Simbol-simbol pada Masjid Agung Demak (part 2)

shares |

Bangunan masjid Agung Demak merupakan peninggalan sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari proses perkembangan Islam di Jawa Tengah. Masjid Agung Demak menggabungkan unsur-unsur seni bangunan Islam dengan pra Islam (budaya asli). Hal ini membuktikan bahwa proses Islamisasi di Jawa berjalan dengan damai.
Masjid Agung Demak sebagai peninggalan Kerajaan Demak memperlihatkan ornamen dan arsitektur yang menarik. Tak hanya itu, setiap bangunan Masjid Agung Demak mempunyai makna yang terkandung di dalamnya. Adapun beberapa contoh bagian-bagian Masjid Agung Demak tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mimbar Majapahit
Mimbar majapahit terletak di depan Masjid Agung Demak. Di mimbar ini terdapat delapan soko guru dari kayu berukir motif Majapahit. Delapan soko guru ini bertumpu pada umpak yang terbuat dari batu andesit. Mimbar Majapahit pada mulanya digunakan sebagai tempat padepokan.
image
Menurut cerita konon Prabu Kertabumi Brawijaya V, ayahanda Raden Patah, menganugrahi sebuah pendopo ke Demak saat Raden Patah diwisuda menjadi adipati Notoprojo (di dalam wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit di Glagahwangi 1475 M). Dalam rangka merehabilitasi dan memperluas bangunan masjid, kemudian pendopo tersebut dialihfungsikan menjadi serambi Masjid Agung Demak.
2. Soko Guru
Soko guru merupakan tiang penyangga utama pada Masjid Agung Demak. Sunan Kalijaga merupakan pemimpin dalam pembuatan soko guru. Beliau membuat soko guru di bagian timur laut, Sunan Bonang membuat soko guru di bagian barat laut, Sunan Ampel membuat soko guru di bagian tenggara dan Sunan Gunungjati membuat soko guru sebelah barat daya.
Soko guru yang dibuat Sunan Kalijaga memiliki cerita tersendiri di masyarakat, konon soko guru yang tingginya tiga meter dengan garis tengah 1,45 meter tidak sama panjang sehingga membutuhkan sambungan. Sunan Kalijaga kemudian menyusun sisa-sisa kayu yang diikat menjadi satu sepanjang kekurangannya agar keempat soko guru menjadi sama panjang. Soko guru yang dikenal sebagai soko tatal ini menjadi legenda di masyarakat hingga sekarang.
image
Makna dari empat soko tersebut adalah para wali pada abad XV telah menganut paham madzab Syafi’i dengan Ahlusunnah Waljamaah. Sedangkan tatal yang dibuat oleh Sunan Kalijogo tersebut mempunyai makna yaitu persatuan umat Islam.
3. Bulus
Masjid Agung Demak didirikan pada tahun saka 1401, berdasarkan gambar Bulus  yang terdapat dalam pengimaman masjid. Gambar Bulus diartikan kepala bulus berarti angka 1, kaki empat berarti angka 4, badan bulus berarti 0, ekor bulus berarti angka 1. Bulus merupakan candrasengkala Memet, yang diartikan Sasiro Sunyi Kiblating Gusti. Tahun tersebut juga bisa dikatakan sebagai peringatan purna pugar masjid kasultanan pimpinan Sultan Raden Abdul Patah sayyidin Panotogomo, yang menduduki tahta kerajaan Islam si pulau Jawa 1400 Saka (1478 M), terkait runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala “sirno ilang kertaning bumi”.
image
Pada bagian luar terdapat haisan dari porselen yang merupakan hadiah dari kerajaan Islam Campa. Bagian dinding luar pengimaman terdapat jenis hiasan, antara lain kaligrafi Ilahiyah tulisan Majapahit yang mengapit surya majapahit, yang terdapat pada bagian sandaran belakang mimbar Khotbah (damper kencana) di dalam masjid agung Demak. Makna dari Surya Majapahit adalah delapan sifat kepemimpinan kasultanan Bintoro Demak yang melambangkan suatu kegemilangan kerajaan.
image
4. Dampar Kencana
Dampar kencana ini pada zaman kerajaan Demak digunakan sebagai tahta atau tempat duduk raja. Bentuknya sangat indah, tentu saja hal ini menunjukkan seni budaya yang telah tinggi pada waktu itu dan status sosial bagi yang mendudukinya. Dampar kencana memiliki lukisan dan ukiran yang serupa atau sama dengan corak pintu bledeg yakni ukiran ular naga dan bebungaan atau dedaunan (bunga teratai). Menurut cerita, dampar kencana ini adalah hadiah yang diberikan kepada Raden Patah oleh Prabu Kerta Bumi saat raden Patah dilantik menjadi adipati Notoprojo di Glagah Bintoro Demak.
image
Fungsi dari dampar kencana sekarang ini adalah menjadi mimbar khotbah di Masjid Agung Demak. Adapun makna yang terkandung dalam dampar kencana ini orang yang duduk atau menempatinya adalah orang yang dihormati.
5. Pasujudan (bertarikh 1287 H)
Pasujudan atau Khalwat atau maksuroh (gambar 8) dibangun oleh KRMA Aryo Purbaningrat. Berdiri berpasangan dengan mimbar khotbah (Dampar Kencana). Khalwat ini bernilai seni tinggi, Indah dan mempesona, karena tiang dan dindingnya terbuat dari kayu jati berukir krawangan, gambar jambangan, bunga-bunga dan sulur-suluran.
image
Khalwat ini mempunayai sepuluh buah jendela dan dua buah pintu yang semua diberi kaca kembang berwarna warni. Diatas pintu dan jendela diukir kaligrafi berbahasa Arab yang intinya memuliakan keesaan Allah. []
Sumber gambar: Semua gambar pada artikel ini merupakan koleksi pribadi M. Rifai Fajrin.























Related Posts

0 Komentar: