Tuesday, June 17, 2014

Sejarah sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu dan Seni


sejarah sebagai peristiwa, kisah, ilmu Sejarah dalam bahasa Yunani: ἱστορία, historia, berarti "penyelidikan, pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian"). Jadi sejarah adalah studi yang mempelajari tentang masa lalu, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia. Seringkali dalam konteks sejarah kuno (misalnya babad, hikayat, riwayat) sejarah dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah.
Adapun sejarah dapat dikaji dalam bebarapa pandangan, yaitu sejarah sebagai peristiwa, sebagai kisah, sebagai ilmu, dan sebagai seni.
Sejarah sebagai peristiwa
Sejarah sebagai peristiwa diartikan sebagai suatu kejadian yang terjadi pada masa lampau yang dialami oleh manusia. Sejarah sebagai peristiwa umumnya berusaha menjawab pertanyaan 5W yaitu (what, who, where, why, dan when). Sejarah sebagai peristiwa memiliki ciri-ciri, diantaranya, 1) merupakan hasil perbuatan yang disengaja oleh manusia; contoh apabila kita mengkaji tentang masa prasejarah, kita menemukan sampah dapur (kjokkenmoddinger) yang merupakan hasil dari aktivitas manusia pada masa tersebut. Seandainya sampah dapur tersebut dihasilkan bukan oleh manusia, maka bukan termasuk konteks pembahasan sejarah sebagai peristiwa. 2) Memiliki hubungan sebab akibat; 3) Bersifat objektif; 4) Peristiwanya benar-benar terjadi; 5) Bersifat abadi, unik, dan penting; 6) Hanya satu kali terjadi (einmaleg).
Sejarah Sebagai Kisah
Sejarah sebagai kisah merupakan narasi yang disusun berdasarkan memori, kesan, atau tafsiran manusia terhadap terjadinya atau peristiwa yang terjadi pada waktu lampau. Sejarah sebadgai kisah memiliki ciri-ciri diantaranya 1) Bersifat subjektif; hal ini dikarenakan adanya kedekatan antara penulisnya dengan objek yang ditulis. Misalnya, penulis kitab pararaton tentunya mengagungkan Ken Arok sebagai seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, bahkan dianggap sebagai keturunan dewa. Unsur subjektifitas ini biasanya berkaitan langsung dengan upaya legitimasi seorang penguasa melalui kitab-kitab yang ditulis pada masa itu, 2) Merupakan hasil karya atau ciptaan seseorang; 3) Kisahnya nyata.
Sejarah Sebagai Ilmu
Sejarah sebagai ilmu pengetahuan, berkembang pada abad ke-19. Sejarah sebagai ilmu memiliki ciri-ciri, diantaranya 1) Memiliki objek yang menjadi kajian yaitu manusia, 2) Bersifat objektif, 3) Bersifat empiris, tergantung pada pengalaman manusia, 4) Memiliki metode ilmiah, 5) Tersusun secara sistematis
Sejarah Sebagai Seni
Sejarah juga dikatakan sebagai seni. Untuk merekonstruksikan peristiwa masa lalu dan menampilkannya sebagai karya sejarah membutuhkan juga intuisi, emosi, dan juga gaya bahasa. Sebagai seni sejarah memiliki ciri-ciri, diantaranya 1) Sejarah disusun berdasarkan intuisi; artinya membutuhkan imajinasi penulis. Semakin kuat imajinasi seorang penulis, maka sejarah yang tertulis semakin baik. 2) Membutuhkan emosi dan gaya hidup.
Namun sejarah sebagai seni mempunyai beberapa kekurangan yaitu:
1) Sejarah sebagai seni akan kehilangan ketepatan dan objektifitasnya, karena sebagai seni berarti merupakan hasil imajinasi; 2) Kajiannya menjadi terbatas.
Demikian merupakan alasan-alasan mengapa sejarah dapat dikatakan sebagai sebuah peristiwa, kisah, ilmu, dan seni. Semoga bermanfaat. []











0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah