Perbedaan kebudayaan pacitan dan ngandong

shares |

Sarisejarah.com – perbedaan kebudayaan Pacitan dan Ngandong

Kebudayaan Pacitan dan Ngandong merupakan hasil-hasil peralatan manusia yang menjadi ciri khas kehidupan pada zaman Paleolithikum (Zaman batu Tua). Meski sama-sama berasal dari zaman Paleolithikum, tetapi tentu ada karakteristik yang membedakan antara dua kebudayaan tersebut, yaitu berkaitan dengan bahan utama yang digunakan dalam pembuatan peralatan khas zaman paleolithikum tersebut, yaitu batu dan tulang. Oleh sebab itu, seringkali para ahli menyebut bahwa kebudayaan pacitan dan Ngandong disebut kebudayaan batu dan tulang. Berikut penjelasan tentang kedua kebudayaan tersebut:

a. Kebudayaan Pacitan

Pacitan dikenal sebagai situs praaksara yang cukup banyak ditemukan artefak-artefak purba. Diantaranya berupa Pahat genggam (hand adze). Alat pahat genggam ini merupakan alat batu inti yang dicirikan oleh bentuk alat yang persegi atau bujur sangkar dengan sisi tajam pada bagian yang tegak lurus pada sumbu alat.

Selain itu dikenal pula Kapak genggam awal (proto-hand axe), Kapak perimbas (chopper), yaitu Alat batu inti atau serpih yang dicirikan oleh tajaman monofasial yang membulat, lonjong, atau lurus, dihasilkan melalui pangkasan pada satu bidang dari sisi ujung (distal) ke arah pangkal (proksimal).

Bila anda susah untuk membedakan kapak peribas dengan serut, sebenarnya mudah. Ciri yang membedakan kapak perimbas dengan serut adalah ukuran dimana serut masih dikerjakan secara kasar dan masih digolongkan sebagai kapak perimbas, sementara yang halus dan kecil digolongkan serut. Kebudayaan ini berkembang di daerah Pacitan, Jawa Timur. Beberapa alat dari batu ditemukan di daerah ini.

Seorang yang berjasa dalam penelitian di pacitan adalah seorang ahli bernama Von Koenigwald. Ia melakukan penelitian pada tahun 1935 dimana ia berhasil menemukan beberapa hasil teknologi bebatuan atau alat-alat dari batu di daerah Punung. Alat batu itu masih kasar, dan bentuk ujungnya agak runcing, tergantung kegunaannya. Alat batu ini sering disebut dengan kapak genggam atau kapak perimbas. Kapak ini digunakan untuk menusuk binatang atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian. Di samping kapak perimbas, di Pacitan juga ditemukan alat batu yang disebut dengan chopper sebagai alat penetak. Di Pacitan juga ditemukan alat-alat serpih.

manusia purba menggunakan alat

b. Kebudayaan Ngandong

Adapun kebudayaan Ngandong berkembang di daerah Ngandong dan juga Sidorejo, dekat Ngawi. Di daerah ini banyak ditemukan alat-alat dari batu dan juga alat-alat dari tulang. Alat-alat dari tulang ini berasal dari tulang binatang dan tanduk rusa yang diperkirakan digunakan sebagai penusuk atau belati. Selain itu, ditemukan juga alat-alat seperti tombak yang bergerigi. Di Sangiran juga ditemukan alat-alat dari batu, bentuknya indah seperti kalsedon. Alat alat ini sering disebut dengan flakke. Sebaran artefak dan peralatan paleolitik cukup luassejak dari daerah-daerah di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT),dan Halmahera.

Dengan demikian jelaslah diketahui bahwa terdapat perbedaan antara kebudayaan Pacitan dan Ngandong, yaitu pada bahan peralatan yang digunakan untuk menciptakan alat tersebut. Jika pada situs Pacitan didominasi peralatan dari batu, maka kebudayaan Ngandong lebih banyak didominasi penemuan peralatan yang berbahan tulang. Demikian pembahasan tentang perbedaan kebudayaan pacitan dan ngandong, semoga bermanfaat []

Related Posts

1 Komentar: