Sejarah Candi Penataran

shares |

Candi Penataran
Saya dan keluarga di Candi Penataan
Candi penataran salah satu tempat favorit sebagai tujuan wisata kota Blitar Jatim. Candi Penataran di Blitar merupakan candi yang bercorak agama Hindu. Candi penataran merupakan candi warisan peninggalan kerajaan Kediri hingga Kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan yang bercorak hindu. Candi penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Nama asli candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dan dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa. Raja Çrnga memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 - 1200.
Candi penataran dan sejarahnya merupakan candi yang ditemukan pada masa pemerintahan Raffles berkuasa di Indonesia. Raffles adalah gubernur jenderal Inggris yang berkuasa di Indonesia pada tahun 1811-1816 M. Adapun pembangunan candi Penataran diduga dibangun pada masa Raja Srengga pada tahun 1200 dari Kerajaan Kediri. Penggunaan candi tersebut berlanjut hingga masa kerajaan Majapahit, tepatnya pada masa Raja Wikramawardhana yang memerintah Majapahit tahun 1415.
Raffles sangat menyukai ilmu pengetahuan. Ia menulis buku History Of Java. Ia dibantu oleh Dr.Horsfield yang merupakan seorang ahli di bidang Ilmu Alam mengunjungi Candi Panataran. Mereka lalu membukukannya dalam salah satu bagian buku "History of Java". Ketika ditemukan, sebagaimana candi-candi hindu yang lain, Candi Penataran tertimbun tanah akibat aktivitas alam misalnya seperti longsor. Keadaannya pun tidak terawat, sebab saat itu agama Hindu telah ditinggalkan dan berganti agama Islam sejak runtuhnya kerajaan Majapahit. Namun kini, Candi Penataran dapat dinikmati kembali sebagai bukti adanya kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu.
Selain Raffles, beberapa peneliti tercatat pernah mengadakan riset di Candi Penataran, yaitu J.Crawfurd - seorang asisten residen di Yogyakarta,  Van Meeteren Brouwer (1828), adapula Junghun (1884), dan Jonathan Rigg (1848) serta tidak ketinggalan N.W.Hoepermans yang mana pada tahun 1886 ia menginventarisasi bagian-bagian kompleks Candi.
Arsitektur Candi PenataranCandi Penataran memiliki arsitektur yang unik. Arsitektur candi penataran sangat kental dengan corak agama hindu, dimulai dari arca, relief, maupun struktur bangunannya. Sebagaimana candi hindu pada umumnya, pada bagian candi memiki kalamakara (adalah raksasa yang diyakini sebagai penjaga candi tersebut) biasanya berupa pahatan pada bagian badan candi tepatnya di atas bilik candi, ada pula arca Ganesya (yang merupakan dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu), serta pada bagian pintu masuk terdapat arca Dwarapala (patung raksasa memegang gada dan bertugas sebagai penjaga pintu gerbang). Selain itu terdapat relief cerita ramayana pada dinding-dinding Candi Penataran.
Candi Penataran dikenal sebagai candi hindu terbesar di Jawa Timur. Menurut kepercayaan pada saat itu, bangunan yang besar di kaki gunung kelud tersebut dimaksudkan sebagai penangkal marabahaya akibat aktivitas alam misalnya gunung meletus atau gempa. Oleh sebab itu, pada masanya, Candi Penataran banyak digunakan sebagai sarana pemujaan untuk mendekatkan kepada Sang Pencipta supaya dijauhkan dari bencana.
Fungsi Candi Penataran
Candi Penataran memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu pada masa itu. Beberapa kitab yang digubah oleh para pujangga pada saat itu diantaranya memuat kisah tentang Candi Penataran. Misalnya disebutkan dalam kitab yang digubah oleh Mpu Prapanca yaitu Negarakertagama. Dalam kitab tersebut tertulis tentang lawatan Hayam Wuruk sebagai raja terbesar Majapahit ke Candi Penataran. Besar kemungkinan tujuannya adalah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapat, yaitu perwujudan dewa Siwa sebagai Girindra. Nama Girindra sendiri sebelumnya dikenal sebagai gelar dari pendiri kerajaan Singhasari, yaitu Ken Arok yang bergelar girindra. Oleh sebab itu, informasi yang dimuat dalam kitab tersebut banyak diinterpretasikan bahwa Candi Penataran adalah tempat pedharmaan (perabuan) Ken Arok. Disamping itu, Girindra dikenal sebagai nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain wangsa Rajasa dan wangsa Wardhana. Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan sifat-sifat Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok. Adapun pada  prasasti Palah yang berangka tahun 1286 M, tepatnya pada masa pemerintahan Kertanegara. Disebutkan bahwa ia mendirikan Candi Naga dengan hiasan relief naga yang disangga oleh 9 orang sebagai lambang candrasengkala ”Naga muluk sinangga jalma” atau tahun 1208 Saka.Candra sengkala adalah perlambang tahun dengan menggunakan simbol-simbol tertentu.
Candi Penataran sangat dihormati oleh para raja dan petinggi kerajaan besar di JawaTimur. Candi Penataran juga pernah digunakan untuk menyimpan abu dari raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pendiri kerajaan Majapahit. Konon, candi Penataran juga digunakan sebagai tempat Gajah Mada mengucapkan sumpah amukti palapa. Setidaknya itulah informasi yang didapatkan menurut legenda rakyat setempat. Sumpah amukti palapa adalah sumpah yang diucapkan oleh mahapatih Gajah Mada yang bersumpah akan menyatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Majapahit. Selama belum tercapai tujuan tersebut, ia akan menunda kesenangannya. Menurut rakyat, sumpah tersebut diucapkan di Candi Penataran.Pada masa pemerintahan Jayanegara (pengganti Raden Wijaya). Candi Penataran terus dimanfaatkan sebagai bangunan sentral oleh pemerintahan Tribuanatunggadewi dan Hayam Wuruk. Candi Penataran menurut fungsinya digunakan sebagai sarana pemujaan terhadap Dewa Syiwa.
Saat ini Candi Penataran termasuk dalam benda cagar budaya yang dilindungi oleh
undang-undang. Candi Penataran dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangkitkan kejayaan masa lampau, terutama generasi muda untuk bangga terhadap kebesaran bangsa Indonesia pada masa lampau. Demikian artikel singkat berkaitan dengan Candi Penataran, semoga bermanfaat. []

Related Posts

0 Komentar: