fundamentalis, tetapi mereka menunjukkan bahwa menjadi muslim adalah pilihan yang bersumber dari hati nurani. []

 

Related Posts

0 Komentar: