Resolusi Jihad KH Abdul Wahab Hasbullah

shares |


KH Abdul Wahab Hasbullah adalah ulama yang dikenal sebagai pendiri organisasi keagamaan Nahdhatul Ulama (Kebangkitan Ulama). Belum lama ini beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo. Tentu saja hal ini sangat menggembirakan dan patut disyukuri, selain itu momen tersebut terjadi  berdekatan dengan peringatan hari pahlawan pada tanggal 10 November.
Kiai Abdul Wahab dikenal sebagai sosok penting dalam memantik semangat pertempuran Surabaya yang dikenal heroik tersebut. Namun,, selama ini hanya bung Tomo dan Gubernur Suryo (gubernur Jatim saat itu) yang menjadi tokoh sentral dalam peristiwa tersebut. Padahal terdapat peran kiai serta ulama khususnya di sekitar Jawa Timur untuk menggelorakan semangat Jihad bagi para pemuda Surabaya. Saat itu fatwa untuk membela dan mempertahankan tanah air difatwakan oleh Kiai sebagai bagian dari iman. Hal ini diserukan oleh Kiai Abdul Wahab. Seruan inilah yang kemudian dikenal sebagai resolusi Jihad.
Profil Pahlawan Nasional Kiai Abdul Wahab Hasbullah
Kiai Abdul Wahab Hasbullah lahir di Jombang pada 31 Maret 1888 dan meninggal pada 29 Desember tahun 1971 di usia 83 tahun. Beliau adalah salah satu pendiri organisasi terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern. Dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum 'Soeara Nahdlatul Oelama' atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama.
Fatwa Resolusi Jihad dikeluarkan Rois Akbar PBNU KH Hasyim Asy'ari, dalam pertemua ulama dan konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jalan  Bubutan VI/2 Surabaya pada 22 Oktober 1945, Kiai Wahab yang waktu itu menjadi Khatib Am PBNU bertugas mengawal implementasi dan pelaksanaan di lapangan.Fatwa tersebut akhirnya menjadi pemantik pertempuran heroik 10 November, untuk mengusir Belanda yang ingin kembali menjajah dengan cara membonceng NICA alias Sekutu.
Rapat penting yang dipimpin Mbah Wahab itu juga dihadiri Panglima Hizbullah Zainul Arifin dan Panglima Sabilillah KH Maskur.
Isi fatwa “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”
Berikut merupakan isi fatwa resolusi jihad fi sabilillah yang dikeluarkan dalam mengobarkan semangat juang mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia
 “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja) …”
Adapun isi fatwa Resolusi Jihad yang dituliskan dalam buku Biografi KH Hasyim Asy’ari, karya Lathiful Khuluq, secara terperinci menjelaskan tentang isi fatwa resolusi tersebut antara lain sebagai berikut:
(1) Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus wajib dipertahankan.
(2)  Republik Indonesia sebagai satu-satunya Pemerintah yang sah, harus dijaga dan ditolong. (3) Musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan Sekutu (Inggris) pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia.
(4) umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan Belanda dan Sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali.
(5) kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu secara material terhadap mereka yang berjuang.
Dampak dari dikeluarkannya resolusi jihad ini sangat luar biasa. Hal ini dikarenakan resolusi tersebut berhasil memompa semangat dan menggerakkan masyarakat untuk berangkat jihad. Bahkan pengaruhnya meluas ke berbagai daerah. Dalam upaya meningkatkan semangat juang, Mbah Wahab seringkali menyampaikan iskariman au mut syahidan. Artinya, "Hidup mulia atau mati syahid". Makna dari kalimat ini kurang lebih lebih baik mati daripada diinjak-injak kembali oleh para penjajah. Rupanya hal inilah yang memicu semangat juang masyarakat. Sehingga pertempuran 10 November dikenal sebagai pertempuran pada masa revolusi fisik yang terdahsyat. Tidak heran kemudian peristiwa tersebut dikenal sebagai hari pahlawan. Oleh sebab itu adalah sesuatu yang wajar apabila tokoh dibalik peristiwa tersebut dianugerahi gelar pahlawan nasional. 
Demikian tentang profil dari KH Abdul Wahad Hasbullah, semoga memberikan manfaat. []


Related Posts

1 Komentar: