Tuesday, May 20, 2014

Naskah Pidato Pengunduran Diri Presiden Soeharto


Presiden Soeharto merupakan presiden terlama yang menjabat sebagai presiden RI. Beliau memerintah kurang lebih sekitar 32 tahun (1966-1998). Krisis yang melanda Indonesia menyebabkan situasi politik dan ekonomi yang tidak kondusif. Akibatnya gelombang demonstrasi yang dilakukan secara besar-besaran telah menyebabkan jatuhnya korban, salah satunya adalah tragedi Trisakti 12 Mei 1998 yang memilukan. Setelah gagal meyakinkan publik dengan melakukan beberapa resuffle, dan janji politik bahwa akan dilakukan pemilu secepatnya tidak mendapat tanggapan positif, maka Soeharto akhirnya mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Kemudian beliau digantikan oleh wakil presiden pada saat itu, BJ. Habibie.
Berikut merupakan isi naskah pidato pengunduran diri Presiden Soeharto, adapun naskah ditulis oleh Yusril Ihza Mahendra.


PERNYATAAN BERHENTI
SEBAGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut, dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi tersebut perlu dilaksanakan secara tertib, damai dan konstitusional demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII.
Namun demikian kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud, karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut. Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara yang sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Konite Reformasi maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.
Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945, dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan Pimpinan Fraksi-Fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan Pernyataan ini, pada hari ini, kamis 21 Mei 1998.
Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia, saya sampaikan di hadapan Saudara-saudara Pimpinan Dewan Perwakilan rakyat Republik Indonesia yang juga adalah Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Sesuai dengan Pasal 8 UUD-45 maka Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. H. BJ. Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden Mandataris MPR 1998-2003.
Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini, saya ucapkan trima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangannya. Semoga Bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 45-nya. 
Mulai ini hari Kabinet Pembangunan ke VII demisioner dan pada para Mentri saya ucapkan trima kasih.
Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat, maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya Saudara Wakil Presiden sekarang juga agar melaksanakan pengucapan sumpah jabatan presiden di Hadapan Mahkamah Agung Republik Indonesia. 
Jakarta, 21 Mei 1998
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

SOEHARTO

Demikian merupakan naskah pidato pengunduran diri Presiden Soeharto yang disambut suka cita oleh rakyat Indonesia pada saat itu. Dengan demikian era Orde Baru telah berakhir digantikan dengan era reformasi. []

1 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah