Konsep Pendekatan Scientific dalam pembelajaran Sejarah

shares |

Kurikulum 2013 hampir pasti diselenggarakan di seluruh sekolah baik negeri maupun swasta mulai tahun ini. Sehingga diharapkan pada tahun 2016 dapat diselenggarakan ujian nasional secara serentak menggunakan kurikulum baru tersebut. Saat ini, penerapan kurikulum 2013 masih terbatas dilaksanakan pada sekolah-sekolah piloting project (sekolah-sekolah yang dipilih pada setiap daerah sebagai pelaksana awal kurikulum). Sebagai contoh, di Kabupaten Kendal, terdapat lima sekolah piloting diantaranya SMAN 1 Kendal, SMAN 1 Kaliwungi, SMAN 1 Weleri, SMAN 1 Boja, SMAS Pondok Modern Selamat.
Mata pelajaran sejarah adalah satu dari 3 mata pelajaran yang mengalami perubahan secara signifikan. Yaitu terkait dengan perubahan jumlah jam pelajaran serta konsep pembelajaran sejarah itu sendiri. Perubahan jumlah jam pelajaran tentunya membuat para guru sejarah menyungging senyum. Hal ini dikarenakan jumlah jam pelajaran sejarah pada kurikulum 2013 mengalami peningkatan, yang semula hanya 2 jam pelajaran untuk kelas X, saat ini bisa mencapai 6 jam pertemuan perminggunya. Tidak heran di beberapa sekolah utamanya swasta ramai-ramai membuka lowongan guru sejarah. Berkaitan dengan konsep pembelajaran sejarah, kurikulum 2013 menggunakan konsep pendekatan scientific.

Pendekatan Scientific
Sebagaimana diketahui, kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran meliputi enam hal, yaitu mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah menyajikan (membuat jejaring), dan  menyimpulkan/mencipta tulisan ilmiah. Secara sederhana, saya ingin menguraikan tahap-tahap tersebut.
1.      Pada tahap mengamati, (metodenya disebut metode mengamati/meaningfull learning) siswa disajikan suatu media/objek untuk membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik. Diharapkan peserta didik merasa tertantang untuk melakukan eksplorasi dengan objek yang disajikan. Dapat dikatakan bahwa pada tahap ini merupakan kunci awal terhadap proses selanjutnya. Keaktifan siswa tergantung dari menarik tidaknya objek yang disajikan. Berdasarkan pengalaman saya mengikuti workshop kurikulum 2013, banyak peserta menggunakan media power point dengan objek gambar sejarah untuk membangkitkan minat siswa dalam pembelajaran. Perlu difahami bahwa dalam tahap mengamati, tidak harus berupa power point/objek gambar, tetapi bisa juga menggunakan alat peraga (misalnya cobek untuk menjelaskan tentang zaman batu pada masa prasejarah), atau mengajak siswa menyelami sebuah artikel. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Pada akhirnya, hasil yang diharapkan dari tahap mengamati ini adalah peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.
2.      Menanya, merupakan proses dimana siswa diharapkan terbiasa untuk berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul dari hasil pengamatan. Hal ini memang membutuhkan proses, tetapi guru hendaknya senantiasa bersabar dan selalu memiliki keinginan dan dorongan kuat untuk membangkitkan daya nalar siswa dalam mengajukan pertanyaan. Apabila siswa telah terbiasa dengan proses ini maka hasil yang diharapkan adalah siswa mampu berpartisipasi dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir,  dan menarik  simpulan. Kegiatan menanya adalah kegiatan yang mampu membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Disamping itu, mampu membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
3.      Menalar pada kurikulum 2013 merupakan padanan dari associating, bukan terjemahan reasoning. Penalaran (Penalaran Ilmiah) merupakan proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Tahap ini merupakan tahap yang penting bagi siswa, hal ini dikarenakan guru akan mampu mengetahui kemajuan yang dialami oleh siswanya. Inilah alasan mengapa dalam kurikulum 2013, guru diharapkan tidak banyak melakukan ceramah di dalam kelas, melainkan mencatat perkembangan dan keaktifan siswa. Sekali lagi, proses ini memang tidak mudah, apalagi bagi yang belum melaksanakan, tetapi yakinlah bahwa siswa senantiasa akan berproses. Sebagaimana diungkapkan dalam artikel saya yang telah lalu, biarkanlah siswa menikmati proses ilmiah yang dia alami di dalam kelas. Adapun teknik menalar yang dapat digunakan misalnya adalah menalar secara deduktif, maupun secara induktif. Dalam hal ini hendaknya guru mampu mengoreksi dan memperbaiki kesalahan siswa.
4.      Mencoba, adalah tahap dimana siswa berusaha untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik. Juga diharapkan mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah. Sebagaimana diketahui bahwa kurikulum 2013 mengembangkan tiga hal, yaitu pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Dalam hal ini, pembelajaran sejarah di SMA mengutamakan keseimbangan antara tiga hal tersebut. Dalam proses mencoba, harus dipadukan ketiga hal tersebut. Siswa diharapkan dapat mengambil pelajaran, dapat mengambil hikmah untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari dari peristiwa sejarah. Semua peristiwa sejarah tentu memiliki nilai yang dapat memberi inspirasi untuk mengembangkan sikap, ketrampilan, dan pengetahuan peserta didik.
5.      Membuat jejaring/kolaborasi, merupakan tahap dimana guru bertindak sebagai mediator dalam belajar. Dapat juga dikatakan bahwa guru bersifat direktif atau manajer belajar, sehingga diharapkan dalam membuat jejaring, yang lebih aktif adalah peserta didik. Membuat jejaring adalah usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan belajar bersama. Teknik yang dapat digunakan adalah siswa melakukan presentasi di depan kelas secara bergantian menyampaikan hasilnya dalam proses mencoba pada tahap sebelumnya. Tentu saja sebelumnya dapat dicapai terlebih dahulu beberapa kesepakatan mengenai beberapa aturan dalam melaksanakan presentasi. Hasil yang dapat dicapai adalah adanya proses informasi dari para peserta didik yang heterogen. Selain itu, dalam tahap ini dapat pula diterapkan berbagai metode pembelajaran kolaboratif, misalnya dengan jigsaw, teams games tournament, group investigation, dan beberapa metode lainnya.   
6.      Guru bersama siswa dapat membuat simpulan hasil pembelajaran.
Demikan sekelumit tentang pendekatan scientific dalam pembelajaran sejarah pada kurikulum 2013. Semoga bermanfaat, utamanya bagi Anda, guru sejarah. []

Related Posts

0 Komentar: