Wednesday, March 11, 2015

Kisah Nabi Daud yang terusir dari Kerajaan Raja Thalout


[caption id="attachment_825" align="aligncenter" width="300"]nabi Daud Kisah Nabi Daud yang terusir dari Kerajaan Raja Thalout[/caption]

Kisah Nabi Daud yang terusir dari Kerajaan Raja Thalout

Kisah Nabi Daud dan Raja Thalout ini masih ada hubungannya dengan kisah sarisejarah sebelumnya, yaitu tentang peristiwa Daud membunuh Raja Jalout. Untuk membahas tentang siapakah nabi Daud sebenarnya, ada baiknya untuk menyimak kisah ini hingga tuntas.

Daud bin Yisya merupakan salah seorang dari tiga belas bersaudara keturunan ketigabelas dari Nabi Ibrahim a.s. Ia tinggal bersama ayah dan saudaranya dan bermukim di kota Baitlehem. Alkisah, (dalam kisah sebelumnya juga telah disinggung tentang ini) Ketika raja Thalout (raja Bani Isra'il) mengerahkan pasukannya untuk berperang melawan bangsa Palestina, Daud muda bersama dua orang kakaknya diperintahkan ayahnya untuk menyertai dan bergabung ke dalam barisan pasukan Raja Thalout. Ayahnya memiliki pesan khusus kepada Daud, dikarenakan usianya yang termuda di antara tiga bersaudara, ayahnya mewanti-wanti agar ia berada di barisan belakang, supaya sebisa mungkin menghindari pertempuran. Sebab ia ditugaskan hanya untuk melayani kedua kakaknya yang berada dibarisan depan, ia wajib membawakan makanan dan minuman serta keperluan-keperluan lainnya bagi kakaknya, di samping itu, ia wajib melaporkan kepada ayahnya tentang jalannya pertempuran dan keadaan kedua kakaknya di dalam medan perang.

Ia sama sekali tidak diizinkan maju ke garis depan dan turut bertempur, mengingat usianya yang masih muda dan belum ada pengalaman berperang sejak ia dilahirkan.
Akan tetapi ketika pasukan Thalout dari Bani Isra'il berhadapan dengan pasukan Jalout dari bangsa Palestina, Daud lupa akan pesan ayahnya tatkala mendengar suara Jalout yang nyaring dengan penuh kesombongan menentang mengajak berperang, sementara pasukan Raja Thalout tidak ada sedikitpun yang berani menanggapi tantangan tersebut. Ia secara spontan menawarkan diri untuk maju menghadapi Jalout dan terjadilah pertempuran antara mereka berdua yang berakhir dengan terbunuhnya Jalout sebagaimana telah diceritakan dalam kisah sebelum.
Sebagai imbalan bagi jasa Daud mengalahkan Jalout maka dijadikan menantu oleh Thalout dan ia diperkenankan menyunting/memperistri puteri raja yang bernama Mikyal, sesuai dengan janji yang telah diumumkan kepada pasukannya bahwa puterinya akan dinikahkan dengan orang yang dapat membunuh Jalout.
Selain diangkat sebagai menantu, Daud juga dipercaya sebagai penasihatnya dan orang kepercayaan Raja. Ia sangat dihormati serta disegani Raja dan seluruh rakyat Bani Isra'il. Ia dianggap mampu menaikkan derajad bangsanya.

Namun, keadaan mulai berubah. Raja Thalout tak lagi menunjukkan sikap yang baik di hadapan Daud. Raja menjadi sangat kaku, berkata kasar dan keras. Daud mulai bertanya-tanya, mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa Raja berubah drastis? Apakah ia telah membuat kesalahan sehingga sang Raja murka, marah dan benci kepadanya? Ataukah mungkin hati mertuanya termakan oleh hasutan dan fitnahan orang yang sengaja ingin merusakkan suasana harmoni dan damai di dalam rumah tangganya? Bukankah ia seorang menantu yang setia dan taat kepada mertuanta yang telah memenuhi tugasnya dalam perang sebaik yang oa harapkan? dan bukankah ia selalu tetap bersedia mengorbankan jiwa raganya untuk membela dan mempertahankan kekekalan kerajaan mertuanya?
Daud tidak mendapat jawapan yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan yang melintasi fikirannya itu. Ia kemudian kembali kepada dirinya sendiri dan berkata dalam hatinya bahwa itu hanya perasaannya saja dan berharap sikap raja tersebut bukan disebabkan karena dirinya. Mungkin saja Raja sedang menghadapi berbagai masalah yang tidak ia ceritakan kepada Daud.
Pada suatu malam, Daud berkata kepada isterinya: "Wahai Mikyal, entah benarkah aku atau salah dalam tanggapanku dan apakah ini hanya dugaan hatiku bahwa ada perubahan sikap ayahmu terhadap diriku? Ia selalu menghadapi aku dengan muka masam dan kaku tidak seperti biasanya. Kata-katanya kepadaku tidak selamah lembut seperti dulu. Dari pancaran pandangannya kepadaku aku melihat tanda-tanda antipati dan benci kepadaku. Ia selalu menggelakkan diri dari duduk bersama aku bercakap-cakap dan berbincang-bincang sebagaimana dahulu ia lakukan bila ia melihatku berada di sekitarnya."
Mikyal menjawab seraya menghela nafas panjang dan mengusap air mata yang terjatuh di atas pipinya: "Wahai Daud aku tidak akan menyembunyikan sesuatu daripadamu dan sesekali tidak akan merahasiakan hal-hal yang sepatutnya engkau ketahui. Sesungguhnya sejak ayahku melihat bahwa namamu makin dikenal dan menjadi buah bibir yang disanjung-sanjung sebagai pahlawan dan penyelamat bangsa, ia merasa iri hati dan khawatir bila pengaruhmu di kalangan rakyat makin meluas dan kecintaan mereka kepadamu makin bertambah, hal itu akan dapat melemahkan kekuasaannya dan bahkan mungkin mengganggu kewibawaan kerajaannya. Ayahku walau ia seorang mukmin berilmu dan bukan dari keturunan raja menikmati kehidupan yang mewah, menduduki yang empuk dan merasakan manisnya berkuasa. Orang mengiakan kata-katanya, melaksanakan segala perintahnya dan membungkukkan diri jika menghadapinya. Ia khawatir akan kehilangan itu semua dan kembali ke tanah ladangnya dan usaha ternaknya di desa. Kerananya ia tidak menyukai orang menonjol yang dihormati dan disegani rakyat apalagi dipuja-puja dan dianggapnya pahlawan bangsa seperti engkau. Ia khawatir bahwa engkau kadang-kadang dapat merenggut kedudukan dan mahkotanya dan menjadikan dia terpaksa kembali ke cara hidupnya yang lama sebagaimana tiap raja meragukan kesetiaan tiap orang dan berpurba sangka terhadap tindakan-tindakan orang-orangnya bila ia belum mengerti apa yang dituju dengan tindakan-tindakan itu."
"Wahai Daud", Mikyal meneruskan ceritanya, "Aku mendapat tahu bahwa ayahku sedang memikirkan suatu rencana untuk menyingkirkan engkau dan mengikis habis pengaruhmu di kalangan rakyat dan walaupun aku masih meragukan kebenaran berita itu, aku rasa tidak ada salahnya jika engkau dari sekarang berlaku waspada dan hati-hati terhadap kemungkinan terjadi hal-hal yang malang bagi dirimu."
Daud merasa heran kata-kata isterinya itu, lalu ia bertanya kepada dirinya sendiri dan kepada isterinya: "Mengapa terjadi hal yang sedemikian itu? Mengapa kesetiaku diragukan oleh ayahmu, padahal aku dengan jujur dan ikhlas hati berjuang di bawah benderanya, menegakkan kebenaran dan memerangi kebathilan serta mengusir musuh ayahmu, Thalout telah kemasukan godaan Iblis yang telah menghilangkan akal sihatnya serta mengaburkan jalan fikirannya?" Kemudian tertidurlah Daud selesai mengucapkan kata-kata itu.

Pada esok harinya Daud terbangun oleh suara seorang pesuruh Raja yang menyampaikan panggilan dan perintah kepadanya untuk segera datang menghadap.
Berkata sang raja kepada Daud yang berdiri tegak di hadapannya: "Hai Daud fikiranku kebelakang ini sangat terganggu oleh sebuah berita. Aku mendengar bahwa bangsa Kan'aan sedang menyusun kekuatannya dan mengerahkan rakyatnya untuk datang menyerang dan menyerbu daerah kita. Engkaulah harapanku satu-satunya, hai Daud yang akan dapat menangani urusan ini maka ambillah pedangmu dan siapkanlah peralatan perangmu pilihlah orang-orang yang engkau percayai di antara tentaramu dan pergilah menghadapi mereka di rumahnya sebelum sebelum mereka sempat datang kemari. Janganlah engkau kembali dari medan perang kecuali dengan membawa bendera kemenangan atau dengan jenazahmu dibawa di atas bahu orang-orangmu."

Thalout hendak mencapai dua tujuan sekaligus dengan siasatnya ini, ia handak menghancurkan musuh yang selalu mengancam negerinya dan bersamaan dengan itu mengusirkan Daud dari atas buminya karena hampir dapat memastikan kepada dirinya bahwa Daud tidak akan kembali selamat dan pulang hidup dari medan perang kali ini.
Siasat yang mengandungi niat jahat dan tipu daya Thalout itu bukan tidak diketahui oleh Daud. Ia merasa ada udang balik batu dalam perintah Thalout itu kepadanya, namun ia sebagai rakyat yang setia dan anggota tentera yang berdisiplin ia menerima dan melaksanakan perintah itu dengan sebaik-baiknya tanpa mempedulikan atau memperhitungkan akibat yang akan menimpa dirinya.

Dengan bertawakkal kepada Allah berpasrah diri kepada takdir-Nya dan berbekal iman dan takwa di dalam hatinya berangkatlah Daud berserta pasukannya menuju daerah bangsa Kan'aan. Ia tidak luput dari lindungan Allah yang memang telah menyuratkan dalam takdir-Nya mengutuskan Daud sebagai Nabi dan Rasul. Maka kembalilah Daud ke kampung halamannya berserta pasukannya dengan membawa kemenangan gilang-gemilang.
Kedatangan Daud kembali dengan membawa kemenangan diterima oleh Thalout dengan senyum dan tanda gembira yang dipaksakan oleh dirinya. Ia berpura-pura menyambut Daud dengan penghormatan yang besar dan puji-pujian yang berlebih-lebihan namun dalam dadanya makin menyala-nyala api dendam dan kebenciannya, apalagi disadarinya bahwa dengan keberhasilan Daud meraih kemenangan, pengaruhnya di mata rakyat makin naik dan makin dicintai rakyat Bani Isra'il sehingga di mana saja orang berkumpul menyanjung Daud, tentang keberaniannya, kecakapannya dalam memimpin pasukan dan kemahirannya menyusun strategi dengan sifat-sifat mana ia dapat mengalahkan bangsa Kan'aan dan membawa kembali ke rumah kemenangan yang menjadi kebanggaan seluruh bangsa.

Sementara itu Thalout kecewa karena siasatnya gagal, ia tidak melihat jenazah Daud diusung oleh orang-orang nya yang kembali dari medan perang sebagaimana yang ia harapkan, tetapi ia melihat Daud dalam keadaan segar-bugar kembali berada di hadapan pasukannya. Thalout yang dibayangi rasa takut akan kehilangan kekuasaan melihat makin meluasnya pengaruh Daud, terutama sejak kembali dari medan perang melawan bangsa Kan'aan, berfikir jalan satu-satunya yang akan menyelamatkan dia dari ancaman Daud ialah membunuhnya secara langsung.

Ia kemudian mengatur rencana pembunuhan. Ia berusaha agar peristiwa tersebut dapat berhasil tanpa menyeret namanya dalam kasus tersebut. Namun Mikyal, isteri Daud yang dapat mencium rancangan jahat ayahnya itu, segera memberitahu kepada suaminya, agar ia segera menjauhkan diri dan meninggalkan kota secepat mungkin sebelum rancangan jahat itu sempat dilaksanakan. Maka keluarlah Daud memenuhi anjuran isterinya yang setia itu meninggalkan kota diwaktu malam gelap dengan tiada membawa bekal kecuali iman di dada dan kepercayaan yang teguh yang akan inayahnya Allah dan rahmat-Nya.

Setelah berita menghilangnya Daud dari istana Raja diketahui oleh umum, berbondong-bondonglah menyusul saudara-saudarannya, murid-muridnya dari para pengikutnya mencarinya. Hal tersebut dikarenakan rasa setia kawan mereka dan berharap dapat menawarkan bantuan dan pertolongan yang mungkin diperlukannya.
Mereka menemui Daud sudah agak jauh dari kota, ia sedang beristirahat seraya merenungkan nasib yang ia alami sebagai akibat dari perbuatan seorang hamba Allah yang tidak mengenal budi baik sesamanya dan yang selalu memperturutkan hawa nafsunya sekadar untuk mempertahankan kekuasaan duniawinya. Hamba Allah itu tidak sadar, fikir Daud bahwa kenikmatan dan kekuasaan duniawi yang ia miliki adalah pemberian Allah yang sewaktu-waktu dapat dicabut-Nya kembali daripadanya. []

3 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah