Keterkaitan antara VOC, tanam paksa dan kemiskinan Indonesia

shares |

Berikut merupakan salah satu karya siswa ketika saya meminta mereka untuk membuat tulisan dengan tema, “keterkaitan antara VOC, Tanam Paksa, dan Kemiskinan Indonesia”. Tema ini disajikan dalam rangka evaluasi pembelajaran tentang kolonialisme dan imperialisme bangsa Eropa di Indonesia. Setelah saya selesai mengantarkan mereka mempelajari materi, saya meminta mereka membuat tulisan ini. Jadi, tulisan ini adalah satu dari puluhan tulisan karya siswa, semoga memberi manfaat.

 

Keterkaitan antara VOC, tanam paksa dan kemiskinan Indonesia

Sejak datangnya Cornelis de Houtman ke Indonesia, nusantara menjadi tempat utama sebagai buruan bangsa-bangsa barat. Hal ini dikarenakan komoditas rempah-rempah yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Eropa menyebabkan bangsa bangsa barat berlomba untuk mengeksploitasi kekayaan bumi nusantara.

Nafsu serakah inilah yang kemudian mengilhami berdirinya VOC oleh kerajaan Belanda. Mereka menyadari, apabila kongsi dagang tidak didirikan, maka Belanda kalah dalam persaingan dengan Portugis maupun Inggris. Oleh sebab, dalam memenuhi nafsu serakahnya itu, Belanda mau tidak mau harus bersatu. Inilah yang mendasari berdirinya VOC.

Dalam kurun waktu kurang dari 200 tahun, VOC berhasil mengeruk keuntungan yang sangat banyak dari bumi Indonesia. Kejayaan inilah yang rupanya ingin diulangi oleh Johanes Van Den Bosch.

Dengan metodenya yang melakukan pemaksaan kepada masyarakat untuk menanam tanaman yang laku keras di pasar Eropa, diantaranya dengan hak estirpasi, pelayaran hongi, leveransi dan kontingenten, menjadi masa suram kehidupan masyarakat dibawah rezim kompeni. Situasi yang sangat berbalik dimana para pejabat VOC merasakan gelimang harta.

 

[caption id="attachment_1100" align="aligncenter" width="300"]tanam paksa tanam paksa[/caption]

Mengenang kejayaan VOC

Sebagaimana disampaikan di atas, Van den Bosch berupaya mengadopsi sistem yang diterapkan VOC untuk mendulang keuntungan berlipat dari penanaman tanaman ekspor. Ia meyakini bahwa cara-cara paksaan adalah cara yang efektif untuk percepatan perolehan keuntungan sebagaimana dilakukan oleh VOC.

Dengan demikian, aturan-aturan tanam paksa yang dirumuskan – dimana sebenarnya tidak terlalu memberatkan rakyat apabila dilaksanakan secara konsekuen – telah menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi rakyat.

Upaya Belanda untuk melakukan sistem tanam, tidak terlepas dari beberapa kondisi yang melanda negeri Belanda, yaitu kosongnya kas pemerintah Belanda. Hal ini dikarenakan banyaknya biaya yang tersedot keluar untuk membiayai perang melawan Belgia yang melepaskan diri, serta memadamkan perlawanan Diponegoro maupun Paderi. Sementara itu, sistem tanam bebas warisan Raffles tidak menguntungkan ekspor. Inilah beberapa penyebab yang melatarbelakangi diterapkannya sistem Tanam Paksa oleh Van Den Bosch.

Menyengsarakan rakyat

Kemiskinan, kelaparan, kematian adalah bencana yang nyata sebagai dampak diterapkannya sistem tanam paksa. Hal ini dikarenakan adanya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaannya yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Sebagai contoh, lahan yang seharusnya digunakan untuk menanam tanaman ekspor tidak lebih dari seperlima, tetapi nyatanya melebihi luas tanah tersebut, bahkan waktu pengerjaannya menjadi over yang sebelumnya ditetapkan tidak boleh melebihi waktu untuk mengerjakan tanaman padi. Penyimpangan inilah yang menyebabkan penderitaan berkepanjangan selama era tanam paksa. Sekalipun tanam paksa memberikan dampak positif, misalnya dengan dibangunnya sarana prasarana dan transportasi – kereta api dan pelabuhan untuk mengangkut tanaman ekspor yang sampai saat ini masih dapat kita rasakan – tetapi hal tersebut tetap tidak sebanding dengan penderitaan dan kesengsaraan rakyat, bisa dikatakan tanam paksa, baik yang dilakukan oleh VOC maupun era Van Den Bosch tercatat sebagai salah satu bencana kemanusiaan yang pernah dialami bangsa ini. []

 

 

Related Posts

0 Komentar: