Sejarah Kerajaan Sriwijaya

shares |

Sarisejarah.com - Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan sriwijaya berkembang sekitar abad 7 M. pendirinya adalah Dapunta Hyang (prasasti kedukan bukit). Pada mulanya letak sriwijaya tidak di Palembang, melainkan di Muara Takus atau minanga Tamwan yaitu daerah pertemuan antara sungai Kampar kanan dan Kampar kiri. Pendapat ini diperkuat dengan pendapat I-Tsing yang mengatakan bahwa daerah sriwijaya dilalui garis khatulistiwa. Daerah yang dimaksud adalah daerah pertemuan antara sungai Kampar kanan dengan Kampar kiri atau muara takus. Baru setelah berhasil meluaskan wilayahnya ibu kota sriwijaya pindah ke Palembang.

Sumber Sejarah

Sumber-sumber yang memperkuat adanya kerajaan sriwijaya berupa :

Sumber berita china yang menyebutkan di sebuah pulau di laut selayan (sumatera) ada Negara yang bernama Kan-to-li, yang pernah mengirimkan utusannya ke china abad 5 hingga pertengahan abad 6. Pendapat ini diperkuat oleh I-Tsing yang mengatakan negerinya dikelilingi oleh benteng-benteng. Di negeri ini banyak pendeta belajar agama budha. Pendeta china yang akan belajar ke india dianjurkan belajar dahulu di sriwijaya selama 2 tahun di bawah bimbingan pendeta sakyakirti.

Sumber tertulis berupa 5 buah prasasti yang ditulis dalam huruf palawa  dengan bahasa melayu kuno, prasasti tersebut antara lain :

Prasasti kedukan bukit

Prasasti ini ditemukan di tepi sungai tatang-palembang. Berangka tahun 683 M/605 caka. Prasasti talang tuo, Prasasti telaga batu, Prasasti kota kapur dan karang birahi

Keadaan Sosial ekonomi

Masyarkaat sriwijaya hidup dari berdagang. Kondisi yang baik dan menguntungkan ini menyebabkan sriwijaya menjadi pusat perdagangan nasional dan pusat pedagangan di asia tenggara. Sriwijaya banyak dikunjungi pedagang-pedangan dari luar seperti india, birma, siam, Persia dan philipina serta china. Barang dagangannya antara lain kapur, penyu dan daging. Sebagai pusat perdagangan sriwijaya banyak memperoleh pemasukan dari :

  • Bea cukai barang

  • Bea cukai keluar masuk kapal

  • Hasil keuntungan perdagangan sriwijaya dan

  • Upeti dari daerah taklukan


Agama Buddha

[caption id="attachment_1262" align="aligncenter" width="261"]ilustrasi kehidupan di kerajaan Sriwijaya ilustrasi kehidupan di kerajaan Sriwijaya[/caption]

Agama budha yang berkembang di siriwijaya adalah budha Mahayana. Kedudukan sriwijaya sebagai pusat perdagangan di asia tenggara sangat menguntungkan perkembangan agama budha di sriwijaya. Sehingga akhirnya sriwijaya berhasil menjadikan kerajaanya sebagai pusat agama budha di asia tenggara. Guru agama budha di sriwijaya yang terkenal adalah Sakyakirti dan Dharmakirti.

Untuk meningkatkan kualitas sriwijaya sebagai pusat agama budha, sriwijaya mengadakan kerjasama dengan kerajaan pala di india. Hal ini dapat diketahui dari isi prasasti nalanda (860) yang berisi “pembebasan pajak beberapa buah desa agar memberi nafkah kepada para biksu dalam sebuah wihara yang dibangun oleh balaputradewa.

Kebudayaan

Kerajaan sriwijaya adalah kerajaan maritim yang memperhatikan masalah kebudayaan. Ada sebuah peninggalan yang berupa candi yang memperkuat keberadaan sriwijaya yaitu candi muara takus

Hubungan Sriwijaya dengan Kerajaan Mataram

Pada masa pemerintahan darmasetu, Sriwijaya pernah mengadakan hubungan persahabatan dengan mataram. Ketika mataram diperintah oleh dinasti syailendra. Peristiwa ini dapat kita lihat dari isi prasasti ligor (775) yang menyebut-nyebut nama dinasti saylendra (wisnu). Untuk mempererat hubungan kedua kerajaan kemudian diadakan perkawinan politik antara samaratungga (putra raja indra) dengan  Dewi Tara (putrid Darmasetu) yang melahirkan balaputradewa. Balaputradewa kelak menjadi raja sriwijaya.

Hubungan Sriwijaya dengan India

Hubungan sriwijaya dengan india dilakukan dengan kerajaan pala dan cola. Hubungan sriwijaya dengan pala dititikberatkan pada bidang agama dan kebudayaan. Peristiwa ini dapat kita ketahui dari isi prasasti nalanda (860) yang menyebutkan “pembebasan pajak beberapa buah desa agar dapat memberikan nafkah kepada para biksu dalam sebuah wihara yang dibangun oleh balaputradewa di benggala”

Sementara itu hubungan dengan kerajaan cola yang semula berjalan baik, berubah menjadi permusuhan ketika cola diperintah oleh raja Rajendracola. Rajendracola menyerang sriwijaya pada tahun 1023 dan berhasil membinasakan kerajaan sriwijaya. Prasasti ini dimuat dalam prasasti Tanjore tahun 1030M

Keruntuhan Sriwijaya

Kerajaan sriwijaya pernah jaya sejak abad 8M mulai abad 12 mengalami kemunduran. Adapun factor-faktor penyebabnya adalah :

  • Bandar sriwijaya semakin lama letaknya semakin jauh dengan pantai

  • Adanya ekspedisi pamalayu dari singasari

  • Serangan kubilai khan

  • Persaingan dengan islam

  • Harga barang-barang di sriwijaya dan bea cukai di sriwijaya semakikin mahal

  • Akibat serangan majapahit 1377M


 

Related Posts

0 Komentar: