Gowa Tallo Kerajaan Islam di Sulawesi

shares |

Kerajaan Gowa Tallo merupakan kerajaan islam yang cukup populer di Indonesia khusunya pada masa Islam. Sebagaimana diketahui bahwa Islam tersebar ke Indonesia kira-kira abad ke VII Masehi dimana muncul perkampungan di berbagai pesisir pantai, namun demikian Islam baru tersebar ke sebagian besar wilayah Indonesia terutama jawa pada abad ke XV seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V.

Salah satu bukti masuknya agama Islam ke nusantara adalah dengan munculnya kerajaan bercorak islam, salah satunya di Sulawesi.

Berikut merupakan pembahasan tetnang kerajaan islam di Sulawesi, yaitu kerajaan Gowa Tallo,

Pada awalnya, Kerajaan Gowa-Tallo yang lebih dikenal sebagai Kerajaan Makassar terdiri dari beberapa kerajaan yang bercorak Hindu, antara lain, Gowa, Tallo, Wajo, Bone, Soppeng, dan Luwu. Dengan adanya dakwah dari Dato' ri Bandang dan Dato' Sulaiman, Sultan Alauddin (Raja Gowa) masuk Islam. Setelah raja memeluk Islam, rakyat pun segera ikut memeluk Islam.
Kerajaan Gowa dan Tallo kemudian menjadi satu dan lebih dikenal dengan nama Kerajaan Makassar dengan pemerintahannya yang terkenal adalah Sultan Hasanuddin (1653-1669). Ia berhasil memperluas pengaruh Kerajaan Makassar sampai ke Matos, Bulukamba, Mondar, Sulawesi Utara, Luwu, Butan, Selayar, Sumbawa, dan Lombok.
Hasanuddin juga berhasil mengembangkan pelabuhannya dan menjadi bandar transit di Indonesia bagian timur pada waktu itu. Hasanuddin mendapat julukan “Ayam Jantan dari Timur”. Karena  keberaniannya dan semangat perjuangannya, Makassar menjadi kerajaan besar dan berpengaruh terhadap kerajaan di sekitarnya.
Faktor-faktor penyebab Kerajaan Makassar menjadi besar:
ü  Letaknya strategis, baik sekali untuk pelabuhan
ü  Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis yang menyebabkan pedagang Islam pindah ke Makassar.
Perkembangan Makassar menyebabkan VOC merasa tersaingi. Makassar tidak tunduk kepada VOC, bahkan Makassar membantu rakyat Maluku melawan VOC. Kondisi ini mendorong VOC untuk berkuasa di Makassar dengan menjalin kerjasama dengan Makassar, tetapi ditolak oleh Hasanuddin. Oleh karena itu, VOC menyerang Makassar dengan membantu Aru Palaka yang telah bermusuhan dengan Makassar. Akibatnya, banteng Borombong dan ibu kota Sombaopu jatuh ke tangan musuh, Hasanuddin ditangkap dan  dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (1667).
Isi Perjanjian Bongaya:
1.        VOC memperolehhakmonopoli di Makassar
2.        VOC diizinkan mendirikan benteng di Makassar
3.        Makassar harus melepaskan jajahan seperti Bone
4.        Semua bangsa asing diusir dari Makassar, kecuali VOC
5.        Kerajaan Makassar diperkecil hanya tinggal Gowa saja
6.        Makassar membayar semua utang perang
7.        Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.
Akibat kekalahannya, peranan Makassar sebagai penguasa pelayaran dan perdagangan berakhir. Sebaliknya, VOC memperoleh tempat yang strategis di Indonesia bagian timur. Rakyat Makassar yang tidak mau menerima Perjanjian Bongaya, seperti Kraeng Galesung dan Monte Merano, melarikan diri ke Mataram. Selanjutnya, untuk memperlemah Makassar, banteng Sombaopu dihancurkan oleh Speelman dan benteng Ujung Pandang dikuasai VOC diganti nama menjadi benteng Ford Roterdam.
Dalam bidang kebudayaan, Makassar sebagai kerajaan yang bersifat maritim sedikit meninggalkan hasil-hasil budaya. Peninggalan budaya Makassar yang menonjol adalah perahu pinisi, lambo, dan bercadik. Dalam bidang sastra, diperkirakan sudah lahir beberapa karya sastra. Hanya saja, karya-karya tersebut tidak sampai ke kita. Tetapi pada saat itu sudah ada sebuah buku tentang hukum laut dan perniagaan, yaitu Ade' Allopiloping Bicaranna Pabbalu'e dan naskah lontar karya Amanna Gappa.
Birokrasi Pemerintahan Makassar Di Sulawesi, ditemukan buku kronik, antara lain, Lontara (himpunan cerita yang memuat silsilah raja-raja Gowa, Bone, Wajo, Luwu, dan sebagainya), Sanggala (himpunan cerita yang memuat silsilah raja-raja Toraja), dan I La Galigo (himpunan cerita yang memuat silsilah raja-raja Bugis).
Dari sekian banyak kerajaan di Sulawesi Selatan, ada tiga kerajaan besar, yaitu:
1.        Kerajaan Gowa, rajanya disebut Sombaya ri Gowa (yang disembah di Gowa)
2.        Kerajaan Luwu, rajanya disebut Pajunge ri Luwu atau Mapajunge ri Luwu
3.        Kerajaan Bone, rajanya disebut Mangkau'E ri Bone (yang bertakhta di Bone).
Setelah raja-raja Makassar masuk Islam, mereka bergelar sultan. Dalam menjalankan pemerintahannya, raja dibantu oleh suatu dewan yang disebut Kasuwiyang Salapanga (pangabdi sembilan), kemudian diubah menjadi Bate Salapanga (bendera sembilan). Sebagai pembantu raja yang menjalankan undang-undang pemerintahan, majelis diawasi oleh seorang pemimpin yang disebut Paccalaya (hakim).
Setelah raja, jabatan tertinggi di bawahnya adalah Pabbicarabutta yang dibantu oleh Tumailalang Matowa dan Tumailalang Malolo. Tumailalang Matowa bertugas sebagai pegawai tinggi yang menyampaikan perintah raja kepada majelis Bate Salapanga. Adapun Tumailalang Malolo adalah pegawai tinggi urusan istana. Panglima yang memimpin tentara dalam perang disebut Anrong Guru Lompona Tumakjannangang. Mereka bergelar Karaeng atau Gallareng.
Ada lagi jabatan yang disebut Opu Bali Ranten, yaitu bendahara kerajaan. Selain sebagai bendahara, ia juga mengurus masalah perdagangan dan hubungan ke luar. Bidang agama diurus oleh seorang kadhi yang dibantu oleh imam, khatib, dan bilal.
Raja-raja KerajaanGowaTallo :
1.        Tumanurunga (+ 1300)
2.        Tumassalangga Baraya
3.        Puang Loe Lembang
4.        I Tuniatabanri
5.        Karampang ri Gowa
6.        Tunatangka Lopi (+ 1400)
7.        Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna
8.        Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
9.        Daeng Matanre Karaeng Tumapa' ri si' Kallonna (awalabad ke-16)
10.    I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565)
11.    I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte
12.    I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590).
13.    I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (1593).
14.    I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tuminangari Gaukanna
Berkuasa mula itahun 1593 – wafat tanggal 15 Juni 1639. Merupakan penguasa Gowa pertama yang memeluk agama Islam.
15.    I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminangari Papang Batuna. Lahir11 Desember1605, berkuasa mulai tahun 1639 hingga wafatnya 6 November 1653
16.    I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminangari Balla'pangkana. Lahir tanggal 12 Juni 1631, berkuasa mulai tahun 1653 sampai 1669, dan wafat pada 12 Juni 1670
17.    I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tuminangari Allu'
Lahir 31 Maret 1656, berkuasa mulai tahun 1669 hingga 1674, dan wafat 7 Mei 1681
18.    I Mallawakkang Daeng Mattinri Karaeng Kanjilo Tuminangari Passiringanna
19.    Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenangari Jakattara
Lahir 29 November 1654, berkuasa mulai 1674 sampai 1677, dan wafat 15 Agustus1681
20.    I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminangari Lakiyung. (1677-1709)
21.    La Pareppa Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminangari Somba Opu (1709-1711)
22.    I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminangri Pasi
23.    I Manrabbia Sultan Najamuddin
24.    I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminangri Pasi. (Menjabat untuk kedua kalinya pada tahun1735)
25.    I Mallawagau Sultan Abdul Chair (1735-1742)
26.    I Mappibabasa Sultan Abdul Kudus (1742-1753)
27.    Amas Madina Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka) (1747-1795)
28.    I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminangari Tompobalang (1767-1769)
29.    I Temmassongeng Karaeng Katanka Sultan Zainuddin Tuminangari Mattanging (1770-1778)
30.    I Manawari Karaeng Bontolangkasa (1778-1810)
31.    I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng Lembang Parang Tuminangri Katangka (1816-1825)
32.    La Oddanriu Karaeng Katangka Tuminangari Suangga (1825-1826)
33.    I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminangari Kakuasanna (1826 - wafat30 Januari1893)
34.    I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminangari Kalabbiranna (1893- wafat18 Mei1895)
35.    I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tuminangri Bundu'na. Memerintah sejak tanggal 18 Mei 1895, dimahkotai di Makassar pada tanggal 5 Desember 1895. Ia melakukan perlawanan terhadap Hindia Belanda pada tanggal 19 Oktober 1905 dan diberhentikan dengan paksa oleh Hindia Belanda pada 13 April 1906. Ia meninggal akibat jatuh di Bundukma, dekat Enrekang pada tanggal 25 Desember 1906.
36.    I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminangari Sungguminasa (1936-1946)
37.    Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1946-1960) merupakan Raja Gowa terakhir, meninggal di Jongaya pada tahun 1978.

baca juga kerajaan Islam di Sulawesi yang lainnya, dan kerajaan bone

Related Posts

1 Komentar: