Wednesday, November 26, 2014

Shalat-shalat Sunnah yang dikerjakan Nabi SAW (bagian 2)


Shalat sunnah Nabi shalat sunnah nabi daud sholat sunnah nabi muhammad saw sifat shalat sunnah nabi shalat sunnah rawatib nabi cara shalat sunnah nabi shalat menurut sunnah nabi shalat sunnah yang dianjurkan nabi bacaan shalat menurut sunnah nabi muhammad bacaan shalat sesuai sunnah nabi bacaan shalat menurut sunnah nabi tata cara shalat sunnah nabi cara shalat sesuai sunnah nabi sunnah nabi dalam shalat sifat shalat nabi darus sunnah sholat sunah nabi daud sunnah nabi ketika shalat sholat sunnah nabi muhammad shalat sunah nabi muhammad sifat shalat nabi menurut sunnah sholat sunah nabi muhammad saw
ilustrasi shalat
Pada artikel sebelumnya telah dibahas tentang shalat sunnah yang dikerjakan Baginda Nabi SAW. pada artikel berikut merupakan kelanjutan dari tulisan tersebut. Sebagaimana disampaikan pada artikel terdahulu, bahwa sebagai seorang muslim, mestinya kita mencontoh apa yang diajarkan oleh Baginda Nabi SAW. Beliau senantiasa menyempurnakan shalat-shalat fardhunya dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah. Nabi SAW mengerjakan macam-macam shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu-waktu tertentu. Terdapat berbagai keutamaan apabila seorang muslim mengerjakan shalat sunnah.
Berikut merupakan shalat-shalat sunnah yang dikerjakan oleh Baginda Nabi SAW yang saya kutip dari ebook Ust. Mahodum Medan.
Shalat Sunnah Hari Raya

- Disunnahkan shalat hari Idul Fitri dan Idul Adha. (Bukhari, Muslim). * Dilakukan sebanyak dua rakaat. (Nasa’i).

- Tidak ada adzan dan iqamat pada shalat Ied. Dan tidak ada shalat qabliyah ataupun ba’diyah shalat Ied. (Bukhari, Muslim).

- Disunnahkan mendirikan khutbah setelah shalat hari Raya. (Bukhari, Muslim). * Yaitu dua khutbah yang dipisah oleh duduk sejenak. (Asy-Syafi’i). * Dianjurkan khutbah dimulai dengan sembilan takbir pada khutbah pertama dan tujuh takbir pada khutbah kedua. (Baihaqi).

- Shalat hari Raya boleh diadakan di lapangan atau di masjid. Asalkan lebih banyak memuat jamaah shalat.

- Cara shalat hari Raya : Pertama bertakbir tujuh kali di rakaat pertama, kemudian membaca Al-Fatihah lalu membaca surat. Kemudian ruku’, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, sujud kembali, kemudian berdiri, bertakbir lima kali dan membaca Al-Fatihah, membaca surat, dan seterusnya sama dengan rakaat pertama hingga salam. (Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud).

- Disunnahkan di antara setiap takbir membaca:

Artinya: “Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.” (Ahmad, As-Syafi’i).

- Dianjurkan agar para gadis, wanita-wanita haidh pun diikutkan ke medan shalat Ied agar mereka ikut bertakbir dan berdoa. (Bukhari, Muslim). * Wanita yang tidak punya jilbab, agar dipinjami jilbab.

- Disunnahkan bertakbir ramai-ramai pada hari Raya. (Bukhari). * Takbir untuk hari Raya Idul Fitri hingga Ashar hari Ied. Dan takbir pada hari Raya Adha, dari hari Arafah Shubuh hingga Ashar hari akhir Tasrik. (Hakim).

Shalat Sunnah Jenazah

- Shalat sunnah Jenazah adalah shalat untuk mayit muslim yang meninggal dunia. (Bukhari, Muslim).

- Cara melaksanakannya: Bertakbir empat kali, tanpa ruku’ dan sujud. (Nasa’i).




Shalat Sunnah Istikharah

- Shalat sunnah dua rakaat untuk menentukan salah satu pilihan. (Bukhari, Muslim, Ahmad). * Keutamaannya; Tidak akan merugi orang yang beristikharah dan tak akan menyesal orang yang bermusyawarah. (Thabrani).

- Jika ada masalah sebaiknya beristikharah sebanyak tujuh kali, kemudian akan terasa dalam hati, pilihan yang baik untuk kita. (Ibnu Sunni).

- Ketika shalat istikharah disunnahkan berdoa:

Artinya: “Ya Allah, aku memohonkan pilihan menurut pengetahuan-Mu, juga aku memohonkan karunia-Mu yang besar, sebab sesungguhnya Engkaulah yang berkuasa dan aku tidak berkuasa. Engkau Maha Tahu dan aku tidak mengetahui, dan Engkau yang Maha Tahu segala yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (sebutkan urusannya) adalah baik untukku, dalam agamaku, dan kehidupanku, dan akibat urusan ini, maka tentukanlah ia bagiku, dan mudahkanlah ia, dan berkatilah aku di dalamnya. Danya Allah, jika Engkau mengetahui urusan ini buruk bagiku, dalam agamaku dan kehidupanku, dan akibatnya, maka jauhkanlah aku darinya, dan jauhkan-lah ia dariku. Tentukanlah bagiku kebaikan mana saja, kemudidn ridhailah aku dengannya.” (Bukhari, Ahmad).




Shalat Sunnah Taubat

- Shalat Taubat ialah shalat dua rakaat atau empat rakaat setelah berbuat dosa. Dengan niat tidak akan mengulangi lagi dosa tersebut. (Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Tirmidzi).




Shalat Sunnah Hajat

- Shalat Hajat adalah shalat sunnah dua rakaat ketika ada suatu masalah atau mempunyai suatu keinginan. (Ahmad, Abu Dawud).

- Setelah shalat Hajat, hendaklah memuji Allah dan bershalawat atas Rasul-Nya, kemudian membaca doa:

Artinya: “Tiada Tuhan kecuali Allah, yang Maha Lembut lagi Mulia. Maha Suci Allah, Rab-Nya ‘'Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku memohon kepada-Mu kebaikan rahmat-Mu, dan keinginan-keinginan atas maghfirah-Mu, dan segala kekayaan dari segala kebaikan, dan keselamatan dari segala kejelekan. Jangan biarkan pada diriku suatu dosa pun, kecuali Engkau mengampuninya. Dan tiada suatu keinginan pun, kecuali Engkau memberikan-nya. Dan tiada suatu hajatpun yang Engkau ridhai, kecuali Engkau menunaikan-nya, wahai Maha Penyayang dari segala penyayang.” (Tirmidzi, Ibnu Majah).




Shalat Sunnah Tarawih dalam Ramadhan

- Shalat Tarawih adalah shalat malam khusus pada bulan Ramadhan. (Jamaah).

- Shalat Tarawih boleh dikerjakan dengan berjamaah ataupun sendiri, tetapi sebaiknya dilakukan dengan berjamaah. (Jamaah selain Tirmidzi).

- Shalat jamaah Tarawih boleh diadakan di masjid atau rumah. (Jamaah).

- Pada masa Khalifah Umar, Utsman, dan Ali ra., mereka shalat Tarawih dua puluh rakaat ditambah tiga rakaat shalat Witir. (Abu Dawud, Tirmidzi).




Shalat Sunnah Istisqa


- Shalat Istisqa adalah shalat dua rakaat untuk meminta hujan. (Nasa’i).
- Shalat Istisqa hendaknya didahului dengan anjuran agar seluruh lapisan masyarakat bertaubat, bersedekah, berhenti dari perbuatan zhalim, dan berpuasa selama empat hari. (Imam Nawawi).
- Sebaiknya jangan menggunakan perhiasan atau pakaian mewah pada pelaksanaan shalat Istisqa. Sebaliknya dianjurkan agar berpakaian sederhana dan berjalan dengan merendah diri. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i).
- Tata cara shalat Istisqa: Tanpa adzan dan iqamat, Didahului khutbah, Membalikkan selendang. Yang di kanan diletakkan di sebelah kiri dan yang di kiri diletakkan di kanan sambil menghadap kiblat. Berdoa dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi. (Abu Dawud, Hakim, Ahmad, Ibnu Majah).
- Cara lain juga bisa dilakukan, yaitu pada khutbah Jum’at dengan berdoa bersama, tanpa mendirikan shalat khusus unruk Istisqa. (Bukhari, Muslim). * Atau dilakukan tanpa shalat dan juga pada hari Jum’at yaitu dengan berdoa saja. (Ibnu Majah).
- Doa yang sunnah dibaca pada shalat Istisqa:

Artinya: “Ya Allah Turunkanlah hujan pada kami.” 3 kali. Dan doa terbaik yang diucapkan ketika shalat Istisqa adalah doa:

Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang lebat, menyelamatkan, menyuburkan, menyenangkan, merata manfaatnya, menyeluruh, memuaskan, dan terus berlangsung. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan jangan Engkau jadikan kami ini dalam golongan orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, seluruh hamba, negeri, ternak, seluruh makhluk sedang menghadapi keletihan, kesukaran, serta kepayahan. Tiada tempat mengadukan ini semua kecuali kepada-Mu. Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman kami, keluarkanlah susu perahan kami, hujanilah kami dari berkah langit dan tumbuhkanlah bagi kami berkah dari bumi. Ya Allah, lenyapkanlah kesukaran kami, kelaparan dan kemiskinan, halalkanlah semua bencana dari diri kami, sebab tiada yang dapat menghalaukan semua itu selain-Mu. Ya Allah, kami memohon ampunan-Mu, sebab Engkau adalah Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan dari langit selebat-lebatnya.” * Imam Syafi’i rah.a. berkata, “Inilah sebaik-baik doa yang diucapkan oleh imam ketika shalat Istisqa.”

Shalat Sunnah Tasbih
- Keutamaannya adalah menghapus semua dosa-dosa yang awal dan yang akhir, yang lama dan yang baru, yang disengaja atau yang tidak disengaja, yang kecil maupun yang besar, dan yang terang-terangan maupun tersembunyi. (Abu Dawud, Ibnu Majah, Thabrani).
- Cara pelaksanaannya adalah setelah membaca Al-Fatihah dan surat, membaca:

15 kali... Lalu ruku’ membaca bacaan ruku’, kemudian membaca kalimat di atas sepuluh kali, setelah itu i’tidal dan membaca kalimat di atas sepuluh kali, lalu sujud membaca bacaan sujud dan ditambah bacaan kalimat di atas sepuluh kali, lalu duduk diantara dua sujud dan membaca kalimat di atas sepuluh kali, kemudian sujud lagi dan membacanya sepuluh kali, setelah itu sebelum berdiri duduk lagi sambil membaca kalimat di atas sebanyak sepuluh kali, sehingga jumlah tasbih yang dibaca dalam satu rakaat sebanyak 75 kali dan dilaksanakan empat rakaat. (Abu Dawud, Ibnu Majah).
- Dianjurkan jika tidak bisa mengerjakan shalat Tasbih setiap hari, maka hendaknya dilakukan seminggu sekali setiap hari Jum’at. Jika tidak bisa seminggu sekali, sebulan sekali. Jika tidak bisa sebulan sekali, setahun sekali. Dan jika itu pun tidak bisa, maka setidak-tidaknya dilakukan sekali dalam seumur hidup. (Abu Dawud, Ibnu Majah).

Shalat Sunnah Ayat (Shalat Ketika Terjadi Bencana).
- Shalat sunnah Ayat adalah shalat yang dikerjakan karena ada terjadi bencana, seperti gempa, banjir, dan lain sebagainya. (Baihaqi).
- Shalat Ayat dua rakaat dengan enam kali ruku’ dan empat kali sujud. (Ibnu Hibban). * Caranya sama dengan shalat Shubuh, hanya ada tambahan dua kali ruku’ dalam setiap rakaatnya. (Bulughul Marram).

Baca juga tentang akhlak Nabi SAW kepada istrinya. []

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah