Simbol-simbol pada Masjid Agung Demak (Part 1)

shares |

IMG_3031
Bangunan Masjid Agung Demak merupakan peninggalan sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari proses perkembangan Islam di Jawa Tengah. Masjid Agung Demak menggabungkan unsur-unsur seni bangunan Islam dengan pra Islam (budaya asli). Hal ini membuktikan bahwa proses Islamisasi di Jawa berjalan dengan damai.
Masjid Agung Demak sebagai peninggalan Kerajaan Demak memperlihatkan ornamen dan arsitektur yang menarik. Tak hanya itu, setiap bangunan Masjid Agung Demak mempunyai makna yang terkandung di dalamnya. Adapun beberapa contoh bagian-bagian Masjid Agung Demak tersebut adalah sebagai berikut:
1. Atap Tumpang Tiga
Masjid Agung Demak memiliki bentuk yang khas, yaitu memiliki atap tumpang tiga. Makna simbolis pada setiap tumpang ini menunjukkan hierarki pada setiap atapnya. Atap pertama menunjukkan iman, atap tumpang kedua menunjukkan islam, dan tumpang yang ketiga adalah ihsan. Sedangkan puncak/mustoko ditafsirkan bahwa kekuasaan tertinggi diyakini hanyalah kehadirat Allah SWT.
image
sumber gambar: dokumentasi pribadi M. Rifai Fajrin
2. Gapura
Gapura Masjid Agung Demak diciptakan oleh para wali berbentuk mirip candi dengan corak budaya Hindu-Budha. Hal ini dimaksudkan agar gapura tersebut dapat menarik hati masyarakat Demak dan sekitarnya yang saat itu masih beragama Hindu-Budha untuk masuk agama Islam. Makna simbolisnya adalah gapura berasal dari kata “ghofur” yang artinya ampunan. Sehingga setiap orang yang masuk ke masjid memperoleh ampunan Allah SWT.
3. Pintu dan Jendela
Pintu dan jendela masjid Agung Demak dibuat oleh para wali dengan memadukan budaya Jawa dan Hindu-Budha dengan jumlahnya disesuaikan dengan makna yang terkandung dengan atap Masjid Agung Demak. Pintu Masjid Agung Demak ada lima yang mengandung makna rukun Islam yaitu (1) membaca dua kalimat syahadat, (2) shalat, (3) zakat, (4) puasa, (5) haji bila mampu. Jendela masjid jumlahnya ada enam buah yang mengandung makna Rukun iman yaitu (1) iman kepada Allah, (2) iman kepada malaikat, (3) iman kepada kitab-kitab Allah, (4) iman kepada nabi dan Rasul Allah, (5) iman kepada hari akhir, (6) iman kepada Qodho dan Qodar. Jadi pintu dan jendela mempunyai latar belakang memeberikan pendidikan ajaran Islam berupa rukun Iman dan rukun Islam.
4. Pintu Bledeg
Masjid Agung Demak didirikan pada tahun Saka 1388 berdasarkan candrasengkala (Naga mulat salira wani) yaitu gambar petir yang ada di pintu tengah yang disebut pintu bledeg (gambar 3). Menurut cerita, petir yang digambarkan kepala naga ini adalah sosok kakek yang menggangu Ki Ageng Selo yang sedang mencangkul. Ki Ageng Selo adalah putra Bondan Kejawan yang beristri Dewi Nawangsih, putra putrinya Jaka Tarub, suami bidadari kahyangan yang dinamakan Dewi Nawang Wulan.
Walaupun sudah diperingatkan untuk tidak mengganggu, kakek tersebut tetap mengganggu dan berubah menjadi ular naga dan terjadilah perkelahian. Naga tersebut berhasil ditangkap oleh Ki ageng Sela. Sunan kalijaga yang merupakan gurunya mengetahui hal tersebut, sehingga memerintahkan Ki Ageng untuk membawa naga tersebut ke Demak. Naga tersebut dilukis pada daun pintu, namun sewaktu proses tersebut datanglah seorang nenek yang menyiramkan air ke Ki Ageng Selo, sehingga naga tersebut lepas. Sebelum lepas Ki ageng Selo sempat melukis kepala naga tersebut. Waktu itu banyak orang ingin melihat petir tersebut, sehingga sunan Kalijigo memperlihatkan gambar naga tersebut dan mengatakan inilah petir yang ditangkap Ki Ageng Selo.
image
Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi M. Rifai Fajrin
Makna yang terkandung dalam pintu bledeg ini adalah bahwa jika seorang hendak masuk ke dalam masjid tidak bersuara keras yang identik dengan suara petir yang menggelegar. [] 

Kelanjutan dari artikel ini dapat anda baca di sini.













Related Posts

0 Komentar: