Kisah para nelayan yang diazab oleh Allah SWT

shares |

[caption id="attachment_825" align="aligncenter" width="300"]nabi Daud Kisah para nelayan yang diazab oleh Allah SWT[/caption]

Kisah para nelayan yang diazab oleh Allah SWT ini merupakan bagian dari kisah Nabi Daus As. Dikisahkan bahwa pada hari sabtu adalah hari yang ditetapkan bagi Bani Isra’il untuk beribadah kepada Allah SWT. hari sabtu adalah hari yang disucikan bagi umat bani isra'il, mereka dilarang untuk beraktivitas kecuali untuk beribadah kepada Allah SWT. Mereka wajib untuk mensucikan diri, mengagungkan ALLAH SWT, bertakbir, bertasbih, dan bertahmid kepada ALLAH SWT. Pada hari sabtu, mereka hendaknya memperbanyak amal shaleh. Bagi mereka diharamkan pada hari tersebut untuk memalukan aktivitas duniawi, seperti berdagang atau mencari ikan. Ketetapan ini telah ada sejak Nabi Musa As memimpin bani Isra’il.

Demikianlah rutinitas masyarakat bani Israil pada setiap minggunya di hari sabtu. Mereka hanya beribadah dan berbuat amal-amal kebajikan yang diperintahkan oleh agama. Hari demi hari berganti, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun namun adat kebiasaan mensucikan hari Sabtu tetap dipertahankan turun temurun dan generasi demi generasi.

Pada masa Nabi Daud berkuasa, terdapat sebuah desa bernama "Ailat" yaitu suatu desa yang terletak di tepi Laut Merah. Pada desa tersebut bermukim sekelompok kaum dari keturunan Bani Isra'il yang memiliki mata percahariannya sebagai nelayan, perdagangan dan pertukangan yang dilakukannya setiap hari kecuali hari Sabtu.
Setiap hari Sabtu, maka pasar-pasar dan tempat-tempat perniagaan di desa itu menjadi sepi, hal ini menyebabkan ikan-ikan di laut tampak terapung-apung di atas permukaan air, seolah olah menikmati kebebasan dan mengelilingi dua buah batu besar berwarna putih terletak ditepi laut dekat desa Ailat. Ikan-ikan itu seolah-olah mengetahui bahwa pada hari Sabtu merupakan hari yang aman dari kejaran manusia yang hendak menangkap mereka, sehingga mereka bermunculan di atas permukaan air tanpa mendapat gangguan sedikitpun dari para nelayan. Tetapi begitu matahari terbenam pada hari Sabtu, ikan-ikan itu kembali ke perut dan dasar laut sesuai dengan naluri yang dimiliki oleh tiap binatang makhluk Allah.

Para nelayan desa Ailat pada hari-hari biasa tidak pernah melihat ikan begitu banyak terapung-apung di atas permukaan air, bahkan sangat sulit bagi mereka untuk menangkap ikan sebanyak yang diharapkan. Oleh sebab itu, ketika mereka melihat ikan-ikan bermunculan pada hari sabtu, mereka berfikiruntuk menangkap ikan pada tiap malam Sabtu hingga sabtu sore. Mereka tak lagi menghiraukan perintah agama dan adat kebiasaan yang sudah berlaku sejak Nabi Musa memerintahkannya.

Suatu ketika mereka pergi beramai-ramai ke pantai menangkap ikan di malam dan hari yang terlarang itu, sehingga mereka berhasil mendapatkan ikan yang melimpah, sangat berbeda dengan hasil mereka di hari-hari biasa.

Para penganut yang setia dan para mukmin yang soleh datang menegur para orang fasiq yang telah berani melanggar kesucian hari Sabtu. Mereka diberi nasihat dan peringatan agar menghentikan perbuatan mungkar mereka dan kembali mentaati perintah agama serta menjauhkan diri dari semua larangannya, supay menghindari murka Allah yang dapat mencabut kurnia dan nikmat yang telah diberikan kepada mereka.
Nasihat dan peringatan para mukmin itu tidak dihiraukan oleh para nelayan yang membangkang itu bahkan mereka makin giat melakukan pelanggaran secara demonstratif karena sayang akan kehilangan keuntungan material yang besar yang mereka peroleh dari hasil menangkap ikan di hari-hari yang suci. Akhirnya pemuka-pemuka agama terpaksa mengasingkan mereka dari pergaulan dan melarangnya masuk ke dalam kota.

Berkata para nelayan pembangkang itu memprotes: "sesungguhnya kota Ailat adalah kota dan tempat tinggal kami bersama kami mempunyai hak yang sama seperti kamu untuk tinggal menetap di sini dan sesekali kamu tidak berhak melarang kami memasuki kota kami ini serta melarang kami menggali sumber-sumber kekayaan yang terdapat di sini bagi kepentingan hidup kami. Kami tidak akan meninggalkan kota kami ini dan pergi pindah ke tempat lain. Dan jika engkau enggan bergaul dengan kami maka sebaiknya kota Ailat ini di bagi menjadi dua bahagian dipisah oleh sebuah tembok pemisah, sehingga masing-masing pihak bebas berbuat dan melaksanakan usahanya tanpa diganggu oleh mana-mana pihak lain."

Dengan adanya garis pemisah antara para nelayan pembangkang yang fasiq dan pemeluk-pemeluk agama yang taat bebaslah mereka melaksanakan usaha penangkapan ikan sekehendak hatinya secara besar-besaran pada tiap-tiap hari tanpa berkecuali.
Mereka menciptakan saluran airdan mengalirkan air laut ke dekat rumah-rumah mereka dengan membuat bendungan-bendungan yang mencegahkan kembalinya ikan-ikan ke laut bila matahari terbenam pada setiap petang Sabtu.

Para nelayan yang makin manjadi kaya karena keuntungan besar yang meeka peroleh dari hasil penangkapan ikan yang bebas menjadi makin berani melakukan maksiat dan pelanggaran perintah-perintah agama. Hal ini memicu kerusakkan akhlak dan moral mereka.
Sementara para pemuka agama yang melihat para nelayan itu makin berani melanggar perintah Allah dan melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di daerah mereka sendiri masih rajin mendatangi mereka dari masa ke semasa memperingatkan mereka dan memberi nasihat , mereka berharap para nelayan tesebut kembali ke jalan yang benar dan bertaubat dari perbuatan maksiat mereka. Akan tetapi kekayaan yang mereka peroleh dari hasil penangkapan menjadikan mata mereka tertutup hatinya. Lubuk hati mereka tersumbat oleh nafsu kemaksiatan dan kefasiqan, sehingga menjadikan sebagian pemuka dan penganjur agama itu putus asa dan berkata kepada kepada yang lain "Mengapa kamu masih menasihati orang-orang yang akan dibinasakan oleh Allah dan ditimpa azab yang sangat keras?"

Demikianlah pula Nabi Daud setelah melihat bahwa segala nasihat dan peringatan kepada kaumnya hanya dianggap sebagai angin lalu, maka berdoalah beliau memohon kepada Allah agar menggajar mereka dengan azab yang setimpal.
doa Nabi Daud dikabulkan oleh Allah dan terjadilah suatu gempa bumi yang dahsyat yang membinasakan orang-orang yang telah membangkang dan berlaku zalim terhadap diri mereka sendiri dengan mengabaikan perintah Allah dan perintah para hamba-Nya yang soleh. Dalam riwayat Allah mengazab mereka sehingga para nelayan yang mencari ikan pada hari sabtu tersebut menjadi sekawanan kera yang terus melolong meminta ampun. Sementara mereka yang mukmin dan soleh mendapat perlindungan Allah dan terhindarlah dari malapetaka tersebut. Demikianlah Kisah para nelayan yang diazab oleh Allah SWT semoga bermanfaat. []

 

Related Posts

1 Komentar: