Historiografi Nasional/ Modern

shares |

Menjelang kemerdekaan Indonesia pada masa kemerdekaan telah muncul karya karya yang berisi perlawanan terhadap pemerintah colonial yang di lakukan oleh pahlawan nasional, Secara umum tulisan ini merupakan ekspresi dan semangat nasionalistis yang berkobar kobar. Periode ini disebut sebagai periode post Revolusi atau Historiografi pada masa Pasaca Proklamasi. Tokoh tokoh nasional menjadi symbol kenasionalan dan memberi identitas bagi bangsa Indonesia, Jenis sejarah semacam ini perlu di hargai sebagai fungsi sosiopolitik, yaitu membangkitkan semangat nasional
Adapun ciri-ciri penulisan historiografi nasional atau Indonesia, antara lain:
  1. bersifat Indonesia sentries
  2. telah digunakan metode penelitian sejarah
  3. bersifat diakronis (adanya pembabakan sejarah/singkronis)
  4. kronologis
Penulisan sejarah pada masa pasca kemerdekaan didominasi oleh penulisan mengenai peristiwa-peristiwa yang masih hangat waktu itu, yaitu mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Pada masa ini penulisan sejarah meliputi beberapa peristiwa penting, misalnya proklamasi kemerdekaan Indonesia dan pembentukan pemerintahan Republik Indonesia. Kejadian-kejadian sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia yang meliputi sebab-sebab serta akibatnya bagi bangsa ini merupakan sorotan utama para penulis sejarah.
Pada masa ini mulai muncul lagi penulisan sejarah yang Indonesia sentris yang artinya penulisan sejarah yang mengutamakan atau mempunyai sudut pandang dari Indonesia sendiri. Pada masa sebelumnya yaitu masa colonial, penulisan sejarah sangat Eropa sentris karena yang melakukan penulisan tersebut adalah orang-orang eropa yang mempunyai sudut pandang bahwa orang eropa merupakan yang paling baik.  Pada masa kemerdekaan ini penulisan sejarah telah dilakukan oleh bangsa sendiri yang mengenal baik akan keadaan Negara ini, jadi dapat dipastikan bahwa isi dari penulisan tersebut dapat dipercaya. Penulisan sejarah yang Indonesia sentris memang sudah dimulai jauh pada masa kerajaan-kerajaan, tetapi kemudian ketika bangsa barat masuk ke Indonesia maka era penulisan sejarah yang Indonesia sentris  mulai meredup dan digantikan oleh historiografi yang eropa sentris.
Ada pada abad 20 M sampai dengan  sekarang. Setelah kemerdekaan bangsa Indonesia maka masalah sejarah nasional mendapat perhatian yang relatif besar terutama untuk kepentingan pembelajaran di sekolah sekaligus untuk sarana pewarisan nilai-nilai perjuangan serta jati diri bangsa Indonesia, Ditandai dengan:
Mulai muncul gerakan Indonesianisasi dalam berbagai bidang sehingga istilah-istilah asing khususnya istilah Belanda mulai diindonesiakan selain itu buku-buku berbahasa Belanda sebagian mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Mulai Penulisan sejarah Indonesia yang berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan bangsa dan negara Indonesia dengan sudut pandang nasional.
Orang-orang dan bangsa Indonesialah yang menjadi subjek/pembuat sejarah, mereka tidak lagi hanya sebagai objek seperti pada historiografi kolonial.
Penulisan buku sejarah Indonesia yang baru awalnya hanya sekedar menukar posisi antara tokoh Belanda dan tokoh Indonesia.
Jika awalnya tokoh Belanda sebagai pahlawan sementara orang pribumi sebagai penjahat, maka dengan adanya Indonesianisasi maka kedudukannya terbalik dimana orang Indonesia sebagai pahlawan dan orang Belanda sebagai penjahat tetapi alur ceritanya tetap sama.
Keadaaan yang demikian membuat para sejarawan dan pengamat sejarah terdorong untuk mengadakan ”Kongres Sejarah Nasional” yang pertama yaitu pada tahun 1957.  Tahun ini dianggap sebagai titik tolah  kesadaran sejarah baru, ( Jurnal of Southheast Asian History, Vol. VI, No.1 1965). Sementara itu, kurun historigrafi tradisional  dianggap berakhir dengan tulisannya buku Cristische  Bescchouwing van de sadjarah van Banten oleh Hoesein Djajadiningrat pada tahun 1913 (Djajadiningrat, 1913). Buku itu dengan cara kritis mengkaji tradisi penulisan babad dalam khasana sastra. Historiografi Indonesia  barulah untuk pertama kalinya muncul dalam seminar sejarah nasional pertama. Agenda dari seminar itu  meliputi filksafat nasional, periodisasi sejarah Indonesia dan pendidikan sejarah. Dari sinilah dimulainya nasionalisasi atau untuk menggunakan istilah saat ini pribuminisasi historiografi Indonesia, (Kuntowijoyo, 2003).
Pada tahun 1970, terjadi perdebatan dikalangan sejarawan pada khususnya yaitu tentang  bagaimana meletakkan  tekanan pada peranan sejrah orang Indonesia dalam sejarah nasional. Alasan ini tidak lain karena semua kepustakaan sejarah lebih condong  pada peranan orang-orang Eropa (historiografi kolonial) dan melihat sejarah Indonesia sebagai sejarah ekspansi  Eropa  di Indonesia . jadi pada tahun inilah terjadi banyak perubahan pada tahun-tahun setelah 1970 tidak saja dalam arti pemikiran bagaimana sejarah seharusnya ditulis.
Oleh karena itu penulisan sejarah yang seharusnya adalah:
Sebuah penulisan yang tidak sekedar mengubah pendekatan dari eropasentris menjadi indonesiasentris, tetapi juga menampilkan hal-hal baru yang sebelumnya belum sempat terungkap.
Penulisan sejarah dengan cara yang konvensional (yang hanya mengandalkan naskah sebagai sumber sejarah) yang bersifat naratif, deskriptif, kedaerahan, serta tema-tema politik dan penguasa diganti dengan cara penulisan sejarah yang kritis (struktural analitis)
Menggunakan pendekatan multidimensional.
Caranya yaitu dengan menggunakan teori-teori ilmu sosial untuk menjelaskan kejadiaan sejarah sesuai dengan dimensinya dengan menggunakan sumber-sumber yang lebih beragam daripada masa sebelumnya.
Mengungkapkan dinamika masyarakat Indonesia dari berbagai aspek kehidupan yang kemudian dapat dijadikan bahan kajian untuk memperkaya penulisan sejarah Indonesia. []
Sumber: Website FKIP Malang tentang Sejarah Lokal

Related Posts

0 Komentar: