Kegeraman terhadap Pedofilia

shares |

“Kegeraman terhadap pelaku kejahatan seksual tidak hanya dikarenakan lemahnya hukum terhadap pelaku kejahatan, tetapi lebih kepada potensi hilangnya masa depan para korban”
Kasus pedofilia di Indonesia sebagaimana dilansir dalam berbagai sumber merupakan yang tertinggi di Asia. Hal ini dikarenakan belum adanya efek jera yang mampu menjerat tersangka kasus tersebut. Bulan lalu publik dikejutkan dengan kasus pelecehan dan kekerasan seksual di JIS, sekarang kembali diguncang kasus yang lebih dahsyat, yaitu kasus Emon, pelaku sodomi di Sukabumi. Informasi terakhir, jumlah korban kini mencapai 140 orang. “Darurat predator anak” adalah tema-tema yang diusung media-media nasional untuk menggambarkan keprihatinan dan menuntut kewaspadaan ekstra tinggi bagi para orang tua, khususnya yang masih memiliki anak seusia sekolah.
Kasus terakhir yang mengemuka di Indonesia ini kemudian disebut sebagai “kasus luar biasa”, dengan demikian mestinya ditindaklanjuti dengan keluarnya produk hukum baru untuk mengupayakan perlindungan bagi anak usia sekolah. Tentu saja kasus pedofilia berbeda dengan misalnya odypus. Jika odypus objeknya adalah orang yang lebih tu, maka pedofilia adalah sebaliknya. Persoalannya adalah dalam hal ini anak-anak sering menjadi korban. Mereka sangat rentan terpengaruh iming-iming beberapa lembar rupiah saja.
Pedofilia dalam teori sosiologi merupakan sebuah perilaku menyimpang di bidang seksual. Kata pedofilia seperti disebutkan dalam wikipedia.org berasal dari bahasa Yunani, paidophilia, pais yang berarti “anak” dan philia yang berarti “cinta yang bersahabat” atau “persahabatan”. Pada mulanya istilah ini digunakan untuk mendefinisikan perilaku seseorang yang cenderung mencintai dan mengimplementasikan daya tarik seksualnya terhadap seseorang berdasarkan umur. Tetapi kini lebih kepada gangguan kejiwaan, dan dapat pula dikatakan sebagai sebuah penyakit, dimana seseorang yang mengidap pedifilia memiliki dorongan seksual yang kuat dan fantasi terhadap anak-anak utamanya mereka yang menginjak masa pubertas dan prapuber. Oleh sebab itu, orang-orang yang mengalami gangguan tersebut cenderung melakukan tindakan kejahatan, yaitu melakukan kejahatan seksual terhadap anak-anak berupa pemaksaan dan kekerasan seksual.
Kegeraman terhadap pelaku kejahatan seksual tidak hanya dikarenakan lemahnya hukum terhadap pelaku kejahatan, tetapi lebih kepada potensi hilangnya masa depan para korban. Anak-anak akan terganggu secara mental, menjadi minder dalam pergaulan, dan berpotensi tertular penyakit-penyakit kelamin dari pelaku kejahatan seksual. Oleh sebab itu, segala bentuk kejahatan-kejahatan seksual, terlebih kepada anak-anak harus diberikan hukuman yang berat.
Berani menerapkan hukuman kebiri?
Berkaca dari pengalaman negara-negara Eropa dalam menangani kasus kekerasan seksual utamanya terhadap anak-anak, beberapa negara Eropa menempuh upaya-upaya ekstrim, yaitu hukuman kebiri. Hukuman ini secara signifikan mampu menurunkan tingkat kejahatan secara drastis, sebab mampu memberikan efek jera bagi pelaku.
Hukuman kebiri pada masa lampau merupakan hukuman yang dilakukan dengan memotong alat kelamin pelaku kejahatan. Sekarang, kebiri dilakukan dengan tindakan bedah atau kimia. Bedah kebiri dilakukan dengan cara memotong kelenjar testis pria. Sedangkan kebiri kimia dilakukan dengan memasukkan obat-obatan penurun hasrat seksual pria.
Berdasarkan sumber yang dilansir vivanews, bedah kebiri atau yang disebut juga orchiectomy adalah pengangkatan sebagian atau seluruh testis pria. Dampak dari tindakan ini adalah menurunnya hasrat seksual seseorang, atau bahkan menjadi hilang. Pengangkatan testis juga menurunkan tingkat dan lama ereksi serta kekuatan seksual. Selain itu, kebiri juga kadang menyebabkan pandangan kunang-kunang, vertigo, rambut rontok dan pertumbuhan payudara.
Pertumbuhan payudara ini diawali dari menurunnya kemampuan seorang pria untuk membuahi dan berujung pada depresi dan stress.
Sedangkan kebiri kimia, dilakukan pertama kali oleh Amerika Serikat dengan melakukan pengebirian kepada para pemerkosa. Caranya dengan menyuntikkan Depo-Provera, sebuah bahan sintetis hormon progesteron, akan mampu mengendalikan hormon testosterone pada pria walaupun tidak mencegah testis memproduksinya.
Negara-negara yang telah menerapakan hukuman kebiri antara lain Polandia, Ceko, Jerman, dan Denmark. Meskipun terdapat beberapa kontra terhadap kebijakan ini negara-negara tersebut tetap bergeming. Berikut beberapa alasan kontra hukuman ini, yaitu Pertama, bedah kebiri di Jerman memiliki efek permanen. Tindakan ini membuat seorang pria kehilangan kemampuan membuahi, yang akhirnya berujung pada gangguan mental seseorang. Kedua, bedah kebiri tidak memenuhi standar internasional. Ketiga, tidak ada jaminan pelaku yang telah dikebiri tidak dapat lagi melakukan tindak kekerasan seksual. Dan keempat, dikhawatirkan praktik ini akan menjadi satu-satunya pilihan bagi pelaku kejahatan seksual, jika tidak ingin dipenjara lama. Nyatanya, protes-protes tersebut tidak menyebabkan hukuman tersebut dihapuskan, justru telah menjadi tren dalam memerangi kasus kekerasan seksual. Bahkan negara tetangga kita, Malaysia sedang menggodog kemungkinan menerapkannya di negeri Jiran.
Di Jerman, Konon hukuman kebiri merupakan hukum peninggalan Adolf Hitler. Hukuman kebiri seringkali dipilih sendiri oleh tersangka kejahatan sebagai upaya untuk meringankan hukuman penjara mereka. Itulah sebabnya Jerman bersikeras untuk tidak menghapus hukuman ini, selain supaya tingkat kejahatan menurun, juga terdapat dalih bahwa hukuman tersebut memang menjadi sebuah pilihan yang dipilih secara sadar oleh para pelaku kejahatan yang meringkuk di penjara. []










Related Posts

0 Komentar: