Asal muasal Gang Dolly

shares |

Sejarah Gang Dolly | Dolly merupakan nama kawasan porstitusi di Surabaya. Tepatnya, Dolly terdapat di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Lokalisasi prostitusi terbesar se-Asia Tenggara ini konon telah ada sejak masa kolonial Belanda pada abad ke 19. Merujuk pada sisi historis, nama Dolly diambil dari nama wanita Belanda, Dolly van de Mart. Ia merintis usaha wisma yang menyediakan perempuan-perempuan cantik. Mereka bertugas melayani tentara Belanda ketika itu.
Kebutuhan biologis berupa seks nampaknya menjadi kebutuhan khusus yang harus terpenuhi bagi para tentara. Kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh istri mereka yang masih berada di negeri asal. Oleh sebab itu, tidak jarang para tentara Belanda kembali lagi ke Dolly untuk memenuhi kebutuhan seks mereka. Popularitas Dolly kemudian lambat laut meningkat, dan menjadi buah bibir masyarakat. Bahkan di era modern, nama Dolly diklaim lebih populer ketimbang Surabaya itu sendiri.
Kisah lain Dolly
Cerita lain tentang Dolly, terdapat sebuah versi berbeda tentang asal muasal Dolly. Dolly semula adalah adalah kompleks pemakaman Tionghoa di Putat Jaya, Surabaya. Pemerintah kemudian menutup pemakaman ini pada tahun 1966. Para ahli waris kemudian memindahkan jasad kerabat mereka. Tanah tersebut kemudian dijadikan rebutan untuk dijadikan rumah-rumah tinggal. Pada 1967, muncul seorang bernama Dolly Khavit, seorang wanita keturunan Jawa-Filipina yang konon dulunya juga pelacur, yang kemudian menikah dengan seorang pelaut Belanda. Ia dikabarkan sakit hati kepada suaminya yang seringkali meninggalkannya sendirian untuk bertugas. Ia kemudian mendirikan rumah bordil bernama Dolly, sesuai dengan nama perintisnya. Sejak saat itu masyarakat lazim menyebut sebagai gang Dolly.
Popularitas Dolly sebagai lokalisasi yang menyediakan wanita-wanita penghibur dari kelas ecek-ecek sampai high class terkenal hingga mancanegara. Tidak heran para pria hidung belang yang mampir ke Dolly tidak hanya dari daerah lokal, tetapi juga turis/wisatawan luar negeri. Kepopuleran Dolly pada bisnis lendir ini bukan hanya dikarenakan kecantikan para penjaja kenikmatan, tetapi juga tentang cara pemasaran bisnis tersebut. Dolly dijadikan sebagai kawasan dengan berjajar wisma yang tertutup kaca, namun dari luar para pengunjung dapat dengan mudah melihat para PSK yang berada di dalam ruangan. Jadi seperti sebuah etalase dimana calon pembeli dapat mengamati barang yang hendak ia beli. Cara seperti inilah yang menarik bagi para pengunjung utamanya wisatawan luar negeri.
Penutupan Dolly
Rabu, 18 Juni 2014 dideklarasikan penutupan lokalisasi terbesar se Asia Tenggara tersebut. Hal ini bukan hanya dikarenakan hendak menghormati datangnya bulan Ramadhan, tetapi juga berawal dari keprihatinan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini yang miris menyaksikan generasi muda yang kadang telah terjebak pada praktek prostitusi. Bahkan kadang untuk menyambung hidup ada yang masih duduk di bangku SMP sudah menjadi mucikari kelas teri.
Rencananya lokalisasi tersebut akan diubah menjadi gedung multi-fungsi berlantai enam. Lantai dasarnya digunakan sebagai area sentra PKL, lantai dua untuk aneka jajanan dan makanan, lantai tiga dan empat untuk perpustakaan dan komputer. Untu lantai lima difungsikan sebagai taman bermain dan lantai paling atas dijadikan sebagai Balai RW.
Wali kota perempuan pertama di Kota Pahlawan ini, mengaku telah menganggarkan dana sekitar Rp 9 miliar untuk realisasi mega-proyek tersebut. Dan tak kalah penting, di sekitar gedung juga akan dibangun taman-taman indah.
Adapun deklarasi penutupan dilangsungkan di Gedung Islamic Center Jalan Dukuh Kupang, Surabaya. Kegiatan ini didukung kurang lebih 50an ormas islam. Meskipun demikian, penutupan Dolly sebelumnya mengundang pro dan kontra. Sebab, terdapat sejumlah kalangan yang mengkhawatirkan dampak ekonomi sosiologis akibat kebijakan ini. Secara ekonomis, lebih dari 2000an PSK akan kehilangan pekerjaan dan akan menjadi pengangguran. Namun anggapan ini ditepis oleh pemerintah, sebab sebelum penutupan telah lama dilaksanakan pelatihan-pelatihan keterampilan terhadap para PSK tersebut. []






Related Posts

0 Komentar: