Monday, November 2, 2015

Bagaimana asal usul sejarah Bali?


Sarisejarah.com - Bagaimana asal usul sejarah Bali?

Bali merupakan sebuah pulau kecil di sebelah timur pulau jawa. Bali dikenal sebagai pulau yang sangat indah. Tidak hanya diukur dari keindahan alamnya, tetapi juga memiliki keindahan budaya dan keragaman adat istiadat yang ada di Bali. Oleh sebab itu, Bali menjadi salah satu tempat paling menarik untuk dikunjungi di Indonesia. Konon, saya pernah mendengar bahwa pernah suatu ketika masyarakat dunia lebih mengenal pulau Bali ketimbang Indonesia itu sendiri, tentu ini merupakan sebuah sanjungan untuk keindahan pulau Bali tanpa bermaksud merendahkan negara tercinta ini. Berikut merupakan sejarah Bali.

[caption id="attachment_1347" align="aligncenter" width="300"]Peta Pulau Bali Peta Pulau Bali[/caption]

IB Putu Bangli dari Griya Taman Bali, Desa Adat Sanur Kaja menguraikan tiga nama untuk Pulau Bali yakni wali, bali, dan banten. Sebagaimana ditulisnya dalam buku, Mutiara dalam Budaya Hidu Bali (2005) ketiga istilah itu memiliki makna yang sama yakni ‘persembahan’.
Selain wali dan bali, ada juga kata lain yang dipakai menamakan Pulau Bali yakni banten.
Hal ini, menurut IB Bangli, dapat ditemukan dalam prasasti Tengkulak A yang bertahun Saka 945 (1023 Masehi). Prasasti ini memuat kata-kata “……siniwi ring desa banten….” yang artinya “dihormati di Pulau Bali”.
Prasasti Blanjong disebut-sebut sebagai prasasti tertua yang ditemukan di Bali
Jika merunut prasasti-prasasti yang ditemukan di Bali, ketiga nama itu memang paling banyak disebut. Dalam Prasasti Blanjong yang berangka tahun 835 Saka (913 Masehi) Di Prasasti yang dikeluarkan olah raja Sri Kesari Warmadewa ini tertera kata ‘walidwipa’.
Selanjutnya,pada Prasasti Gobleg, Pura Desa II yang berangka tahun 905 Saka (983 Masehi) Diperkirakan prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Sriwijaya Mahadewi ditemukan kata ‘bali’. Dalam prasasti ini ditemukan kata-kata “…..siwyan…..dini di Bali….” yang artinya ‘dihormati di sini di Bali’.
Kata ‘bali’ untuk menyebut nama Pulau Bali ini juga ditemukan ditemukan dalam Prasasti Raja Jayapangus antara lain dalam prasasti Buahan D (1103 Saka). Dalam prasasti ini ditemukan kalimat berbunyi, “…..pinaka pangupajiwaning jiwa jiwa wardhana ring Bali Dwipa”…..yang artinya ‘merupakan sumber penghidupan demi pertumbuhan setiap penduduk di Pulau Bali.
Jika dicermati, ada kesamaan antara kata ‘wali’ dan ‘bali’. Dalam bahasa Bali, fonem ‘w’ dan ‘b’ berkorespondensi atau memiliki kepadanan. Contoh mengenai hal ini dapat dilihat pada kata weringin dan beringin, waruna dan baruna, wanwa dan banwa. Karena itu, maka kata wali dan bali sejatinya sama.
Pada prasasti Langgahan yang dibuat pada tahun 1257 Saka atau 1335 Masehi, pada masa raja terakhir dari kerajaan Bali Kuna yaitu Raja Bharata Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Bharata sri adalah sebutan untuk raja, Astasura adalah Delapan Dewa, Ratna berarti Permata, Bumi berarti pulau, Banten merupakan nama pulau Bali) juga tertulis nama pulau Bali dengan sebutan Bumi Banten (sesuai dengan gelar rajanya). Raja ibarat delapan dewa (penguasa arah mata angin) sebagai permatanya Pulau Banten.
Selain prasasti Langgahan kata Banten juga muncul pada prasasti Kapal yang diperkirakan dikeluarkan oleh Raja Jayasakti yang berisi anugerah keringanan pajak kepada desa Kapal, tetapi nama Banten pada Prasasti Kapal ini menyebutkan Banten adalah nama desa bukan nama pulau.
Kata banten pun, menurut IB Bangli, memiliki makna yang sama dengan wali dan bali yakni 'persembahan'. Kata Bali dianalogikan dengan perubahan kata sebagai bentuk ungkapan halus dalam Bahasa Bali seperti kata sari dengan santen (sari), negari dengan negantun (negara), sesari dengan sesantun (isi) inti dari persembahan, kari dengan kantun (masih).
Wiana menyebut sumber tertua yang menggunakan istilah Bali adalah kitab Rgveda pada bagian kitab Satapatala Brahmana 11.5.6.1. Karena itu istilah Bali bukan hanya digunakan menamakan pulau Bali saja. Jauh sebelumnya kata Bali digunakan untuk menyebutkan banyak hal terutama dalam kebudayaan Bindu India.
“Upacara yang ditujukan kepada bhuta (unsur yang membentuk alam) disebut juga Bali oleh kitab Rg Veda. Begtitu juga dalam kitab Manawa Dharmasastra. III. 70. 74. dan 81, kata Wiana.
Di dalam kitab itihasa dan purana juga banyak dijumpai istilah Bali. Misalnya dalam Wisnu Purana dan Matsya Purana menceritakan Maha Bali Putra dari Wairocana dan cucu Prahlada. Ada juga cerita Bhagawata Purana Raja Bali yang mendapatkan penyupatan dari Wamana penjelmaan Dewa Wisnu. Di dalam kitab Siwa Purana disebutkan Dewa Siwa bereinkarnasi menjadi Raja Bali di pertapaan Balakhilya di Gunung Gandhamadana selama periode 14 Manu.
Karena itulah, Wiana berpendapat istilah Bali yang dipakai sekarang bukan berasal dari bahasa Bali. Nama Bali sebagai nama pulau maupun sebagai nama Menurut Wiana, Bali berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya ‘kekuatan yang maha agung’ (the powerfull).
“Pengaruh kebudayaan India di Indonesia termasuk Bali sudah sangat tua sehingga sangat sulit melacak kapan pulau kita ini mulai bernama Bali,” kata Wiana.
Selain prasasti-prasasti diatas, dalam sumber-sumber sastra seperti Babad, Purana, Pemancangah, pulau Bali disebut dengan Bansul atau Wangsul yang diambil dari bahasa Jawa yang berarti kembali.
Pada masa abad 6 Masehi dinasti T’ang di China,nama Bali pun muncul dengan sebutan meng-li, po-li dan dwa-pa-tan yaitu nama suatu daerah yang terletak disebelah timur Ho-ling (kerajaan Kalingga) dan Che-po (Jawa).
Para pelaut asing sendiri baru mengenal Bali mulai abad ke-16. Sebelum dikenal dengan sebutan Pulau Bali, para pelaut asing dulunya menyebut Pulau Bali dengan berbagai sebutan seperti Bally, Boly, atau Ballie. seorang pelaut Bangsa Spanyol Fernao Mendez Pinto menyebut Bali sebagai Java Minor. Malah dia sempat menyangka Bali sebagai bagian dari kerajaan Demak.
Catatan tertua mengenai Bali dibuat seorang Belanda bernama Lintgens. Ia merupakan salah seorang anak buah kapal yang dinakhodai oleh pelaut bangsa Belanda, Cornelis de Houtman mengenal pulau mungil ini dengan nama Baelle .
Dalam laporannya, ia banyak menyanjung keindahan alam dan budaya kehidupan Bali. Zaman itu masyarakat dunia belum tertarik kepada Bali, karena tidak ada barang dagangan di Bali, seperti kayu cendana atau rempah-rempah.
Bangsa Belanda mulai tertarik pada Bali pada tahun 1601, dimana Belanda mengirim utusan resmi ke Bali di bawah pimpinan Admiral Cornells van Heemskerck dengan membawa surat dan hadiah-hadiah berharga dari raja Belanda Prince Maurits. Raja yang berkuasa di Bali waktu itu menyambut baik utusan ini, dan ada kata-kata dari Raja: “Bali dan Belanda adalah satu”.
Sampai sekarang pulau Bali yang mungil ini tetap menjadi “santapan yang lezat” bagi para peneliti baik yang tua maupun peneliti muda dari seluruh dunia. Sepertinya mereka berlomba untuk membuka tabir yang menyelimuti kekayaan budaya Bali yang dianggap masih penuh misteri dengan kulitnya yang berlapis-lapis.

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah