Saluran-saluran Islamisasi di Indonesia

shares |

 
Sejarah bangsa Indonesia setidaknya dapat dibagi menjadi kurang lebih 10 periode. Dimulai dari periode prasejarah, hindu buddha, islam, kolonialisme bangsa barat, pergerakan nasional, masa pendudukan Jepang, masa-masa proklamasi dan revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, masa orde lama, orde baru, dan reformasi. Berkaitan dengan periode Islam, Ricklefs dalam bukunya (Sejarah Indonesia Modern) menyebut bahwa masa ini merupakan masa yang tidak jelas. Hal ini merujuk pada fakta bahwa telah ada perkampungan Islam pada abad ke tujuh berdasarkan catatan-catatan para musafir yang singgah di nusantara. Bahkan pada masa kerajaan Majapahit telah ada makam khusus orang islam di Trowulan. Sementara itu perkembangan Islam di Indonesia mulai berkembang pesat pada abad-abad setelahnya, yaitu dengan munculnya kerajaan Islam pertama di nusantara, Samudera Pasai.
Masuknya Islam ke nusantara merupakan sebuah proses yang menarik. Islam datang ke nusantara dengan cara-cara damai tanpa kekerasan. Para ahli membagi menjadi enam saluran islamisasi di nusantara, diantaranya:
1. Perdagangan : saluran islamisasi melalui perdagangan merupakan faktor utama masuknya Islam ke Indonesia. Hal ini dikarenakan melalui perdagangan memungkinkan masyarakat mengetahui tentang agama Islam yang dibawa oleh para pedagang. Adapun hubungan dan jaringan perdagangan yang terjalin antara nusantara dengan pedagang-pedagang asing telah berlangsung lama. Hubungan yang baik yang terjalin dengan adanya interaksi antara masyarakat nusantara dengan pedagang Arab, Gujarat (India), dan Persia (Iran) yang menyebabkan masyarakat mulai mengenal islam. Ketertarikan masyarakat terhadap para pedagang yang memegang teguh nilai-nilai islam ini sangat menarik masyarakat sehingga mulai belajar dan memeluk agama islam.
2. Perkawinan: umumnya para pedagang asing yang singgah ke Indonesia tidak langsung meninggalkan nusantara. Hal ini dikarenakan dalam pelayaran tradisional masih tergantung dengan musim (teknologi layar). Oleh sebab itu, para pedagang muslim asing kemudian menetap mendirikan perkampungan-perkampungan. Beberapa contoh perkampungan orang asing sampai saat ini masih dapat dijumpai di bebarapa wilayah di Indonesia. Adapun setelah menetap, beberapa diantaranya kemudian menikahi wanita nusantara. Hasil perkawinan ini kemudian menghasilkan keturunan yang beragama islam. Tidak jarang pula, wanita yang dinikahi juga ikut memeluk agama islam.
3. Pendidikan/dakwah: seiring berkembangnya perkampungan-perkampungan Islam memungkinkan berdirinya pusat-pusat pendidikan dan penyebaran agama islam. Hal ini dikarenakan kebutuhan tentang pendidikan semakin meningkat, terutama pendidikan agama. Oleh sebab itu mulai berdiri pondok pesantren beberapa daerah. Misalnya di daerah Ampel merupakan salah satu pesantren yang paling awal berdiri pada masa penyebaran agama islam di nusantara. Para santri yang telah cukup dalam menimba ilmu di pesantren kemudian berdakwah di masyarakat untuk memberikan pendidikan agama Islam.
4. Budaya/kesenian: kesenian wayang dan gamelan merupakan kesenian yang digunakan sebagai sarana mengumpulkan massa dan dijadikan media dakwah yang efektif. Kesenian wayang dan gamelan diciptakan oleh Sunan Kalijaga dengan islam sebagai muatan ceritanya oleh para wali. Rupa-rupanya, cara ini sangat efektif untuk menarik minat masyarakat memeluk agama islam. Muatan cerita yang sarat makna, serta mengandung filosofi yang kaya, adalah salah satu alasan mengapa agama islam menjadi sangat rasional dan mudah difahami dan dicerna masyarakat awam pada saat itu. Terlebih dakwah yang disampaikan oleh Sunan Kalijaga melalui media wayang dan kesenian gamelan dikemas secara menarik dalam model pertunjukan yang mendatangkan khalayak ramai dan menarik minat masyarakat untuk menyaksikannya.
5. Tasawuf: ajaran tasawuf merupakan salah satu sarana islamisasi di nusantara. Ajaran tasawuf diajarkan oleh para sufi yang berhubungan dengan suluk (perjalanan). Tokohnya Hamzah Fansuri, Syamsuddin al Samatrani, Nuruddin Al Raniri, Abdul al Rauf Sinkel.
6. Politik: saluran islamisasi melalui politik adalah proses islamisasi yang dilakukan dengan cara berdakwah kepada penguasa daerah/raja setempat. Islamnya Raja/penguasa lokal biasanya akan diikuti oleh rakyatnya yang kemudian juga memeluk Islam sebagai bukti loyalitas kepada raja/penguasa.
Demikian merupakan enam saluran islamisasi di nusantara. Semoga bermanfaat. []








Related Posts

1 Komentar: