Eduard Douwes Dekker dan Ernest Douwes Dekker adalah orang yang berbeda

shares |

Dalam pelajaran sejarah, dikenal dua orang nama Douwes Dekker. Mereka adalah Eduard Douwes Dekker dan Ernest Douwes Dekker. Meskipun dalam buku-buku sejarah telah dituliskan namanya secara lengkap, tetapi tetap saja terjadi kesalahan dalam memahami kedua orang tersebut. Hal ini dikarenakan seringkali guru menyingkat nama mereka menjadi hanya "Douwes Dekker" saja untuk kepentingan penyederhanaan. Supaya memudahkan siswa menghafal tokoh tersebut. Oleh sebab itu, siswa mungkin saja mengambil kesimpulan bahwa Douwes Dekker yang menulis buku Max Havelar dan Douwes Dekker anggota Indische Partij adalah orang yang sama. Padahal keduanya adalah seorang yang berbeda.
Eduard Douwes Dekker
Eduard Douwes Dekker, lahir di Amsterdam, 2 Maret 1820. Ia adalah seorang residen Lebak pada masa kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia. Ia mempunyai nama pena Multatuli.  Meskipun ia adalah seorang berkebangsaan Belanda, tetapi ia sangat menentang keras Sistem Tanam Paksa (Culture Stelsel). Hal ini dikarenakan penerapan sistem tanam paksa sangat tidak berperikemanusiaan dan menyengsaraan warga pribumi Indonesia. Oleh sebab itu, ia menceritakan penderitaan rakyat pribumi karena tanam paksa dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar. Pada tahun 1970-an telah digarap sebuah film yang terinspirasi dari buku Max Havelaar tersebut.
Ernest FE Douwes Dekker
Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (EFE Douwes Dekker) lahir di Pasuruan 8 Oktober 1879. Ibunya adalah seorang Indo, karena neneknya adalah orang Jawa yang menikah pria Belanda. Sehingga darah pribumi mengalir di tubuhnya. Mungkin sebab itu juga, dia lebih suka disebut sebagai orang Indonesia daripada orang Belanda. Oleh sebab itu ia menggunakan nama Danudirja Setiabudi.
Ernest Douwes Dekker mendirikan Indische Partij (IP) pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung bersama dua sahabatnya, Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. IP adalah partai politik pertama di Hindia yang menyerukan ‘Hindia untuk orang Hindia’ Pernyataan Hindia untuk orang Hindia mampu membangkitkan semangat nasionalisme rakyat. Bersama Ki Hajar Dewantara pula ia ikut dalam dunia pendidikan. Dan mendirikan sekolah “Ksatrian Instituut” di Bandung.
Danudirja meninggal dan dimakamkan di Bandung tanggal 28 Agustus 1950. Dan mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional.
Kesimpulannya adalah bahwa nama Douwes Dekker adalah nama keluarga (surname) dari Belanda, yang merupakan gabungan dari Klan Douwes dan Dekker. Dua orang yang kita bahas di atas sama-sama anggota dari klan ini. Adapun Danudirjo Setiabudi merupakan cucu dari saudara Eduard Douwes Dekker. Kedua tokoh di atas merupakan dua tokoh penting dalam pembahasan sejarah pada masa kolonial dan pergerakan nasional. Oleh sebab itu, kesalahan-kesalahan pemahaman/anakronisme sejarah harus diminimalisir. Kiranya dengan memahami artikel sederhana ini semoga memberikan manfaat dalam mempelajari sejarah bangsa Indonesia. []

Related Posts

0 Komentar: