Tuesday, October 13, 2015

Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa


Sarisejarah.com - Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa

Berikut ini dipaparkan tentang beberapa ketentuan sistem tanam paksa, pelaksanaan sistem tanam paksa, dan dampak tanam paksa.

Akhirnya pada tahun 1830,Pemerintah Belanda mengangkat Gubernur Jenderal Van den Bosch untuk menyelamatkan ekonomi Belanda.

Gubernur Jenderal Johanes Van den Bosh mengeluarkan gagasan yang terkenal dengan nama Cultuurstelsel atau sistem tanam paksa.Gagasan ini bertujuan memperoleh keuntungan sebanyak mungkin dari Indonesia dalam waktu yang singkat.Selain pemerintah Belanda berharap dapat mengumpulkan sejumlah tanaman yang akan didistribusikan ke pasaran eropa atau Amerika.Jenis tanaman yang diusahakan harus mengikuti ketentuan pemerintah kolonial.

Untuk melaksanakan sistem tanam paksa ini,Pemerintah Belanda mengeluarkan aturan-aturan yang di muat dalam lembaran negara (Staat Bald) nomor 22 tahun 1934.

 

Aturan tersebut berbunyi sebagai berikut :

  • rakyat harus menanami 1/5 dari tanah yang dimilikinya dengan tanaman ekspor seperti kopi, tebu, teh dan tembakau,

  • hasil tanaman harus dijual kepada pemerintah dengan harga yang ditetapkan pemerintah,

  • tanah yang ditanami tanaman ekspor tersebut bebas dari pajak tanah,

  • kaum petani tidak boleh disuruh bekerja lebih keras daripada bekerja untuk penanaman padinya,

  • rakyat yang tidak memiliki tanah dikenalkan kerja rodi selama 65 hari setiap tahun di tanah milik pemerintah,

  • kerusakan tanaman menjadi tanggungan pemerintah, apabila itu bukan karena kesalahan rakyat.


Pelaksanaan Tanam Paksa

Melalui sistem itu, Belanda memperoleh hasil yang besar dengan modal yang kecil. Pelaksanaan tanam paksa diserahkan kepada kepala-kepala daerah yang mendapat Cultuur Procenten atau hadiah menurut banyaknya hasil. Oleh karena itu, rakyat diperas oleh kepala-kepala daerah bangsa sendiri dengan harapan akan mendapatkan Cultuur Procenten dari Belanda.

Sepintas peraturan tanam paksa ini tidak begitu berat dirasakan oleh rakyat kalau dibandingkan dengan peraturan kerja rodi pada zaman Daendels, dan peraturan pajak pada zaman Raffles. Bahkan hal ini dirasakan oleh para petani merupakan suatu keuntungan karena akan mendapat keringanan dan akan menerima uang tunai meskipun dengan harga murah. Akan tetapi dalam prakteknya semua peraturan tersebut dilanggar. Pertama, bukan 1/5 dari tanah petani yang ditanami, tetapi 1/4, 1.3, bahkan setengah dari tanah milik petani digunakan untuk tanaman ekspor. Bahkan penanaman tersebut memilih tanah-tanah yang dubur. Kedua, tanah yang dipakai untuk keperluan penanaman tanaman ekspor tersebut tetap dikenakan pajak. Ketiga, para petani harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengerjakan tanaman pemerintah, sehingga tidak ada waktu untuk menggarap sawahnya sendiri. Keempat, para kepala daerah merasa tergiur dengan cultuur procenten, akibatnya mereka mulai berlomba-lomba mengusahakan daerahnya agar memberikan hasil sebanyak mungkin. Ulah mereka itu mengakibatkan rakyat semakin menderita. Kelima, kegagalan panen akibat hama atau banjir pada kenyataannya menjadi beban petani. Keenam, bukan 65 hari lamanya rakyat harus bekerja rodi, melainkan menurut keperluan pemerintah.

Dampak Sistem Tanam Paksa

[caption id="attachment_1222" align="aligncenter" width="300"]situasi pelaksanaan tanam paksa situasi pelaksanaan tanam paksa[/caption]

Rakyat sangat menderita, kelaparan terjadi dimana-mana akibatnya jumlah kematian meningkat. Orang yang menentang kerja paksa disiksa. Demikianlah penderiataan rakyat pulau Jawa akibat tanam paksa yang diciptakan oleh Van den Bosch. Belanda memperoleh keuntungan besar, sedangkan keuangannya menjadi normal kembali. Pembangunan di negeri Belanda dibiayai dari hasil tanam paksa.

Tanam paksa terutama dilakukan di pulau Jawa sebab daerahnya subur untuk ditanami tanaman ekspor yang dikehendaki pemerintah, di samping itu penduduknya padat.

Tanam paksa dengan cara sewenang-wenang itu berjalan hampir setengah abad dari tahun 1830 sampai 1870. Dapat kita bayangkan betapa besar kesengsaraan yang diderita rakyat, tertama di Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Meskipun tanam paksa sudah menyimpang dari teori yang diciptakan Van den Bosch, pemerintah Belanda tidak mau peduli sebab tanam paksa telah memberikan keuntungan yang sangat besar. []

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah