Isra’ Mi’raj, mukjizat Nabi dan relativitas waktu

shares |

“Musa As tidak mengetahui bahwa tongkatnya mampu berubah menjadi ular besar yang mampu memakan ribuan ular yang diciptakan para tukang sihir Fir’aun. Saat dilempar ke dalam api, Ibrahim As tidak mengetahui bahwa Allah SWT mengubah sifat api  menjadi dingin dan sejuk.”
Perjalanan malam Baginda Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dilanjutkan ke sidratul muntaha merupakan salah satu momentum terpenting umat Islam. Hal ini dikarenakan pada perjalanan tersebut, Rasulullah SAW diperintahkan untuk menyeru kewajiban shalat fardu 5 waktu kepada umatnya.
Kaum kafir quraish menjadikan peristiwa isra’ mi’raj sebagai bahan olok-olok. Bagi mereka peristiwa tersebut semakin menguatkan keyakinan bahwa Muhammad (SAW) memang benar-benar “gila” setelah ditinggalkan dua orang yang selama ini menjadi pelindung dakwahnya, Abu Thalib (pamannya) dan Khadijah (istrinya). Bagaimana mungkin Muhammad mampu mengunjungi Masjidil Aqsa dalam waktu 1 malam saja, sedangkan jarak tersebut terlampau jauh bahkan untuk ditempuh oleh kuda Arab tercepat sekalipun.
Dalam riwayat disebutkan bahwa untuk membuktikan bahwa Muhammad (SAW) tidak “membual” maka mereka meminta Rasulullah mendeskripsikan kondisi Masjidil Aqsa. Rasulullah tidak saja mampu menjawab semua pertanyaan, tetapi juga mampu mengungkapkan secara detil kondisi masjidil Aqsa dengan memuaskan.
Kejadian di atas terjadi dikarenakan kaum kafir Quraish menggunakan logika rasional dan irasional semata. Padahal hal-hal yang berhubungan dengan agama adalah mutlak kehendak Allah SWT. Isra’ Mi’raj adalah peristiwa suprarasional dimana untuk mengimani dan membenarkannya tidak hanya menggunakan pendekatan rasional/irasional, melainkan dengan pendekatan keimanan. Suprarasional inilah yang kemudian lazim disebut sebagai mukjizat.
Mukjizat Allah SWT kepada orang terkasih
Allah SWT mengkaruniakan mukjizat, yaitu keistimewaan kepada nabi dan rasul-rasulnya. Mukjizat dapat terjadi atas kehendak Allah SWT. Mukjizat juga seringkali berlaku hanya sekali saja dan tidak dapat “dilatih” untuk mendapatkannya. Contohnya Mukjizat Allah SWT kepada Nabi Musa As melalui tongkatnya. Musa tidak mengetahui bahwa tongkatnya mampu berubah menjadi ular besar yang mampu memakan ribuan ular yang diciptakan para tukang sihir Fir’aun. maka atas perintah Allah, beliau lemparkan tongkatnya dan terjadilah peristiwa tersebut. Jadi, berubahnya ular yang semula adalah tongkat tersebut mutlak kehendak Allah SWT, bukan kehendak Musa As. Demikian pula ketika beliau dikejar-kejar bala tentara Fir’aun, ia pun tak tahu jika tongkatnya atas kehendak Allah SWT mampu membelah lautan. Maka atas perintah Allah SWT beliau pukulkan tongkat ke laut dan terbuka dua belas jalan menuju seberang.
Nabi Ibrahim As adalah seorang yang selamat dari kobaran api ketika beliau menerima hukuman dari Namrud akibat menghancurkan patung-patung di kuil.  Beliau menebas habis leher berhala-berhala yang kecil dan mengalungkan kapak ke leher patung terbesar. Ia kemudian beralibi bahwa yang melakukan pengrusakan tersebut adalah patung terbesar tersebut. Namrud yang menyadari bahwa patung hanyalah benda mati menertawakan alibi tersebut, bagaimana mungkin patung yang tidak bernyawa tersebut mampu menghabisi patung-patung lainnya, padahal ia sendiri tidak mampu bergerak? Ibrahim As membalikkan logika Namrud tersebut dengan dakwah tauhid, bahwa patung-patung tersebut tidak dapat bergerak, jangankan menyelamatkan para penyembahnya, menyelamatkan dirinya sendiri saja tidak mampu. Oleh sebab itu patung-patung tersebut tidak layak disembah. Begitulah penjelasan Ibrahim yang menyebabkan Namrud murka dan melemparkan Ibrahim ke dalam kobaran api. Saat dilempar ke dalam api, Beliau hanya berpasrah kepada Allah SWT sebagai penolong hambanya. Beliau pun tidak mengetahui bahwa Allah SWT berkehendak lain. Atas kehendak Allah SWT, api berubah sifat menjadi dingin dan sejuk. Sehingga selama 40 hari 40 malam, Ibrahim selamat tanpa terbakar sehelai rambut pun. Inilah yang dimaksud dengan mukjizat. Jadi jika sekarang ada seorang yang mampu tidak terbakar dalam kobaran api, itu bukanlah mukjizat karena ia mendapatkannya dengan cara berlatih olah tubuh.
Relativitas waktu Isra’ Mi’raj
Berdasarkan uraian di atas, Isra’ Mi’raj adalah salah satu mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Allah SWT yang berkehendak “memberangkatkan” Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu naik ke Sidratul Muntaha. Allah SWT sendiri lah yang mencukupkan waktu perjalanan tersebut. Sebab tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Kemustahilan hanyalah keterbatasan akal pikiran manusia.
Waktu berlangsung dengan sangat relatif. Pernahkah Anda merasa sedang bermain begitu lama dari pagi hingga sore hari, melakukan banyak hal, menemui banyak orang, dll, padahal saat itu Anda sedang bermimpi melalui tidur yang hanya berlangsung 30 menit saja? Inilah kebesaran Allah SWT, menciptakan segala sesuatu dengan sangat sempurna. Begitu pula dengan Isra’ Mi’raj Baginda Nabi Muhammad SAW. Disaat penduduk Mekah tertidur lelap, Beliau bersafari ketempat yang begitu jauh, menyaksikan beragam peristiwa spiritual, diperlihatkan keadaan umat-umat terdahulu, melihat surga dan neraka, hingga berdialog dengan Allah SWT untuk menerima perintah shalat. Allah SWT lah yang mencukupkan waktunya. Satu hal yang paling penting, Isra’ Mi’raj bukanlah sebuat mimpi Rasulullah, tetapi benar-benar terjadi atas kehendak Allah SWT. []








Related Posts

1 Komentar: