Apa itu Elektabilitas?

shares |

Sebagaimana diketahui pilpres yang akan diselenggarakan pada 9 Juli 2014 mendatang kini mengerucut pada dua kandidat pasangan calon. Yaitu pasangan nomor urut 1 Prabowo Subianto berpasangan dengan Hatta Rajasa, sedangkan pasangan nomor urut 2 adalah pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK). Masing-masing pasangan calon diusung oleh partai-partai pendukungnya, di kubu Prabowo-Hatta diusung diantaranya partai Gerindra, PAN, PPP, PKS, dan Golkar. Sedangkan kubu Jokowi-JK diusung oleh partai PDI-P, Nasdem, PKB, dan PKPI.
Sebagian besar kalangan menyatakan bahwa pilpres tahun ini lebih istimewa dari pilpres-pilpres sebelumnya. Selain dikarenakan pasangan yang akan bertarung hanya dua pasangan, pilpres tahun ini diklaim memiliki kekuatan lebih berimbang. Meskipun demikian, potensi pilpres satu putaran sangat besar dikarenakan angka golput kemungkinan sangat kecil. Olehs sebab itu negara bisa menghemat beberapa triliun rupiah untuk memangkas biaya logistik kertas suara dll.
Salah satu faktor yang menentukan kemenangan pasangan capres cawapres dapat dilihat melalui beberapa indikator, salah satunya adalah tingkat elektabilitas. Perang opini yang dibangun masing-masing kubu untuk memengaruhi pilihan rakyat merupakan hal yang tidak dapat terhindarkan. Kampanye yang santun dan elegan mungkin saja dapat menaikkan tingkat elektabilitas. Meski demikian di satu sisi kemunculan tokoh yang menjadi capres cawapres yang terlalu sering di media dapat pula justru mengurangi tingkat elektabilitas. Lantas apa yang dimaksud dengan elektabilitas? 

Pengertian Elektabilitas
Elektabilitas berdasarkan informasi terpercaya yang dihimpun adalah tingkat keterpilihan yang disesuaikan dengan kriteria pilihan. Elektabilitas bisa diterapkan kepada barang, jasa maupun orang, badan atau partai. Elektabilitas sering dibicarakan menjelang pemilihan umum. Elektabilitas partai politik berarti tingkat keterpilihan partai politik di publik. Elektabilitas partai tinggi berarti partai tersebut memiliki daya pilih yang tinggi. Untuk meningkatkan elektabilitas maka objek elektabilitas harus memenuhi kriteria keterpilihan dan juga populer.
Orang yang memiliki elektabilitas tinggi adalah orang yang dikenal baik secara meluas dalam masyarakat. Ada orang baik, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi karena tidak ada yang memperkenalkan menjadi tidak elektabel. Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat. 
Elektabilitas berbeda dengan popularitas. Popularitas adalah tingkat keterkenalan di mata publik. Meskipun populer belum tentu layak dipilih. Sebaliknya meskipun punya elektabilitas sehingga layak dipilih tapi karena tidak diketahui publik, maka rakyat tidak memilih. Untuk meningkatkan elektabilitas maka sangat tergantung pada teknik kampanye yang dipergunakan. Dalam masyarakat yang belum berkembang, kecocokan profesi tidak menjadi persoalan. Yang perlu diingat, tidak semua kampanye berhasil meningkatkan elektabilitas. Ada kampanye yang menyentuh, ada kampanye yang tidak menyentuh kepentingan rakyat. Sementara itu ada kampanye yang berkedok sebagai survei, dengan tujuan untuk mempengaruhi orang yang sulit membuat keputusan dan sekaligus mematahkan semangat lawan.
Berdasarkan informasi di atas, dalam konteks pemilihan presiden elektabilitas bisa digunakan untuk menyebut tingkat keterpilihan capres. Katakanlah misalnya masing-masing pasangan capres-cawapres sama-sama populer, maka elektabilitas yang akan berpengaruh untuk menjadikan mereka menjadi elektabel di masyarakat. []







Related Posts

0 Komentar: