Monday, March 9, 2015

Kisah Nabi Musa As dan Qarun


[caption id="attachment_884" align="aligncenter" width="650"]Qarun Kisah Nabi Musa As dan Qarun[/caption]

Kisah Nabi Musa As dan Qarun merupakan kisah yang cukup populer di kalangan umat islam. Kisah tersebut memberikan pelajaran bagi manusia untuk tidak terlena dengan harta dan kemewahan dunia. Qarun adalah nama salah seorang kaum Nabi Musa As. Ia dikurniai Allah SWT kelapangan rezeki dan kekayaan berupa harta benda yang melimpah. Ia dan keluarganya hidup mewah, ini dikarenakan perniagaannya selalu untung besar. Sehingga ia mampu mengumpulkan kekayaan berupa harta benda yang sangat berharga. Dikisahkan, dikarenakan kekayaannya tersebut, bahkan kunci-kunci yang digunakan untuk membuka gembok gudang kekayaannya tersebut harus dipikul beberapa orang sangking beratnya. Jika kuncinya saja sangat berat dan terbuat dari emas, bagaimana dengan kekayaan yang berada dalam gudang-gudang tersebut? Tentu lebih bernilai daripada kunci-kunci dan gembok tersebut.

Dikarenakan kekayaannya itu, Qarun sangat menonjol diantara kaum nabi Musa As. Ia hidup melebihi batas. Seluruh barang yang ia gunakan melebihi keperluan dan tidak wajar. Dengan segala kekayaannya tersebut, ia masih merasa belum puas. Sifat serakah merasuk di hatinya, sehingga ia masih terus menerus ingin mencari kekayaan lebih banyak lagi.
Meskipun telah memiliki harta yang berlimpah, Qarun enggan menyisihkan harta bendanya untuk kepentingan agama dan sosial. Qarun tidak merasa sedikit pun memiliki kewajiban sosial dengan harta kekayaannya itu. Ia telah banyak diingatkan oleh masyarakat terutama tokoh-tokoh masyarakat untuk menyisihkan hartanya bagi mereka yang masih kelaparan, kekurangan sandang, dan tidak memiliki rumah. Namun, semua himbauan yang disampaikan kepadanya tidak pernah mengena di hatinya. Ia bahkan merasa bahwa karena kekayaannya itu, seharusnya dialah yang mestinya memberi nasihat dan bukan menerima nasihat. Orang harus tunduk kepadanya, mematuhi perintahnya, mengiyakan kata-katanya dan membenarkan segala tindakannya, bukan sebaliknya. Ia menyombongkan diri dengan mengatakan kepada orang-orang yang memberikan nasihat itu bahwa kekayaan yang ia miliki adalah semata-mata hasil jerih payahnya dan bukan merupakan karunia Allah SWT. Oleh sebab itu, ia berhak menggunakan harta kekayaannya menurut kehendak hatinya.
Sebagai tentangan bagi para orang yang menasihatinya, Qarun makin meningkatkan cara hidup mewahnya. Ia memamerkan kekayaannya. Apabila ia keluar rumah, ia mengenakan pakaian dan perhiasan yang bergemerlap, disertai pengiring perjalanan dan para pembantu yang lebih banyak daripada biasanya. Tidak lupa kuda-kuda yang mereka tunggangi dihiasi dengan indah dan cantik. Kemewahan yang ditonjolkan secara berlebihan tersebut, menyebabkan masyarakat sakit hati dan juga iri, terutama mereka yang masih lemah imannya. Mereka membicarakan Qarun dan saling berbisik, "Mengapa kami tidak diberi rezeki dan kenikmatan seperti yang telah diberikan kepada Qarun? Alangkah beruntungnya nasib Qarun dan alangkah bahagianya dia dalam hidupnya di dunia ini! Dan mengapa Tuhan melimpahkan kekayaan yang besar itu kepada Qarun yang tidak mempunyai rasa belas kasihan terhadap orang-orang yang melarat dan sengsara, orang-orang yang fakir dan miskin yang memerlukan pertolongan berupa pakaian maupun makanan. Dimanakah letak keadilan Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih itu?"

Sampai pada suatu ketika, Nabi Musa As menyampaikan kepada Qarun tentang perintah Allah untuk berzakat bagi orang yang kaya dan memiliki harta yang lebih. Musa menyampaikan bahwa dalam harta kekayaan terdapat hak bagi fakir miskin yang wajib diserahkan kepada mereka. Terhadap wahyu tersebut, Qarun merasa jengkel memerima perintah wajib berzakat. Ia kemudian menyatakan keraguan dan menyangsikan perintah Allah yang disampaikan oleh Musa tersebut. Ia berkata: "Hai Musa kami telah membantumu dan menyokongmu dalam dakwahmu kepada agama barumu. Kami telah menuruti segala perintahmu dan mendengarkan segala kata-katamu. Sikap kami yang lunak itu terhadap dirimu telah menyebabkan engkau berani bertindak lebih jauh dari apa yang sepatutnya. Dan mulailah engkau ingin meraih harta benda kami. Engkau rupanya ingin juga menguasai harta kekayaan kami setelah kami serahkan kepadamu hati dan fikiran kami sebulat-bulatnya. Dengan perintah wajib zakatmu ini engkau telah membuka topengmu dan menunjukkan dustamu dan bahwa engkau hanya seorang pendusta dan ahli sihir belaka."

Tuduhan Qarun yang ingin melepaskan dirinya dari wajib berzakat itu ditolak oleh Nabi Musa yang menegaskan kembali bahwa kewajiban berzakat itu tidak dapat ditawar-tawar dan harus dilaksanakan karena ia adalah perintah Allah yang harus ditaati dan dilaksanakan dengan semestinya.
Qarun tidak dapat mengelakkan dari kewajiban zakat itu. Maka setelah berdebat dengan Musa, dengan terpaksa ia menyerahkan harta yang telah ditentukan untuk dikeluarkan zakatnya.

Setelah tiba di rumah dan menghitung-hitung harta yang harus dizakatkan, Qarun merasa zakat yang ditentukan itu terlalu besar jumlahnya. Maka ia merasa sayang harus mengeluarkan harta sebanyak itu tanpa meperolehi imbalan sesuatu keuntungan dan laba. Setelah berfikir, maka Qarun mengambil keputusan untuk tidak akan mengeluarkan zakat walau apapun yang akan terjadi akibat tindakannya itu.
maka ia menyusun makar supaya terbebas dari kewajiban zakat. Qarun menyebarkan fitnah kepada Nabi Musa, hal ini ia lakukan agar tindakannya tersebut diikuti oleh orang lain untuk melakukan hal yang sama, yaitu menolak kewajiban mengeluarkan zakat sebagaimana diperintahkan oleh Nabi Musa. Ia menyebarkan fitnah seolah-olah Nabi Musa dengan dakwahnya dan penyiaran agama barunya bertujuan ingin memperkayakan diri dan bahwa perintah zakatnya itu adalah merupakan cara perampasan yang halus terhadap milik-milik para pengikutnya.

Tidak hanya itu, Qarun berniat menjatuhkan kewibawaan Nabi Musa dengan bersekongkol dengan seorang wanita yang diajarinya agar mengaku didepan umum bahwa ia telah melakukan perbuatan zina dengan Musa. Akan tetapi Allah tidak rela nama Rasul-Nya tercemar oleh tuduhan palsu yang dihasutkan oleh Qarun kepada kaum Nabi Musa tersebut. Maka Allah SWT dengan kehendak-Nya menggerakkan hati wanita tersebut untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya, bahwa apa yang ia tuduhkan kepada Nabi Musa adalah fitnah dan bujukan Qarun untuk menjatuhkan Nabi Musa As. Sehingga nama Musa As terjaga dari fitnah yang keji tersebut. Maka kebencian Qarun kepada Musa semakin menjadi-jadi. Ia bertambah sombong dan congkak seraya menantang nabi Musa As.
Nabi Musa As lalu berdoa ia kepada Allah agar menurunkan azab-Nya atas diri Qarun yang sombong dan congkak itu, agar menjadi pengajaran dan ibrah bagi kaumnya yang sudah mulai goyah imannya melihat kenikmatan yang berlimpah-limpah yang telah Allah kurniakan kepada Qarun.

Maka dengan izin Allah yang telah memperkenankan doa Nabi Musa, terjadilah peristiwa yang sangat memilukan. Seketika tanah terbelah, bangunan dan gedung-gedung yang mewah tempat tinggal Qarun dan tempat penimbunan kekayaannya terbenam ditelan bumi. Qarun berserta semua milik kekayaan yang menjadi kebaggaannya lenyap menyatu dengan tanah.
Peristiwa yang menimpa Qarun dan harta kekayaannya itu menjadi ibrah bagi pengikut Nabi Musa sekaligus sebagai peringatan bagi umat Musa yang merasa iri hati dan mendambakan kenikmatan dan kemewahan hidup sebagaimana yang telah dialami oleh Qarun. Mereka berkata seraya bersyukur kepada Allah: "Sekiranya Allah telah melimpahkan rahmat dan kurnia-Nya, nescaya kami dibenamkan pula seperti Qarun yang selalu kami inginkan kedudukan duniawinya. Sesungguhnya kami telah tersesat ketika kami beriri hati dan mendambakan kekayaannya yang membawa binasa baginya. Aduhai benar-benar tidaklah beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah."

Isi cerita tersebut di atas dapat dibaca dalam surah "Qashash" ayat 76 sehingga 82 dan surah "Al-Ahzaab" ayat 69 sebagaimana berikut :~

"76~Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa maka ia berlaku aniaya terhadap mereka dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-nya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-2. {Ingatlah{ ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." 77~ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan kepada mu {kebahagiaan} negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari {kenikmatan} duniawi dan berbuat baiklah {kepada orang lain} sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakkan di {muka} bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakkan. 78~ Qarun berkata: "Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku." Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasannya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka. 79~ Mak keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: " Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun , sesungguhnya ia benar-benar mempunyai peruntungan yang besar." 80~ Berkatalah orang-orang yang telah dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebihbaik bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar." 81~ Mak Kami benamkan Qarun berserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang {yang dapat} membela {dirinya}. 82~ Dan jadilah orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata: "aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia {Allah} telah membenamkan kita {pula}. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari {nikmat} Allah." { Al-Qashash : 76 ~ 82 }

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah." { Al-Ahzaab : 69 } []

1 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah