Thursday, April 3, 2014

SEKELUMIT TENTANG KERAJAAN DEMAK DAN MASJID AGUNG DEMAK


Pada artikel sebelumnya Anda telah membaca sekelumit tentang pengaruh Islam di Nusantara. Pada pembahasan kali ini akan dipaparkan tentang sejarah Kerajaan Demak dan Masjid Agung Demak.
Sejarah Kerajaan Demak
Kerajaan Demak berdiri kurang lebih mulai tahun 1500-1550 M. Kerajaan Demak didirikan oleh seorang Bupati Majapahit bernama Raden Patah yang berkedudukan di Demak dan memeluk agama Islam. Menurut tradisi seperti yang tercantum pada historiografi tradisional Jawa, Raden Patah adalah seorang putra raja Majapahit dari istri Cina yang dihadiahkan kepada raja Palembang (Kartodirdjo,1999:29). Dengan bantuan daerah-daerah lain di Jawa Timur yang sudah masuk Islam ia mendirikan kerajaan Islam dengan Demak sebagai pusatnya (Soekmono,1981:52).
Demak mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1511 M, ketika putra Raden Patah memberanikan diri untuk memimpin sebuah armada menggempur Malaka untuk mengusir Portugis. Tetapi usaha itu gagal, armada Portugis ternyata lebih unggul. Ketika Raden Patah wafat pada tahun 1518, Pati Unus menggantikannya menjadi Sultan. Tetapi tiga tahun kemudian Pati Unus meninggal dan ia dikenal dengan nama Pangeran Sabrang Lor. Penggantinya adalah Pangeran Trenggono yang memerintah sampai tahun 1546 M (Soekmono,1981:53).
Masjid Agung Demak merupakan salah satu benda cagar budaya peninggalan Keraton Kesultanan Demak. Unsur-unsur budaya Islam yang melekat di Demak menjadikan pemerintah menetapkan Demak sebagai “kota wali’ berdasarkan UU RI No. 5/tahun 1992, adapun Masjid Agung Demak dinyatakan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Peraturan Pemerintahan/PP. No. 10/tahun 1993 (doc. Takmir Masjid Agung Demak, 2004).
Sejarah Masjid Agung Demak
Masjid merupakan bangunan yang berfungsi sakral sebagai tempat peribadatan umat Islam. Masjid diartikan sebagai rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 2007). Masjid dalam pengertian yang luas adalah setiap sejengkal tanah dimuka bumi dapat digunakan sebagai tempat bersujud kepada Allah. Dalam pengertian sempit, mesjid berarti sebuah bangunan sebagai tempat beribadah kepada Allah dan merupakan pusat kebudayaan Islam (Soekmono, 1981: 75)
Masjid-masjid di Indonesia pada zaman madya memiliki berbagai hal yang menarik perhatian dan ciri khusus pada masjid. Biasanya masjid didirikan di sekitar ibukota kerajaan atau tempat berkedudukannya seorang adipati. Masjid biasanya didirikan dekat dengan istana. Dan disebelah Utara atau Selatan istana terdapat tanah lapang yang di Jawa disebut alun-alun. Maka masjid tersebut didirikan di tepi barat alun-alun (Poesponegoro, 1993: 220). Ciri-ciri tersebut juga terdapat dalam Masjid Agung Demak. Dengan demikian dapatlah diperoleh pemahaman bahwa Masjid Agung Demak mewakili model masjid pada zamannya, yaitu pada masa zaman madya.
Masjid bersejarah ini dibangun melalui tiga tahapan yaitu, 1) semula disebut Masjid Glagahwangi, karena terletak di tengah Pondok Pesantren Glagahwangi yang diasuh dan dipimpin oleh Sunan Ampel yang didirikan tahun 1466 M, 2) setelah Raden Patah diangkat menjadi Adipati Majapahit di Galgahwangi 1475 M, kemudian masjid dilakukan rehabilitasi berat, sejak itu disebuat Masjid Kadipaten Galagahwangi 1477 M, 3) selanjutnya setelah direnovasi disebut Masjid Kasultanan Bintoro sejak 1479 M, setelah Raden Patah disengkuyung oleh Waliyullah untuk menduduki tahta kesultanan I di Pulau Jawa 1478 M (Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2005 A: 2007).
Berdasarkan dokumentasi takmir Masjid Agung Demak tahun 2004, setidaknya terdapat beberapa benda arkeologis warisan kerajaan Demak, diantaranya; 1) Masjid konstruksi kayu beratap tumpang tiga, 2) delapan tiang serambi Majapahit, 3) Bedug dan kentongan, 4) Kolam wudhu tempo dulu, 5) dampar kencana, 6) pintu bledheg, 7) gentong kong, 8) piringan keramik, 9) cungkup Sultan Trenggono konstruksi kayu bentuk atap piramida susun dua, 10) Simbul/logo kesultanan Demak, 11) pawestren/musholla wanita, 12) glaslood, 13) Maksurah/kholwat, 14) kaligrafi/ilahiyah, 15) menara azan. []

artikel berikutnya tentang simbol-simbol yang terdapat pada masjid Agung Demak dapat anda baca di sini.
Kepustakaan:
Dokumentasi Takmir Masjid Agung Demak. 2004. Museum Masjid Agung Demak, Jawa Tengah.
Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2005 A. 2007. “Pesona Masjid Agung Demak sebagai Daya Tarik Wisata Keagamaan (pilgrim)”. Laporan Kuliah Kerja Lapangan II. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Poesponegoro, Marwati Djoned dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka.
Soekmono, Dr. 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Kanisius.
Tim Penyusun. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Jakarta: Balai Pustaka.













0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah