Shalat-shalat Sunnah yang dikerjakan Nabi SAW (bagian I)

shares |

Shalat sunnah Nabi shalat sunnah nabi daud sholat sunnah nabi muhammad saw sifat shalat sunnah nabi shalat sunnah rawatib nabi cara shalat sunnah nabi shalat menurut sunnah nabi shalat sunnah yang dianjurkan nabi bacaan shalat menurut sunnah nabi muhammad bacaan shalat sesuai sunnah nabi bacaan shalat menurut sunnah nabi tata cara shalat sunnah nabi cara shalat sesuai sunnah nabi sunnah nabi dalam shalat sifat shalat nabi darus sunnah sholat sunah nabi daud sunnah nabi ketika shalat sholat sunnah nabi muhammad shalat sunah nabi muhammad sifat shalat nabi menurut sunnah sholat sunah nabi muhammad saw
Ilustrasi Shalat

Sebagai seorang muslim, mestinya kita mencontoh apa yang diajarkan oleh Baginda Nabi SAW. Beliau senantiasa menyempurnakan shalat-shalat fardhunya dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah. Nabi SAW mengerjakan macam-macam shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu-waktu tertentu. Terdapat berbagai keutamaan apabila seorang muslim mengerjakan shalat sunnah.

Berikut merupakan shalat-shalat sunnah yang dikerjakan oleh Baginda Nabi SAW yang saya kutip dari ebook Ust. Mahodum Medan.
Shalat Sunnah Fajar

- Shalat sunnah sebelum fajar dua rakaat. Sunnah membaca surat Al-Kafirun di rakaat pertama dan Al-Ikhlas di rakaat kedua. (Muslim).

- Shalat sunnah sebelum Shubuh sebanyak dua rakaat. (Muslim).

- Setelah shalat sunnah qabliyah Shubuh, dianjurkan berdoa yang artinya: “Ya Allah! Rabb Jibril, dan Israfil, dan Mikail, dan Muhammad saw, aku berlindung kepada-Mu dari api neraka.” Setelah itu membaca doa tiga kali yang artinya: “Aku Memohon ampun kepada Allah swt; yang tiada ‘Ilah’ kecuali Dia yang maha Hidup, maha Kuat dan aku bertaubat kepada-Mu.” (Ibnu Sunni).

- Jika udzur, tidak dapat shalat qabliyah Shubuh sebelum shalat Shubuh, boleh mengerjakannya setelah shalat Shubuh. (Baihaqi, Ahmad, Ibnu Hibban).

- Nabi saw., diriwayatkan biasa berbaring ke sisi kanan setelah shalat ba’diyah Shubuh. (Bukhari, Muslim).
Shalat Sunnah Zhuhur

- Shalat sunnah sebelum Zhuhur sebanyak empat rakaat dan sesudahnya empat rakaat. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud). * Boleh dua rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat sesudahnya. (Bukhari, Ahmad). Atau empat rakaat sebelumnya dan dua rakaat sesudahnya. (Muslim, Tirmidzi, Ahmad). Dan sunnah membaca ayat Kursi serta ayat akhir surat Al-Baqarah. (Al-Ghazali).

- Apabila udzur boleh mengerjakan shalat qabliyah Zhuhur setelah shalat Zhuhur. (Tirmidzi, Ibnu Majah).

Shalat Sunnah Jum’at

- Shalat sunnah sesudah Jum’at empat rakaat. (Muslim).

- Apabila keadaan sibuk, boleh mengerjakannya dua rakaat. (Ibnu Najjar).

- Boleh dikerjakan dua rakaat di masjid dan dua rakaat di rumah. (Ibnu Hibban).

Shalat Sunnah Ashar

- Shalat sunnah sebelum Ashar sebanyak empat rakaat dengan dua kali salam, yaitu dua rakaat-dua rakaat. (Tirmidzi, Abu Dawud).
- Rasulullah saw. mendoakan rahmat bagi orang yang shalat sunnah sebelum Ashar. (Tirmidzi, Ibnu Hibban).

Shalat Sunnah Maghrib
- Dua rakaat shalat sunnah sebelum Maghrib bagi siapa yang suka. (Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban).
- Sunnah membaca surat Al-Kafirun di rakaat pertama qabliyah dan ba’diyah Maghrib dan Al-Ikhlas di rakaat kedua. Dan Nabi saw. biasa shalat sunnah qabliyah Maghrib di rumah. (Tirmidzi, Ibnu Majah).
- Disunnahkan shalat ba’diyah Maghrib dua rakaat. Dan disunnahkan agar dilakukan sebelum berbicara dengan manusia. (Nasa’i).

Shalat Sunnah Isya
- Shalat sunnah sebelum Isya sebanyak dua rakaat dan sesudahnya dua rakaat. (Bukhari, Muslim).

Shalat Sunnah Witir
- Shalat sunnah Witir dengan bilangan ganjil. Satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat, sebelas rakaat, tiga belas rakaat, dan seterusnya. Minimal satu rakaat. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud).
- Boleh shalat sunnah Witir lima atau tujuh rakaat dengan sekali salam. (Ibnu Majah, Nasa’i, Ahmad).
- Shalat Witir dikerjakan pada malam hari. (Muslim, Thabrani). * Boleh dikerjakan di permulaan malam sebelum tidur atau di akhir malam setelah tidur. (Muslim, Ahmad, Ibnu Hibban). Apabila ragu, sebaiknya dikerjakan sebelum tidur, seperti kebiasaan Abu Bakar ra.. Apabila merasa dapat dikerjakan di akhir malam, lebih utama di akhir malam, seperti kebiasaan Umar ra. dan Nabi saw.. (Ahmad, Abu Dawud, Hakim).
- Shalat Witir sangat ditekankan bagi seorang hafizh Alquran. (Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Hakim).
- Dalam shalat Witir boleh mengeraskan suara. (Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi).
- Tidak ada dua kali shalat Witir dalam semalam. (Abu Dawud, Muslim, Nasa’i).
- Dalam shalat Witir biasanya Nabi saw. membaca di rakaat pertama surat Al-Ala, di rakaat kedua Al-Kafirun, dan di rakaat ketiga Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. (Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud).
- Ada shalat sunnah dua rakaat ba’diyah Witir. (Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi).
- Di sujud akhir shalat Witir disunnahkan membaca doa yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dan murka-Mu dan dengan maaf-Mu dari siksa-Mu. Dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Daku tidak dapat memanjatkan pujian ke atas-Mu, sebagaimana Engkau memuji atas diri-Mu sendiri. (Abu Dawud). * Dan setelah salam membaca:
Tiga kali dengan suara agak dikeraskan. (Nasa’i).

Shalat Sunnah Dhuha

- Shalat sunnah Dhuha yaitu shalat setelah terbit matahari sampai matahari tepat berada di atas kepala. (Bukhari, Muslim).

- Shalat Dhuha minimal dua rakaat, selebihnya boleh ditambah dengan jumlah genap. Dan dikerjakan dua rakaat-dua rakaat. (Muslim, Abu Dawud, Ahmad).

Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid

- Shalat sunnah Tahiyyatul masjid, yaitu shalat dua rakaat setiap masuk ke masjid sebelum duduk. (Bukhari, Muslim).

- Walaupun datang ketika imam sedang berkhutbah Jum’at, hendaknya tetap mengerjakan shalat dua rakaat terlebih dahulu. (Bukhari, Muslim). * Jangan dirikan shalat Tahiyatul Masjid, jika shalat fardhu telah iqamat

Shalat Sunnah Syukrul Wudhu

- Shalat sunnah Tahiyyatul wudhu atau Syukrul wudhu, yaitu shalat dua rakaat setelah selesai mengambil air wudhu. (Bukhari, Muslim).

Shalat Sunnah Malam atau Tahajjud

- Shalat sunnah Tahajjud disebut juga shalat malam ( qiyamul Lail ), karena dilakukan malam hari sampai waktu Shubuh. (Alquran).

- Sebelum tidur hendaknya berniat bangun Tahajjud. (Nasa’i, Ibnu Majah).

- Ketika bangun tidur, hilangkanlah kantuk dengan mengusapkan punggung tangan ke muka dan segera bersiwak. (Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah).

- Sebelum shalat Tahajjud, disunnahkan shalat dua rakaat terlebih dahulu sebagai pembuka shalat Tahajjud. (Muslim).

- Dianjurkan mengajak ahli keluarga bersama-sama shalat Tahajjud. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

- Rasulullah saw. biasa shalat Tahajjud tiga belas rakaat dengan Witir. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud). * yaitu dua rakaat-dua rakaat. (Ibnu Majah, Ahmad).

- Jangan shalat Tahajjud sehingga memberatkan shalat Shubuh pada pagi harinya. (Bukhari, Muslim). * Walau bagaimanapun, shalat Tahajjud adalah sunnah, sedangkan shalat Shubuh itu wajib. Jangan sampai karena Tahajjud terlalu melelahkan, shalat Shubuh jadi tertinggal atau mengantuk.

- Sebaiknya menghentikan shalat jika masih mengantuk karena mengakibatkan tidak tahu surat apa yang dibaca. Tidurlah kembali, dan lanjutkan bila sudah hilang kantuknya. (Muslim).

- Lebih baik sedikit beribadah namun berketerusan. (Bukhari, Muslim).

- Waktu yang terbaik untuk melaksankan shalat Tahajjud adalah pada sepertiga akhir malam. (Jamaah).

- Tidak boleh mengkhususkan hari Jum’at untuk shalat Tahajjud. (Muslim).

Shalat Sunnah Gerhana

- Shalat sunnah gerhana matahari (Kusuf) dan gerhana bulan (Khusuf), yaitu shalat ketika terjadi gerhana. Dilakukan sebanyak dua rakaat dengan empat kali sujud empat kali ruku’. (Bukhari).

- Kejadian gerhana adalah salah satu peringatan Allah kepada manusia agar manusia ingat akan hari Kiamat. (Bukhari, Ahmad).

- Caranya: Setelah membaca Al-Fatihah dan surat, kemudian ruku’ dan setelah kembali dari ruku’ membaca lagi surat, lalu ruku’ lagi, setelah itu i’tidal, terus sujud, dikerjakan seperti itu sebanyak dua rakaat, sehingga dalam dua rakaat ada empat kali ruku’ dan empat kali sujud. (Bukhari, Muslim).

- Sunnah membaca surat-surat panjang setelah Al-Fatihah. Bacaan pertama lebih panjang daripada yang kedua, yang kedua lebih panjang daripada yang ketiga, dan yang ketiga lebih panjang daripada yang terakhir. Dan disunnahkan memanjangkan ruku’ dan sujud. Dan disunnahkan membacanya dengan suara keras. (Bukhari, Muslim).

- Disunnahkan ada khutbah setelah shalat gerhana. Dan dianjurkan banyak bertakbir, beristighfar, bersedekah, dan berdoa. (Bukhari, Muslim).

Shalat Sunnah Isyraq

- Shalat sunnah dua rakaat sesaat setelah terbit matahari pada pagi hari. Biasa disebut dengan shalat Isyraq. (Tirmidzi).

- Barangsiapa shalat Shubuh dengan berjamaah, lalu duduk berdzikir di tempat ia shalat hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat, maka pahalanya sama dengan ibadah haji dan umrah yang sempurna. (Tirmidzi).

Shalat Sunnah Awwabin

- Disebut dengan shalat ‘Nasyiatul Lail’ (shalat permulaan malam). (Nasa’i). Atau biasa juga disebut dengan shalat sunnah Awwabin, yang dikerjakan antara Maghrib dan Isya. (Abu Dawud, Tirmidzi).

- Shalat Awwabin boleh dikerjakan dua puluh rakaat, atau delapan rakaat, atau enam, minimal dua rakaat. (Al-Ghazali). * Dan Nabi saw. biasa shalat Awwabin enam rakaat; Dilakukan dua rakaat-dua rakaat. (Abu Dawud, Tirmidzi).

- Shalat Awwabin akan menghilangkan kesan perkataan-perkataan kotor pada siang harinya. (Imam Nawawi).

Demikianlah artikel yang berkaitan dengan shalat sunnah yang dikerjakan Nabi SAW. Semoga kita mampu untuk mengamalkannya. Semoga bermanfaat. []


Related Posts

0 Komentar: