Wednesday, September 9, 2015

memahami kjokkenmoddinger dan abris sous roche


Kjokkenmoddinger dan Abris Sous Roche merupakan dua temuan yang khas pada masa mesolithikum. Zaman Mesolithikum seringkali disebut zaman batu madya dimana kebudayaan terus berkembang lebih baik daripada zaman sebelumnya. Memasuki zaman batu madya atau batu tengah yang dikenal zaman mesolitikum ini,hasil kebudayaan sudah lebih maju apabila dibandingkan hasil kebudayaan zaman paleolitikum. Meski begitu, bentuk dan hasil-hasil kebudayaan zaman paleolitikum (batu tua) tidak serta merta punah, melainkan terus mengalami penyempurnaan.

Misalnya, bentuk flakke dan alat-alat dari tulang terus mengalami perkembangan. Secara garis besar kebudayaan mesolitikum ini terbagi menjadi dua kelompok besar yang ditandai lingkungan tempat tinggal, yakni di pantai dan di gua. Kebudayaan pantai diwakili oleh temuan berupa kjokkenmoddinger, sedangkan kebudayaan gua diwakili oleh temuan berupa abris sous roche. Bagaimana penjelasannya? simak ulasan berikut ini.

a. Kebudayaan Kjokkenmoddinger

kata Kjokkenmoddinger secara istilah dari bahasa Denmark, yaitu kjokken yang berarti dapur dan modding dapat diartikan sampah (kjokkenmoddinger = sampah dapur). Dengan demikian dalam kaitannya dengan budaya manusia, kjokkenmoddinger merupakan tumpukan atau timbunan kulit siput dan kerang yang menggunung di sepanjang pantai. Kjokkenmoddinger banyak ditemukan di sepanjang pantai di Sumatra Timur antara Langsa di Aceh sampai Medan.

Dengan kjokkenmoddinger ini dapat memberi informasi bahwa manusia purba pada zaman mesolitikum umumnya bertempat tinggal di tepi pantai. Hal ini dibuktikan dengan temuan pada tahun 1925 oleh Von Stein Callenfals yang melakukan penelitian di bukit kerang itu dan menemukan jenis kapak genggam (chopper) yang berbeda dari chopper  yang ada di zaman paleolitikum. Kapak genggam yang ditemukan di bukit kerang di pantai Sumatra Timur ini diberi nama pebble atau lebih dikenal dengan Kapak Sumatra. Kapak jenis pebble ini terbuat dari batu kali yang pecah, sisi luarnya dibiarkan begitu saja dan sisi bagian dalam dikerjakan sesuai dengan keperluannya. Di samping kapak jenis pebble juga ditemukan jenis kapak pendek dan jenis batu pipisan (batu-batu alat penggiling). Di Jawa batu pipisan ini umumnya untuk menumbuk dan menghaluskan jamu.

b. Kebudayaan Abris Sous Roche

Sementara itu kebudayaan gua juga merupakan temuan yang khas pada masa mesolithikum. Kebudayaan abris sous roche merupakan hasil kebudayaan yang ditemukan di gua-gua. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia purba pendukung kebudayaan ini tinggal di gua-gua. Kebudayaan ini pertama kali dilakukan penelitian oleh Von Stein Callenfels di Gua Lawa dekat Sampung, Ponorogo. Penelitian dilakukan tahun 1928 sampai 1931.

abris sous roche

Beberapa hasil teknologi bebatuan yang ditemukan misalnya ujung panah, flakke, batu penggilingan. Juga ditemukan alat alat dari tulang dan tanduk rusa. Kebudayaan abris sous roche ini banyak ditemukan misalnya di Besuki, Bojonegoro, juga di daerah Sulawesi Selatan seperti di Lamoncong.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang Kebudayaan Kjokkenmoddinger dan Kebudayaan Abris Sous Roche ini kamu dapat membaca buku R.Soekmono, yaitu pengantar sejarah kebudayaan Indonesia jilid 1.

Demikianlah pembahasan tentang kebudayaan kjokkenmoddinger dan abris sous roche, semoga bermanfaat []

1 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah