Ciri-ciri historiografi tradisional

shares |

Setelah mengetahui tentang perkembangan historiografi di Indonesia ada baiknya kita mengetahui tentang macam-macam historiografi di Indonesia, diantaranya adalah historiografi tradisional, kolonial, pasca kemerdekaan, dan kontemporer. 
Dibawah ini dibahas tentang ciri-ciri historiografi tradisional. Sebagaimana diketahui Historiografi tradisional merupakan penulisan sejarah  yang berdasarkan tradisi  suatu etnis  atau masyarakat setempat. Tentunya hasil penulisan sejarah  yang ditinggalkan, penulisannya  yang digarap secara tradisional (tidak menggunakan keilmuan  analitis dan kritis modern).
Historiografi tradisional adalah tradisi penulisan sejarah yang berlaku pada masa setelah masyarakat Indonesia mengenal tulisan, baik pada Zaman Hindu-Budha maupun pada Zaman Islam. pada abad 4 M sampai abad 17 M.
Perkembangan historiografi di indonesia dimulai pada zaman kerajaan yang dipelopori oleh empu prapanca yang menulis kitab Negarakertagama. Pada zaman ini yang menjadi penulis sejarah adalah para pujangga-pujangga yang bertujuan untuk memuji dan mengkultuskan Raja sebagai pusat kosmik, dan lebih kepada konsep Istana-sentris.

Ciri-ciri historiografi tradisional


  1. Penulisannya bersifat istana sentris yaitu berpusat pada keinginan dan kepentingan raja. Berisi masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa. Menyangkut raja dan kehidupan istana. 
  2. Memiliki subjektifitas yang tinggi sebab penulis hanya mencatat peristiwa penting di kerajaan dan permintaan sang raja. 
  3. Etnosentris, Penulisan selalu bersifat kedaerahan, Hanya terpaut pada suku bangsa tertentu. Dan sangaty berpusat pada kedaerahan 
  4. Bersifat melegitimasi (melegalkan/mensahkan) suatu kekuasaan sehingga seringkali anakronitis (tidak cocok) 
  5. Supranatural,  Dalam hal ini kekuatan kekuatan gaib yang tidak bias diterima dengan akal sehat sering terdapat di dalamnya
  6. Kebanyakan karya-karya tersebut kuat dalam genealogi (silsilah) tetapi lemah dalam hal kronologi dan detil-detil biografis.
  7. Pada umumnya tidak disusun secara ilmiah tetapi sering kali data-datanya bercampur dengan unsur mitos dan realitas (penuh dengan unsur mitos).
  8. Sumber-sumber datanya sulit untuk ditelusuri kembali bahkan terkadang mustahil untuk dibuktikan.
  9. Dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat dimana naskah tersebut ditulis sehingga merupakan hasil kebudayaan suatu masyarakat.
  10. Cenderung menampilkan unsur politik semata untuk menujukkan kejayaan dan kekuasaan sang raja.
  11. anonim (umumnya pengarangnya tidak jelas)  
Bentuk dari Historiografi tradisional: Babad Tanah Jawi, Babad Kraton,  Babad Diponegoro, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Silsilah Raja Perak, Hikayat Tanah Hitu, Kronik Banjarmasin, dsb.

Ditinjau dari unsur-unsur yang terdapat didalam berbagai historiografi tradisional antara lain:
  1. genealogi, berfungsi sebagai faktor  legitimasi dan awal semua penulisan sejarah tradisional. 
  2. asal usul rajakula yang mistis dan legendaris 
  3. mitodologi melayu polinesia: perkawinan dengan bidaddari atau orang suci 
  4. legenda pembuangan anak 
  5. legenda permulaan kerajaan
 Dilihat dari segi pemegang peran, tertutup tokoh pemegang peran tersebut juga memiliki pula  riwayat yang sama:
  1. kelahiran diliputi misteri
  2. sering diketahui ibunya dan bukan ayahnya
  3. terjadi supernatural pada saat kelahiran
  4. tokoh yang bersangkutan  sejak bayi telah mengeluarkan cahaya dalam perkembangannya dianggap sebagai wahyu atau pulung.
  5. memiliki karisma atau wibawa yang khas, sehingga mampu menarik pihak lain. []

Related Posts

0 Komentar: